Sahabat Terbaik


Rabu 14 Januari 2015, parkiran gedung Asrama Putri Institut Agama Islam Negeri Ar-Raniry terlihat beda, sepeda motor tertata rapi seolah ada tukang parkir, kendati tidak terlihat seorang pun kala itu. ruangan terbagi dua, sebelah kanan ruangan berjejer sepeda motor, sedangkan sebelahnya lagi di biarkan kosong.

Beberapa barang rongsokan terlihat di sisi kiri, sebelah ruangan kosong itu. terlihat dua buah kursi, satu gitar Kapok, plastik kresek warna hitam, dan sebuah bangku besar yang sudah dimodifikasi memakai spion, pedal, setir mobil, serta pintu mobil.

Tapi, semua barang di biarkan begitu saja.

Hingga malam tiba, terdengar suara perempuan dan laki-laki berdialog dari arah parkiran. Tepat di bawah sebuah lampu kecil, perempuan dan laki-laki itu berdialog, dua buah kursi yang ku lihat tadi rupanya sebagai alas mereka duduk.
Hanya tersisa sedikit jarak di antara keduanya, sekitar satu senti meter. Sangat dekat.

“Sayang, mengapa kita harus ke pegunungan ?” tanya perempuan itu.

“Di sanalah kita akan menghabiskan bulan madu kita sayang,” jawab si lelaki.

Memang, mereka tidak bersentuhan. Setidaknya belum.

Terlihat juga seorang lelaki duduk di kursi yang menyerupai mobil tadi. Tangan kanannya memegang setir seolah sedang mengemudikan mobil sedangkan tangan kirinya memegang sebuah tongkat, mungkin maksudnya alat untuk memasukkan gigi pada mobil. Sesekali lelaki itu melirik ke spion yang di sebelah kanannya.

Selain itu, ada dua orang duduk di antara sepeda motor yang masih berjejer rapi. Mereka sesekali mengomentari aksi dari pelakon yang berada di depannya.

Terdengar suara musik yang tidak terlalu keras, seseorang duduk sambil mengamati laptopnya, terlihat juga sound di kanan kiri laptop itu. Namun, musik yang di lantunkan tampak senada dengan gerak gerik si supir, perempuan, dan lelaki itu.

“Lal, gerakan kamu dengan sound track harus sama, perhatikan klaksonnya, kapan saat di masukin giginya,” kata seseorang yang duduk di atas salah satu sepeda motor kepada lelaki yang duduk di kursi menyerupai mobil itu.

Ia adalah Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa Teater Rongsokan Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Dendi Swaran Danu.

Belakangan aku mengetahui, kalau sepeda motor yang berjejer rapi tadi adalah ulah Teater Rongsokan. Mereka sengaja mengatur parkiran supaya tersedia ruang kosong untuk mereka berlatih.

***

Sabtu 17 Januari 2015, Teater Rongsokan menggelar pementasan berjudul “Sahabat Terbaik”, Dendi sutradara pertunjukan itu. Belakangan aku mengetahui Dendi membawakan sebuah puisi dari temanku, Reza. “Nge-Soul kali bang Dendi,” katanya.

Aku terkejut ketika melihat Aula Rektorat UIN Ar-Raniry. Biasanya, aula ini transparan, dindingnya berlapiskan kaca bening. Kali ini, Teater Rongsokan membalut aula dengan kain hitam, sekelilingnya hitam.

Sepatu tampak berserakan di depan pintu masuk. Terlihat seorang wanita duduk di depan pintu masuk, Ia menyodorkan buku tamu. “Bang, daftar dulu namanya di sini, abis itu sebelum masuk sepatunya di lepas ya,” ujar wanita itu.

Waktu itu pukul 16.30 WIB, aku telat satu setengah jam dari jadwal yang di tetapkan. Teater sudah di mulai saat aku masuk. Suasana hening. Penonton terlihat menikmati pertunjukan itu. aku memilih sebelah kiri ruangan sebagai tempat menonton, sekalian bersandar di dinding.

Suasana teater kian terasa karena lampu hanya menerangi panggung utama, itupun remang-remang. Aku agak terpukau dengan dekorasi ruangan ini. Tidak seperti aula pada biasanya. “Benar-benar teater!” bantinku dalam hati. Seingatku, baru dua kali aku melihat aksi teater.

Tiba-tiba saja penonton bersorak, segera ku alihkan pandangan ke panggung. Laki-laki dan perempuan yang ku lihat di parkiran beberapa hari yang lalu, hari ini berpegangan tangan. Mereka memamerkan kemesraan di depan orang ramai. Jarak satu senti meter antar sepasang manusia itu hilang.

***

lampu kembali menerangi seluruh ruangan. Enam orang berdiri di depan panggung itu, ialah lima aktor dan seorang lagi sutradara teater, Dendi Swaran Danu.

Di kisahkan Dendi, teater itu bercerita mengenai sepasang suami istri. Awalnya mereka bertemu di sebuah cafe, setelah saling mengenal satu sama lain, akhirnya mereka menikah, sedangkan pegunugan merupakan tempat mereka berbulan madu.

“Kalau begitu mengapa judulnya Sahabat Terbaik ?” tanya seorang penonton, Kholilurrahman. Menurutnya tidak cocok cerita sepasang suami istri di beri judul Sahabat Terbaik. Kadar kedekatannya berbeda.

Dendi justru mengatakan sebaliknya. Menurut Ia, seorang sahabat sangat mengerti keadaan temannya, bahkan sampai hal-hal kecil. Dalam teater tadi, sang istri sudah paham dengan tingkah laku suaminya.

Kalau si suami sedang mengetuk-ngetuk jari, berarti si suami sedang memikirkan sesuatu. Begitu juga saat suami menggoyang-goyangkan kakinya, berarti Ia sedang gelisah, contoh Dendi.

Dendi sempat mengulas awal cerita teater itu, sebelum menyampaikan hal penting.

Berawal pertemuan di sebuah cafe, si lelaki langsung mendekati perempuan idamannya. Langkah seribu yang harus di tempuh lelaki itu, di pintaskan menjadi beberapa langkah saja.

Saat pertama kali bertemu, belum pun menit berganti jam, si lelaki langsung memegang mesra tangan perempuan itu.

Alangkah terkejut lelaki itu mendapati “sang pujaan” marah akibat tingkah laku sembrononya.

“Dalam teater ini, saya ingin berpesan, jangan bermesraan sebelum nikah, tapi bermesraanlah setelah menikah,” tutur Dendi.


Abdul Hadi Firsawan

Post a Comment

Instagram