Pria Asal Depok (part II)

Reza. Foto: Abd Hadi F
Ayah Reza, Muhammad Erwin Syah dan Ibu Reza, Andini Efi berpisah ketika Ia baru menginjak umur dua tahun. Setelah mendengar kabar dari teman ibunya bernama Daniarti bahwa ayahnya berada di Aceh, Reza pun terbang ke Aceh berbekal uang yang di kumpulkan dari gajinya.

Setelah mendengar kisah Reza semalaman suntuk di Warkop Zakir, Ia terkesan sembrono saat pergi ke daerah asing yang belum Ia kenal sebelumnya. Bagaimana tidak, Ia tidak memiliki handphone, kerabat, saudara, bahkan tidak menyimpan nomor telepon siapapun.

“Saya waktu berangkat nggak berpikiran apa-apa, saya cuma berpikiran supaya ketemu sama papa aja,” ungkap Reza.

Saat pertemuan pertama kami Jumat 13 Januari 2015, sudah genap 10 hari pria bernama lengkap Reza Pahlevi ini tinggal di Aceh. Ia sangat ingin pulang ke tanah kelahirannya di Depok, hal itu Ia ungkap esoknya usai sholat dhuhur di Mesjid Putih Darussalam.

Namun apa daya, Ia tidak punya apapun untuk membawanya pulang, sekalipun apabila semua barang bawaannya di jual, tidak cukup. Butuh sekitar Rp 1 juta-an untuk membawanya pulang.

Pria kelahiran 30 April 1995 ini merupakan anak tunggal dari Muhammad Erwin Syah dan Andini Efi. Reza sejak kecil sudah di rawat oleh sang nenek. Menurut cerita Reza, ibunya tinggal di Malaysia semenjak berpisah dengan suami.

Saat meninggalkan rumahnya di daerah Limo, Depok, Jawa Barat, neneknya tinggal seorang diri. Anak sang nenek yang sudah merantau, hanya sesekali saja pulang ke rumah. Untuk makanan, biasanya pakai rantangan.

“Saya dari dulu hanya berpikir untuk ketemu ayah saja, tidak pernah berpikir akan ke Aceh. Hanya ingin ketemu orang tua,” aku Reza.

Setelah insiden kehilangan dompet beberapa waktu lalu, pria malang ini minta tolong untuk di antar ke kampung halamannya oleh supir di terminal Batoh.  Namun, sang supir mau mengantar Reza dengan syarat membayar uang setengah saja dari jumlah wajib.

Awalnya, Ia berpikir sedang apes. Beberapa menit kemudian, Ia berpikir harus mulai beradaptasi. kemudian Ia mengatakan, “Saya tidak bisa bilang apa-apa lagi sih, sudah begini kejadiannya. Ini pelajaran penting bagi saya.”

***

Sabtu 14 Februari 2015, aku bersama seorang karib pergi ke Komplek Tanjung Dolok. Siang itu, terik mentari begitu menyengat. Keringat mulai mengucur membasahi baju kaos tak lama setelah kami berangkat.

Nama Tanjung Dolok terdengar asing bagiku. Tukang becak yang ku temui di simpang Lueng Bata hanya memberi informasi singkat. Hingga asar tiba, aku belum menemukan komplek itu.

Setelah sholat di salah satu mesjid di daerah Lueng Bata. Aku kembali bertanya ke salah seorang di depan mesjid. Orang yang ku tanyai barusan juga mengendarai becak. Namun, informasi kali ini agak memberi pencerahan.

Aku dan seorang karib, Umam, kembali memulai pencarian. Setelah masuk sana masuk sini. Kami akhirnya menemukan komplek itu. Tempat pertama yang kami datangi adalah mesjid komplek Tanjung Dolok.

Sore itu, pengurus mesjid terlihat di pekarangan mesjid itu. aku langsung menghampirinya dan bertanya mengenai Reza, lelaki yang menurut ceritanya pernah tidur di mesjid itu.

“Siapa Reza, kamu tahu ?” tanya seorang pengurus kepada temannya.

“Tidak,” jawab temannya dengan wajah keheranan.

“Pernah tidak, seorang laki-laki datang ke sini untuk mencari ayahnya. Dia berasal dari Depok, Jawa Barat,” tanyaku lagi.

“Tidak,” jawabnya singkat. Mereka terlihat bingung, seperti orang yang tidak tahu apa-apa.

“Dia ke sini sekitar 10 hari yang lalu. Dia bilang pernah tidur di sini,” tanya ku lagi.

“Mungkin bukan di mesjid ini, saya pengurus di sini dan tidak pernah melihat orang yang di tidur di sini,” kata pengurus itu, kira-kira umurnya sudah setengah abad lebih.

“Coba kamu ke sana,” lanjutnya seraya menunjukkan arah.

Pengurus tadi menyarankan kami bertanya kepada pengurus di meunasah yang tidak jauh dari mesjid, kira-kira jaraknya 100 meter dari mesjid.

Meunasah saat itu sedang kosong. Hanya ada tiga ibu-ibu sedang membereskan gudang meunasah.

Setelah mengucapkan salam dan memperkenalkan diri, aku kembali bertanya hal serupa kepada ibu-ibu itu.

“Saya tidak tahu. Kalian pernah melihat orang yang namanya Reza tidur di meunasah atau mesjid,” tanya salah seorang Ibu kepada temannya.

“Kami tidak tahu, kalau di meunasah ini tidak ada yang tidur. Setelah insya biasa sudah kosong,” kata ibu lainnya.

“Kalau orang Depok yang mencari ayahnya pernah ada di sini ?” tanyaku.

“Setahu kami tidak ada. Memang pasti di sini alamatnya ?”

“Ia di sini, orangnya langsung yang bilang ke saya. Yang namanya Muhammad Erwin Syah pernah tinggal di sini ?”

“Kami tidak kenal. Emang gimana ceritanya kok teman kamu bisa bilang ayahnya pernah tinggal di sini ?”

Aku mulai menceritakan maksud dan peristiwa yang di alami Reza. Aku juga memberitahu baru mengenalnya kemarin, dan maksud kedatangan ku ke Komplek Tanjung Dolok hanya untuk memastikan kisah yang di ceritanya Reza Jumat malam adalah nyata.

Namun, tetap saja ibu-ibu itu tidak mengenal Reza dan ayahnya, Muhammad Erwin Syah. Harapan ku satu-satunya untuk memastikan kisah Reza adalah Fakta atau hanya karangan, ialah sama keuchik (kepala desa) setempat.

Rumah keuchik tidak jauh dari mesjid dan meunasah. Aku langsung bergegas ke sana setelah mendapat alamatnya. Namun aku hanya mendapati seorang anak.

“Ini rumah keuchik ?” tanyaku untuk meyakinkan.

“Iya, tapi ayah lagi tidak di rumah. Abis asar tadi pergi,” jawabnya.


Kepalaku masih menyisakan beberapa pertanyaan. Aku bergegas menghidupkan sepeda motor dan meniggalkan tempat itu bersama temanku.

Abdul Hadi Firsawan

Post a Comment

Instagram