Cinta Aceh dari Kanada

Mutia Elviani. Foto: habadaily.com

Pagi itu, kantin al Jamiah di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh ramai dikunjungi mahasiswa. Hiruk pikuk terdengar diseluruh penjuru kantin itu.

Obrolan santai yang ditekuni mahasiswa, tenaga pengajar, dan pegawai di kampus itu sudah seperti ritual setiap pagi. Meski cuaca sedang tidak bersahabat dan meski hanya sekedar untuk sarapan dan menunggu jadwal kuliah, kantin itu tetap menjadi favorit penghuni kampus.

Di sudut kiri kantin, dua wanita dan seorang pria sedang asyik mengobrol. Satu diantara wanita itu menggunakan jeans biru dipadu rok hitam, tampak serasi dengan cuaca pagi itu. Dialah Mutia Elviani, gadis kelahiran 13 Januari 1992 baru saja pulang dari Kanada.

Wajah ovalnya, semakin terlihat bulat saat Ia senyum sumringah, behel yang tertempel di gigi bawah menambah pesona gadis kelahiran Ajun, Aceh Besar ini. Logat Acehnya pun sesekali keluar ketika berbicara.

Mutia berangkat ke Kanada bukan hendak berlibur, juga bukan untuk berwisata. Akan tetapi keberangkatannya ke Kanada pada 26 September 2014 lalu sebagai delegasi Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN), program Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

Ia dan seorang perempuan Kanada yang juga mengikuti program serupa bernama Barbara, tinggal bersama keluarga Stokdjik di Truro, Halifax, Nova Scotia, Kanada.

Di sana Mutia melakukan berbagi kegiatan, salah satunya bekerja di Cobequid Consoliated Elementary School.

Ia kagum saat melihat anak sekolah yang setiap pagi berdiri di depan kelas untuk menyanyikan lagu kebangsaan Kanada. Hal ini menurutnya tidak banyak dilakukan di Indonesia.

Guru juga sangat menjaga kenyamanan siswa. Agar pendidikannya bermutu dan meningkatkan kenyamanan siswa, dalam satu ruang terdapat dua guru, satu pengajar dan satu lagi mengawasi  siswa. Apabila ada siswa yang membutuhkan bantuan, guru pengawas siap membantu.

“Di sana juga ada dapur umum untuk siswa yang belum makan,” kata Mutia.

Selama di Kanada, Mutia juga aktif di Project Fund Rising, salah satu program peduli sosial. Tujuannya mengumpulkan dana untuk memberi bantuan ke negara yang membutuhkan uluran tangan.

Ada kisah lain yang membuat dia bangga dengan Aceh. Itu saat Mutia memperagakan tarian saman. Tarian tradisional Aceh yang lahir di Gayo Lues dan telah diakui oleh Unesco.

“Masyarakat Kanada sempat terpukau, menurut mereka tarian saman sangat energik dan penuh semangat,” ungkapnya.

Mutia pun menceritakan banyak hal yang Ia dapatkan selama berada di Kanada. Beberapa detik, dia sempat terdiam. Alisnya mulai berdekatan. 

Di sana, orang sangat menghargai perbedaan. “Mutual Understanding”, istilah Mutia Elviani sebutkan. “Saya melihat ketika kita menghargai orang lain, orang di Kanada akan jauh lebih menghargai kita,” jelasnya.

“Ketika di sana, jangan takut berkomunikasi,” Ia mengingatkan.

Masyarakat Kanada sangat menjaga privasi, kehidupan mereka sangat terstruktur. Setiap harinya mereka buat schedule kegiatan. Masyarakat juga sangat peka dengan kehidupan sosial. Terbukti dengan adanya Food Bank, tempat di sediakan makanan gratis bagi orang yang membutuhkan.

Selama berada di sana, Ia mengaku seperti keluar dari zona aman. Kendati demikian, banyak hal luar biasa yang Ia dapat di Kanada. Gadis 23 tahun ini juga tidak lupa mengajarkan masyarakat Kanada mengenai budaya Indonesia.

***

Kisah Mutia Elviani tidak serta merta terjadi begitu saja. Dulu, waktu masih sekolah di MTsN Model Banda Aceh. Mutia terkenal pendiam di kelasnya.

