Pasca Relokasi Pasar Sayur

Ilustrasi: http://vi.sualize.us/

Pagi itu, baru saja dua jam setelah hari berganti. Udara dingin masih menyelimuti sekitaran kota Banda Aceh. Jalanan masih terlihat kosong, tapi tidak di kawasan peunayong pada Jumat, 23 Januari 2015 pagi, sekitar pukul 02.00 WIB.

Beberapa aparat gabungan mendatangi lokasi pasar sayur, pagi itu. Puluhan aparat yang tergabung dari beberapa instansi seperti Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan kepolisian turun ke jalan.

Misinya menertibkan badan jalan Kartini yang biasa di gunakan Pedagang Kaki Lima (PKL) sebagai lapak berjualan, dan merelokasikan PKL di badan jalan Kartini ke Gang Sayur yang berada tepat di belakang jalan Kartini.

Ketua Pengurus Pasar Sayur dan Buah, Saifuddin heran dengan kejadian pagi itu, aparat yang tiba-tiba datang langsung mengangkut semua barang dagangan PKL yang di letakkan di badan jalan Kartini. Pasalnya, tidak ada pemberitahuan ataupun peringatan sebelumnya.

Pedagang yang saat itu ada di lokasi hanya bisa pasrah. Sayur-sayuran yang rencananya akan di jual beberapa jam lagi, di angkut aparat ke dalam mobil truk sampah, setidaknya tiga mobil truk sampah.

“Saya kira penertiban kali ini sudah melewati batas. Sebelumnya tidak pernah seperti ini, tidak ada peringatan apapun,” cerita Saifuddin.

Ia simpati melihat situasi PKL kala itu. bagaimana tidak, kerugian pedagang mencapai Rp 5 juta rupiah. Barulah pada keesokan harinya pedagang boleh mengambil kembali sayurannya. Namun, sayuran tidak memberi waktu lama untuk di jual. Lewat sehari saja, sayuran sudah tidak bisa di jual lagi.

Salah satu PKL yang di relokasi ke Gang Sayur, Abdul Karim mengaku terkejut melihat suasana pagi itu, “Waktu saya bangun semua sudah bersih, heran saya,” ujar Karim. Saat kejadian, Karim sedang tidur di sekitaran pasar sayur. Barang dagangannya di ambil sekitar dua karung, kebanyakan timun, kata Karim.

Pemerintah tampaknya tidak setengah-setengah dalam menertibkan PKL di jalan Kartini. Lihat saja, sejak kejadian Jumat itu, Satpol pp selalu terlihat di kedua ujung jalan Kartini. Dari pagi hingga pukul 23.00 WIB.

***

Kendati demikian, rasa pahit 23 Januari lalu hilang seiring hari berganti. Pedagang yang di relokasi ke gang sayur merasakan sedikit kenyamanan. Atap melengkung yang di apit dua bangunan di sebelahnya, menghalangi cahaya matahari masuk kedalam, sehingga pedagang tidak merasa kepanasan.

Lampion warna merah khas Tiong Hoa yang tergantung di langit-langit juga menjadi daya tarik sendiri gang itu. Abdul Karim dan Zulkifli diantara pedagang yang merasakan manfaat itu.

“Kalau di depan (jalan Kartini), jam sembilan pagi saya sudah istirahat, jam empat sore baru jualan lagi. karena di sana panas kali,” kata Karim.

Semenjak berjualan di gang itu, jam kerja Karim semakin lama. Bangun pukul 05.00 WIB dan tutup sekitaran tengah malam.

Lebar gang itu kira-kira empat meter. kiri kanan sisi gang di isi pedagang, jalur tengah di biarkan kosong sebagai jalur pembeli jalan. Meski wilayah Peunayong di juluki sebagai “China Town”, tak jarang juga pedagang keturunan Aceh di temui.

Pasar sayur di jalan Kartini dan gang sayur saban hari di padati warga. Tidak hanya untuk penuhi kebutuhan dapur. Anak keturunan Tiong Hoa kerap bermain di sekitaran itu. tampak sesekali  mereka bersepeda, ada juga bercengkrama.

“Warga Tiong Hoa biasa jualan di gang waktu pagi, mereka jual kue, nasi, dan kopi,” kata Karim, Ia sendiri sebelumnya berjualan di pasar Lambaro, lalu pindah ke pasar Atjeh, kemudian pindah ke Pasar sayur hingga di relokasi ke gang sayur.

Kendati demikian, gang itu masih menyimpan sejumlah masalah. Misalnya saat hujan, pedagang tidak bisa jualan karena jalanan becek. Pemerintah juga tidak menyediakan tempat seperti meja sebagai alas pedagang menaruh dagangan.

Ketua Pengurus Pasar Sayur dan Buah, Saifuddin menyesalkan sikap pemerintah yang dinilai setengah-setengah dalam hal ini. Ia berharap pemerintah memberi bantuan untuk PKL setempat dalam bentuk fisik alas untuk menaruh dagangan PKL.

Antara pasar sayur dan gang sayur, terdapat ruang kosong yang juga di isi oleh pedagang saat malam, namun tidak ada atap di atasnya. Saifuddin berharap ruang kosong itu di beri atap oleh pemerintah, agar pedagang bisa berjualan tidak hanya di malam hari saja.

Gedung khusus pasar sayur yang di bangun pemerintah juga tidak di gunakan pedagang setempat. Pasalnya, bangunan itu agak tertutup. Pedagang memilih berjualan di luar, supaya lebih jelas di lihat pembeli.

Terkait omset penjualan, Karim menganggap gang sayur masih kurang efektif, mungkin karena masih baru. []

Abd Hadi

Post a Comment

Instagram