Pria Asal Depok (part I)

Reza. Foto: Abd Hadi F
Jumat 13 Februari 2015 Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry mencatat sejarah penting setelah mengalami vacuum of power selama tiga tahun terhitung tahun 2012. Hari itu, Dewan Mahasiswa (biasa di sebut presiden mahasiswa) UIN Ar-Raniry di lantik. Sejumlah kendala muncul di hari sakral tersebut kendati tidak di permasalahkan.

Selepas sholat jumat, krue sumberpost.com sepakat duduk di Warkop Zakir Darussalam guna menulis sejumlah berita. Lantunan lagu melayu klasik membawa suasana siang itu semakin menarik untuk di nikmati.

Tak terasa, azan berkumandang tanda waktu asar tiba. Aku langsung bergegas melaksanakan sholat asar, tapi entah mengapa waktu terasa cepat hari itu. belum pun mentari senja menyembunyikan rupanya, magrib tiba.

Saat azan magrib berkumandang di mesjid depan Warkop Zakir, pintu kedai mulai di tutupi kendati masih tersedia jarah sekitar 100 cm. Sebagian orang memilih beranjak ke mesjid, sedangkan sebagaian lainnya memilih tetap di dalam.

10 menit setelah azan  dikumandangkan. Barulah aku bergerak menuju mesjid yang di kenal dengan sebutan Mesjid Putih itu. Selepas sholat magrib, aku meluangkan waktu untuk mengaji. Saat hendak keluar dari pintu mesjid aku mendengar suara dari arah belakang. Secara spontan, aku menoleh.

Seraya melangkah, aku tetap menoleh ke belakang. Aku mengira al quran yang baru saja ku taruh di lemari jatuh.

“Astagfirullah,” ucapku ketika hampir jatuh saat tak berhati-hati ketika berjalan. Aku kembali melihat kedepan saat berjalan. Senyum kecil ku perlihatkan kepada dua lelaki seumuranku yang melihat kejadian tadi.

“Hati-hati mas, kalau jalan lihat kedepan,” kata salah satu lelaki.

“Iya, tadi hampir jatuh pas lagi lihat ke belakang,” jawabku.

“Mas remaja mesjid ini ya ?” tanyanya. 

“Bukan, saya cuma sholat saja di sini, kenapa ?” aku balik bertanya.

Perbincangan itu berlangsung beberapa menit. Setelah lama mendengar ceritanya, aku mengetahui kalau Ia berasal dari Depok, Jawa Barat. Menurut ceritanya, Ia ke Banda Aceh untuk mencari ayahnya bernama Muhammad Erwin Syah yang sudah sangat Ia rindukan kendati tidak pernah mengingat bagaimana wajah maupun kepribadiannya.

Kami melanjutkan obrolan itu di Warkop Zakir. Nama lekaki asal Depok itu Reza, teman di sampingnya yang ku temui di mesjid tadi sudah pulang. Mereka juga baru kenal selepas magrib, seperti halnya aku dan Reza.

Ia bercerita banyak hal, aku dan dua temanku menjadi pendengar kisahnya malam itu. kami menyimak kata demi kata yang di ucapkan Reza. Wajar saja, ceritanya terbilang menarik. Ia juga terbuka, sopan, dan tampak tidak berbohong.

Ia mendegar kabar dari teman Ibunya bernama Daniarti kalau ayahnya tinggal di Aceh. Pria bernama lengkap Reza Pahlevi ini langsung mengumpulkan dana untuk berangkat ke Aceh. Ia sendiri sudah bekerja sebagai pembuat kue disalah satu home industry di Depok.

Berbekal sejumlah uang yang di kumpulkan dari gajinya dan restu sang nenek, Ia melancong ke Aceh seorang diri. Dari pulau Jawa, kapal terbang membawanya ke bandara Kualanamu Medan. Dari sana Ia naik bus ke terminal Batol Banda Aceh.

Selasa 3 Februari 2015 pagi, Reza baru saja menginjakkan kakinya di Banda Aceh. Tanpa berleha-leha, dengan menggunakan jasa becak, Ia langsung menuju Komplek Tanjung Dolok, Lambaro, Aceh Besar, tempat di mana sang ayah di kabarkan berada.

Karena tak tahu pergi kemana, Ia pergi ke mesjid setempat dan mengutarakan maksud kepada pengurus mesjid. Siangnya, pria berkulit putih langsat ini di pertemukan dengan keuchik (kepala desa) Komplek Tanjung Dolok.

Keuchik tersebut membenarkan ayah Reza, Muhammad Erwin Syah pernah tinggal di Komplek Tanjung Dolok, tetapi sudah pindah ke Aceh Barat.

