Pisau Berkarat dan Teroris

Ilustrasi: http://vi.sualize.us/

Kisah ini terjadi lima tahun lalu. Tepatnya Minggu.

Satu hari sebelum berkendara, aku dan enam teman karib, kembali berdiskusi untuk menentukan wilayah mana yang akan kami jelajahi besok. Sudah menjadi agenda rutin kami untuk bepergian setiap minggu. Kegiatan rutin ini menarik, karena setiap wilayah yang kami kunjungi merupakan daerah yang jarang didatangi.

Setiap perencanaan, tidak pernah dipikirkan dengan matang mengenai hal terburuk. Setiap kali berembuk, hanya hal-hal menyenangkan yang menjadi bahan diskusi. 

Tidak ada satu orang pun diantara kami yang suka membaca berita. Namun, itu boleh dikata menjadi keuntungan kami, karena bisa jadi, nyali kami akan kecut sebelum rencana dijalankan hanya karena sebuah berita.

Minggu pagi, angin masih terasa sejuk meski matahari sudah menampakkan rupanya. Satu per satu temanku mulai berkumpul di halaman sekolah.

“Jir, sms orang ni semua, bilang suruh cepat ke sini. Kemarin janji jam 08.30 WIB kita berangkat, karena jalan kita jauh,” perintah Okta.

“Iya, ni lagi di sms. Mungkin orang ni masih tidur pun,” kata Anjir.

Saat itu, aku, Anjir, Okta, Amat, dan Duta sudah ditempat dan siap berkendara. Tinggal menunggu Alep dan Mina. Setelah lebih dari sejam menunggu, akhirnya kami berangkat ke arah Lamteuba. Rencananya, kami mau melintasi jalur Lamteuba tembus ke Seulimum.

Kedua wilayah ini, lima tahun lalu sangat terisolir. Sepanjang jalan penghubung kedua daerah ini, hanya ada hutan, dan sungai kecil. Kau tahu kawan? Kalau kau pernah melihat hutan belantara yang tidak terawat, terasa jarang di “jamah”, dan terlihat seperti ada penjahat dimana-mana, seperti itulah kawasan ini.

Lamteuba–Seulimum benar-benar memenuhi kriteria wilayah yang kami inginkan, yaitu jarang di datangi orang. Belakangan kami ketahui, kedua wilayah ini memproduksi ganja. Meski demikian, masyarakat di sana sangat ramah.

Kami selalu bertanya saat merasa berkendara di arah yang salah, dan selalu dilayani dengan baik oleh warga setempat. Setiap menjumpai warga asing, yang kami lakukan adalah mengangkat tangan kanan, senyum, dan mengangguk. Setidaknya, itu pegangan sikap agar warga merasa kami ini orang baik.

“Kalau ketemu orang, buat tiga hal itu. Aku nggak mau diculik cuma karena sikap,” tandas Alep mengingatkan.

Jalanan menanjak dan menurun datang silih berganti. Begitu juga dengan sungai. Siang itu, hujan sempat membasahi kami. Namun, tidak ada yang ingin berteduh, sementara itu, tidak ada seorangpun yang membawa jaket ataupun mantel.

“Kita tidak boleh berteduh. Aku takut diculik, apalagi kita anak kecil semua. Gimana ini ?” tanya Iman, seraya berkendara.

“Ya udah, kalau ketemu pohon pisang, kita berhenti sebentar,” ucap Amat.

Tidak lama setelah itu, kami berhenti tepat disamping pohon pisang. Amat turun dan segera membuka jok sepeda motornya. Dibawah tumpukan buku, ia mengambil sebilah pisau berkarat. Panjangnya sekitar 13 cm. Kondisi pisau sudah sangat parah.

Jujur, aku sedikit terkejut saat itu. Aku menanyakan mengapa ia membawa pisau berkarat itu. “Itu untuk senjata kita lawan penculik,” ungkapnya. Aku sendiri masih belum yakin dengan pisau berkarat itu.

