Imlek di Negeri Syariat

Etnis Tionghoa di Banda Aceh memadati Vihara Dharma Bhakti, Peunayong, Banda Aceh untuk sembahyang pada pergantian tahun baru Imlek 2567. Foto: Abd Hadi F
Toleransi beragama menjadi isu menarik yang dibahas masyarakat global sejak dulu. Konflik antar agama juga sudah terjadi sejak zaman manusia menolak perbedaan. Bahkan, ada juga negara sekuler seperti Francis dan Turki.

Sepenggal sejarah masa lalu seperti Perang Salib antara umat Islam dan Kristen, konflik internal Katolik hingga melahirkan Protestan, lahirnya agama Budha, Hindu, serta Kong Hu Chu menggambarkan persepsi yang berbeda dalam setiap agama.

Terkadang, masyarakat juga di buat resah dengan perang agama. Sulitnya hidup berdampingan antar umat beragama berefek pada kaum minoritas. Pada umumnya, kaum minoritas di kucilkan.

Negara Indonesia sendiri bisa menjadi acuan sebagai negara yang memberi toleransi dalam beragama. Sila pertama pada Pancasila yang mengatakan bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa, pada dasarnya mewajibkan seluruh masyarakat Indonesia mempunyai Tuhan, apapun agamanya.

Di Aceh khususnya, provinsi ini menerapkan sistem syariat islam pada masyarakatnya. Pasalnya, di Aceh sendiri mayoritas masyarakat beragama Islam. Agama Islam juga di sebut-sebut pertama kali masuk lewat Aceh.

Sekalipun demikian, hidup juga masyarakat yang beragama Kristen, Budha, dan agama lain di Aceh, kendati tidak pernah terjadi kerusuhan antara agama mayoritas dan minoritas. Masyarkat yang hidup dalam agama minoritas ini pun terkesan sangat menghargai agama mayoritas.

Seperti saat bulan Ramadhan misalnya, semua toko-toko makanan yang di kelola agama minoritas tutup, baru pada sore hari mereka membuka toko. Masyarakat mayoritas juga menghargai agama minoritas di Aceh, setiap kali ada upacara atau acara besar agama lain, tidak pernah masyarakat Islam di Aceh membuat rusuh, apalagi meneror.

***

Kamis 19 Februari 2015, masyarakat Aceh etnis Tionghoa merayakan tahun baru Imlek 2566 dengan sejumlah kegiatan, diantaranya pertunjukan Barongsai dan sembahyang di Vihara.

Sejak jam menunjukkan pukul 00.00 WIB, tanda bergantinya hari dari Rabu ke Kamis, masyarakat Aceh yang beragama Kong Hu Chu mulai berdatangan ke Vihara Dharma Bhakti di kawasan Simpang Lima.

Asap dupa dan lilin mulai menyesaki ruangan Vihara itu. Pukul 00.20 WIB, ruangan sudah sesak dengan asap dupa kendati jamaah Kong Hu Chu semakin memadati ruangan itu.

Ratusan orang memadati vihara tersebut. Tidak hanya masyarakat Tionghoa, masyarakat Aceh yang beragama Islam juga ramai di sana. Ratusan Lilin dan dupa beragam ukuran ada di tempat itu.

Beberapa orang mengeluarkan air mata saat sedang berdoa, entah karena terharu menyambut Imlek atau karena perih terkena asap. Sebagian lainnya memilih memakai masker untuk masuk ke ruangan yang penuh asap itu. Tong sampah juga di sediakan di dekat pagar Vihara. Selesai berdoa, biasanya jamaah buang tisu di tempat sampah itu.

Masyarakat Tionghoa datang silih berganti, dupa terus di bakar, percikan dupa juga tampak beterbangan di udara. Tidak sedikit masyarakat Aceh yang menyaksikan perayaan Imlek, terlihat juga wartawan dari berbagai media mengabadikan momen itu.

Namun, ketika jam menunjukkan pukul 02.00 WIB pagi, vihara mulai sepi. Masyarakat yang sedari tadi menonton juga mulai menginggalkan vihara.

Beberapa jam kemudian. Ketika mentari baru saja menampakkan rupanya. Jamaah Kong Hu Chu kembali berdatangan ke Vihara Dharma Bhakti, tentunya yang belum sembahyang dan berdoa dinihari tadi.

Masyarakat Aceh pun kembali mengunjungi vihara itu. Dari anak kecil hingga orang tua ada. Tujuan mereka juga beragam, ada yang hanya sekedar melihat, ada yang berfoto selfie, ada juga yang mencari angpau dari jamaah Kong Hu Chu.

Agama Kong Hu Chu merupakan minoritas di Provinsi Aceh yang mayoritas beragama Islam. Meski demikian, Salah seorang jamaah, Ruddy Akok mengaku tidak takut saat sembahyang dan berdoa di vihara. “Rasa risih tidak ada, aman saja,” katanya.

Pria asal Medan itu sudah delapan tahun tinggal di Aceh. Menurutnya, toleransi antar agama di Aceh termasuk bagus, karena masyarakatnya menghargai setiap kegiatan yang di lakukan masyarakat lain.

“Saya tidak merasa ada kendala setiap kali beribadah walaupun ada yang menonton,” ujar pria berumur 42 tahun itu.
Pada tahun 1968 hingga 1999, pemerintah Indonesia, kala itu Soeharto pernah melarang perayaan Imlek di rayakan di depan umum. Pemerintah Indonesia saat itu melarang segala hal yang berbau Tionghoa termasuk Imlek.
Namun, etnis Tionghoa kembali mendapatkan haknya pada tahun 2000 ketika pemerintah Indonesia di kepalai Abdurrahman Wahid. Pada tahun 2002, Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri.

“Kita juga setiap tahun berdoa untuk masa depan kita agar semakin lancar dan maju,” imbuh Ruddy.

Abdul Hadi Firsawan

Post a Comment

Instagram