Pernah Ia mengalami pengalaman pahit saat berbahasa Ingris. Pengalamannya  pernah salah berbicara bahasa Inggris saat masih kelas satu, membuat seisi ruangan menertawakan Mutia. Namun, tidak membuat dia patah arang untuk terus belajar.

“Saya malu karena tidak bisa bahasa Inggris,” aku Mutia.

Semenjak kejadian itu, Ia mulai masuk les. Berbagai prestasi pun Ia raih, lihat saja saat Mutia lanjut ke SMA 1 Banda Aceh. “Paling jauh rangking 4,” bangganya.

Setelah melanjutkan pendidikan di  Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UIN Ar-Raniry. Ia semakin termotivasi dengan kisah luar negeri yang di ceritakan dosen dan kakak leting di kampusnya.

Ia bertekad, sebelum selesaikan S-1 harus sudah ke luar negeri.  Organisasi pun menjadi pos baru bagi mahasiswi leting 2010 ini.  Komunitas ACCES merupakan tempat pertama kali Ia mendengar kabar tentang PPAN.

Setelah mencari informasi tentang PPAN, Mutia memutuskan ikut program SSEAYP (Ship for South East Asia Youth Program). Ia termotivasi karena bisa keliling negara Asia Tenggara naik kapal pesiar.

Setelah memupuk semangat, tahun 2012 tes pertama Mutia, saat itu masih semester III. Ia rela tidak masuk kuliah demi ikut tes PPAN pagi itu. Beban bertambah dengan midterm phonology pada siangnya. Rasa senang pun menghujam dirinya ketika mengetahui Ia masuk dalam 10 besar.

Namun, Ia harus berlapang dada setelah hanya mampu berada di peringkat tiga pada program SSEAYP, sedangkan yang berangkat untuk ikut program tersebut hanya peringkat satu.

“Pulang dari sana, saya langsung tulis di buku saya : Mutia Elviani the next partisipan youth Kanada program,” ujar Mutia, semangat mulai terpancar dari ekspresi dan gerak tubuhnya.

Ia memberanikan diri menulis kata itu. Buku Ranah 3 Warna merupakan saksi bisu. Motivasi juga Ia dapatkan dari buku karya Ahmad Fuadi itu. “Kebetulan ceritanya mirip dengan saya,” celotehnya.

Ia  terus mengincar PPAN sampai terbawa mimpi. Kanada merupakan tujuan baru Mutia dalam program Kemenpora itu.

Semester 4 waktu yang padat baginya. Kuliah, tugas kampus, mengajar, dan bergelut dalam organisasi menjadi rutinitas Mutia sehari-hari. Sadar akan kekurangannya, Ia kemudian memutuskan Masuk Unit Kegiatan Mahasiswa Sanggar Seni Seulaweuet UIN Ar-Raniry untuk belajar tari.

Setiap minggu Ia pergi ke rumah seorang native speaker yang bernama Cherry, bertempat di Lingke. Berpacu dengan waktu pun tidak dapat di hindari. 

Meski punya rutinitas yang sibuk Ia tidak pernah merasa capek, malahan tambah semangat.

Semester  V, bulan Maret 2013 kembali di buka tes PPAN.  Persiapan dan harapan, semangat dan keyakinan, kembali melebur. Menjelang tes, rasa panik setiap hari menghampirinya. “Walaupun saya yakin, tapi saya tetap takut,” kenangnya.

Sama seperti sebelumnya, Ia kembali masuk 10 besar. Hari kedua tes PPAN, Ia sempat pasrah akibat bayang-bayang kata tidak lulus saat di wawancara, tapi hanya sesaat hingga pengumuman berlangsung.

Air mata mulai membasahi pipi Mutia. Rasa senang, lega, puas melanda gadis ini, ketika mendengar Ia menempati peringkat satu dan bisa pergi ke Kanada. “Saat itu saya nangis, juri juga nangis karena terharu,” kenangnya.

Melalui PPAN, salah satu cita-cita Mutia terwujud, yaitu berjumpa dengan pemuda dari seluruh provinsi yang ada di Indonesia.

“Setelah kakak ikut program itu (PPAN), kakak lebih cinta dengan Aceh dan Indonesia karena banyak hal yang ada di sini tapi gak ada di Kanada,” tutur dara Aceh ini.



Abd Hadi

Post a Comment

Instagram