Dibawah guyuran hujan, Amat memotong daun pisang satu per satu. Daun pisang itu rencananya akan ditaruh atas kepala, tujuannya supaya tidak kena hujan. Tapi kenyataannya, butuh waktu satu menit untuk memotong daun pisang dengan pisau berkarat itu. Setelah selesai memotong tujuh daun, kami semua sudah basah.

Perjalanan dilanjutkan setelah sumpah serapah dilontarkan kepada si empunya pisau berkarat. Ditengah perjalanan. Ketika sepeda motor kami berjalan di atas aspal mulus tanpa lubang, dua pengendara seperti mengimpit kami di depan dan belakang.

Di depan kami, terdapat dua orang dewasa duduk di atas satu sepeda motor, sedang di belakang, ada satu pengendara . Kondisi ini sempat menimbulkan kecurigaan bagi kami. Dengan berbagai penalaran, kami sepakat untuk mengatakan ketiga orang ini ingin menculik kami.

Untunglah, pada satu bukit gundul yang menjulang tinggi, kami berhenti. Di dekat bukit itu, ada sebuah gubuk. Si pengendara tadi melanjutkan lajunya sambil melihat kami sekilas. “Kami selamat,” batinku.

Kau tahu kawan? Di atas bukit gundul yang tinggi itu, tersuguh pemandangan yang begitu menakjubkan, sampai-sampai ingatan itu masih membekas meski sudah lima tahun berlalu.

Di depan kami, terhampar puluhan bukit berhias pepohonan. Saat itu, hujan telah berhenti. Matahari nampak tepat di antara bukit. Awan mendung menambah rona alam kala itu. berbagai kolaborasi warna terpancar hingga melahirkan pelangi. Tak lupa pula kami mengabadikan momen.

Puas menikmati suguhan alam. Aku dan enam karib kembali berkendara. Jalanan mulai menurun. Ketakutan kembali dirasa, sebab tiang listrik tak tampak lagi.

“Ini gawat, kalau tiang listrik tidak ada lagi, berarti di depan tidak ada penduduk lagi. Kita salah jalan,” ujar Alep ketakutan.

“Jangan balik dulu, kita jalan sedikit lagi, kalau tidak ketemu orang juga, baru kita balik. Kalau kita balik sekarang, jauh lagi,” sanggah Duta.

Yang lain setuju dengan Duta. Setelah belok kiri, suara sepeda motor terdengar dari arah berlawanan. Kami terus berjalan setelah mengetahui arah yang kami lalui ialah benar. Seulimum kami tembusi dengan selamat.

Esoknya, lepas upacara. Kami menceritakan panorama alam di daerah Lamteuba–Seulimum. Kebetulan saat itu pembina pramuka sekolah kami ikut mendengar. Ia terkejut ketika mendengar cerita kami.

“Yang betul kalian? Kau semua tahu nggak, sudah dua minggu ini, di Aceh banyak teroris!” seru pak Dek.

Baru beberapa hari setelah itu, aku mengerti ucapan pak Dek. Jauh hari sebelum kami merencanakan untuk melntasi wilayah Lamteuba–Seulimum, aparat penegak hukum Indonesia sedang gencar mencari teroris.

Saat itu, teroris paling dicari ialah Nurdin M. Top. Sedang daerah yang kami lintasi pada Minggu itu ialah wilayah hutan yang disetujui banyak terorisnya. Entah seminggu sejak kami melintasi wilayah itu, Nurdin M. Top diberitakan meninggal.

Selain itu, hampir setiap hari kedua wilayah tersebut menghiasi surat kabar, entah karena penangkapan teroris atau karena penggerebekan ganja, dan sebagainya.

Untung, saat itu kami tidak menemui masalah serius di jalan. Tidak habis pikir, kami bisa nekat seperti itu (umumnya karena tidak tahu apa-apa). Jujur, ketika aku melintasi wilayah ini, pengalaman ini terus terngiang.


Abd Hadi

Post a Comment

Instagram