Relawan (Tidak) Berbagi

Ilustrasi: http://vi.sualize.us/

Jam menunjukkan hampir pukul 11.00 pagi, peserta Pelatihan Jurnalistik Relawan PMI Kota Banda Aceh rehat beberapa menit. Awalnya, waktu makan kue pagi di tetapkan pukul 10.00, molor sejam dari jadwal yang di rencanakan.

Dua puluh tiga peserta beranjak memasuki sebuah ruang di sebelah kanan. Di ruang itu, tersedia kopi, teh, risol, dan timphan. Satu per satu peserta mengambil minuman yang di sajikan. 

Piring plastik bulat, seukuran telapak tangan pria dewasa di isi beberapa kue. Ada yang mengambil empat kue, dua kue, maupun tiga kue.

Apes bagi yang mengantri di belakang, hanya mendapatkan kopi atau teh. Kue sudah di ambil habis oleh peserta yang mengantri di depan. Peserta yang sudah mengambil cemilan pagi itu, langsung mengambil tempat duduk.

Meski demikian, bentuk meja yang memanjang membuat peserta leluasa mengambil kue siapa saja. Tentunya dengan meminta izin lebih dahulu. Di sisi lain, riuh rendah dan canda tawa saling bersahutan di ruangan itu.

Waktu menikmati secangkir teh usai. Peserta kembali mengikuti kegiatan Pelatihan Jurnalistik Relawan PMI yang di gelar di Unit Donor Darah PMI Kota Banda Aceh. Kegiatan tersebut berlangsung hingga Sabtu (28/3/2015) sejak di buka oleh Ketua PMI Banda Aceh Qamaruzzaman Haqny, Kamis (26/3/2015).

Materi sejarah jurnalistik kemudian di paparkan oleh Munawardi Ismail, seorang wartawan di media Waspada. Usai materi, Nova Sari, Staff Organisasi dan Relawan PMI Kota Banda Aceh mengingatkan kepada peserta jurnalistik dari tiga universitas dan PMR dari sekolah sekitaran Banda Aceh, agar tidak mengambil kue tidak lebih dari dua.

“Kue kita terbatas, jadi satu orang cuma boleh ambil sebanyak dua potong,” kata Nova.

PMI Kota Banda Aceh ingin menekan pengeluaran sekecil mungkin agar anggaran tidak habis sia-sia. Begitu juga ketika makan siang nantinya, Nova mengingatkan agar peserta tidak mengambil nasi bungkus lebih dari satu.

“Kakak pernah, buat pelatihan seperti ini dua kali gak makan siang karena ada peserta yang ngambil nasi lebih dari satu,” ceritanya.

Peserta kembali memasuki ruangan yang sama ketika jadwal makan kue sore tiba. Namun, kali ini sebagian kue masih tersusun rapi hingga waktu makan kue usai. 

Entah karena takut di anggap tidak memikirkan teman, atau memang sudah kenyang dengan nasi siang tadi, hingga waktu menyantap cemilan sore berakhir. Bakwan dan kue berwarna-warni masih tersisa di tempatnya.

Abdul Hadi Firsawan

Post a Comment

Instagram