“Saya tidak tahu di mana alamat pastinya, karena dia (ayah Reza) cuma bilang mau pindah ke Aceh Barat,” kata Reza meniru ucapan keuchik.

Rasa rindu terhadap sang ayah tak membuat Reza langsung meninggalkan Aceh setelah mengetahui kabar itu. Ia meminta izin ke pengurus mesjid untuk tidur di mesjid selama empat hari.

Hari kedua, Reza mendatangi tetangga dekat rumah ayahnya dulu untuk mencari tahu informasi mengenai ayahnya. Menurut tetangganya, ayah Reza hanya tinggal selama tujuh bulan dan belum menghabiskan masa kontraknya.

Setelah berhari-hari mencari tahu informasi. Reza berencana pulang ke Depok pada Jumat 6 Februari 2015. Setelah sholat jumat di Mesjid Raya Baiturrahman, Ia pergi menuju terminal Batoh menggunakan jasa angkot jenis labi-labi hingga lampu merah di Simpang Surabaya, dilanjutkan memakai jasa becak sampai terminal.

Namun apa daya, manusia hanya bisa merencanakan. Saat ingin membeli tiket di salah satu loket. Pria berumur 20 tahun ini menyadari dompetnya telah hilang.

Lantas Ia membongkar tas dan celananya. Tapi tetap saja tidak di temukan. Rencana kepulangannya harus Ia tunda. Untung saja tukang becak yang membawanya tadi berbaik hati mau mencari dompet Reza.

Mereka mulai menyusuri jalan yang di lalui tadi. Sambil melihat kebawah, mereka terus mencari. Hasilnya nihil. Mereka juga sudah bertanya-tanya kepada sopir labi-labi yang mangkal di depan mesjid Raya Baiturrahman.

Tukang becak itu kemudian mengantarnya ke Polresta Banda Aceh. Tapi bukannya malah di bantu, Reza hampir di masukkan ke dalam penjara karena di anggap anak liar. Maklum saja, Ia tidak punya identitas apapun, semuanya sudah hilang bersama dompetnya.

“Di dompet saya ada uang Rp 1.100.000 mas, kartu identitas, BPJS, dan barang penting lain,” akunya. Meski demikian, tidak tampak rasa putus asa dari raut wajahnya.

Hari-hari berikutnya Ia jalani dengan “harta” seadanya yang menempel di badan dan isi dalam tasnya saja. Toko demi toko Ia sambangi demi mencari pekerjaan. Menurutnya, dengan adanya pekerjaan sebagian beban hilang.

Reza pernah di tawari bekerja sebagai penggosok batu giok. Karena tidak punya skill di bidang itu, Ia menolak tawaran tersebut. Ngeri rasannya membayangkan ganti rugi batu giok kalau-kalau salah gosok, apalagi harganya relatif mahal.

Tawaran pekerjaannya selalu di tolak. Kendati begitu, Ia terus mencoba. “Yang saya takutkan itu kalau putus makan,” ujarnya.

Uang sisa Reza pasca kehilangan dompet hanya Rp 30 ribu. Ia mendapat uang tambahan dari orang yang merasa kasihan akan kisahnya.

Kendati begitu Ia tidak mengharapkan uang, tetaplah pekerjaan yang Ia inginkan. Dalam pandangannya, uang akan terus habis karena terus di pakai, sedangkan pekerjaan akan menghasilkan uang. Lantas kalau ada uang tapi tidak ada pekerjaan ?

Hingga Reza menceritakan kisahnya kepada kami. Sudah tiga kemeja Ia jual untuk mengisi perut. Meski demikian, Ia tidak ingin kandas di tengah jalan. Masih ada sang nenek menuggu di Depok sana.

Kakinya terus menyusuri jalanan di Banda Aceh. Hingga pada Jumat 13 Februari 2015 sore, Ia sampai di kantor Polda Aceh. Awalnya Ia heran mengapa ada halaman yang luas serta gedung yang bagus. Setelah mengetahui Ia sampai di Polda Aceh, Reza langsung masuk dan menjumpai petugas yang berjaga.

Kali ini Ia tidak di ancam masuk penjara, namun di suruh pulang karena petugas mengatakan kantor sudah tutup. Reza di suruh kembali lagi pada Senin 16 Februari 2015. Kakinya kembali melangkah hingga berhenti di sebuah mesjid yang akrab di sebut Mesjid Putih saat magrib tiba.
(bersambung)


Abdul Hadi Firsawan

Post a Comment

Instagram