Eksotis Pantai di Balik Bukit

Ilustrasi: http://vi.sualize.us/

Udara dingin masih menyelimuti desa ku. Lubang-lubang dijalan berpasir digenangi air bekas hujan semalam. Sudah beberapa hari ini, hujan terus. Maklum, bulan ini kata orang tua ku mulai masuk musim hujan.

Malas rasanya bangun. Kantuk seakan tak mau pergi. Dalam keadaan berbaring, ku buka jendela yang berada disisi kiri ku. Hanya Sedikit cahaya masuk. Aku mengintip keluar, sepintas kulihat cuaca berkabut. hawa dingin pagi itu menusuk sampai ke tulang. Kembali ku tarik selimut menutupi badan.

“Di, ada Jamal di depan. Cepat bangun,” panggil ibu dari luar.

Biasanya, aku dan Jamal bersepeda saban Minggu pagi. Hari libur kami manfaatkan untuk bersenang-senang sepuasnya. Kami biasa pergi ke tempat keramaian setiap hari libur. Tidak hanya berdua, kami punya teman disetiap daerah untuk diajak main.

Pagi ini, kami bersepeda keliling desa. Sampai desa seberang, kami berhenti disebuah pondok. Di sana biasa kami bersantai dan bercengkrama dengan anak seusia kami. Pondok ukuran 2x3 meter, tempat biasa kami ngumpul. Teman-teman seusiaku sudah duluan di sana.

“Eeh, kalian sampai juga rupanya. Aku kira kalian nggak ke sini karena lagi dingin,” sapa Amri. Dia temanku di sekolah yang suka usil, tapi penakut. Pernah suatu kali kami masuk hutan untuk cari burung beo, burung udah ditangan, tapi malah lepas karena terkejut lihat ular.

Udara sejuk. Kicauan burung menemani obrolan kami pagi ini. Riak air sayup-sayup terdengar dari sungai.

“Hari ini ke pantai yok. Pasti enak, rame,” ajak Jamal. Ia paling suka ke pantai. Di sana banyak perempuan kota yang datang.

“Ke tebing aja, sekalian tangkap lobster. Lumayan untuk uang makan,” ajakku.

Setelah beberapa ide diutarakan, tetap tidak mencapai kesepakatan. Teman-temanku hari ini tidak bisa pergi karena ada kegiatan di surau. Kami duduk dibangku SMA, adat mengatur anak seusiaku harus ikut membantu ketika ada kegiatan di kampung.

Perbincangan tak berlangsung lama, aku dan Jamal ingin pulang. Sepeda kembali dikayuh menuju rumahku. Kami masih membicarakan tempat mana yang akan dikunjungi siang nanti.

Aku pernah mendengar sebuah pantai yang dibalut alam asri, tanaman warna-warni menghias, tapi keindahan pantai itu jarang dijamah. Tidak banyak temanku yang mengetahui keberadaan pantai itu. Aku tahu tentang pantai itu dari seorang teman yang pernah kesana.

Ada dua jalur yang diketahui temanku untuk pergi ke sana, yaitu jalur laut dan darat. Untuk jalur laut, dibutuhkan biaya pulang pergi Rp600 ribu. kami tidak mungkin pergi dengan jalur ini karena tidak punya uang.

Jalur satunya lagi melalui darat. Untuk jalur ini, salah jalan bisa tersesat. Dikatakan temanku, dua jam jalan kaki baru sampai ke pantai itu. Alat transportasi tidak bisa masuk ke sana. Pantai ini, menurut temanku berada dibalik bukit sebuah perkampungan.

Pukul 11.00, kami berangkat menggunakan sepeda dan sedikit bekal. Hitung-hitung kalau tersesat, ada pengganjal perut. Siang ini tidak terlalu panas. Matahari tertutup awan, kadang muncul, kemudian tertutup kembali.

Memasuki perkampungan, kami terus mendayung. Ingin bertanya, kami tidak tahu harus bertanya bagaimana, karena nama pantainya pun kami tak tahu. Sampai kami mendapati sebuah sungai. Aku dan Jamal berhenti sejenak.

“Bang, di sekitar sini ada pantai nggak? Saya tidak tahu nama pantainya, yang penting pantai, ada tidak?” tanyaku kepada seorang pria. Ia menenteng ikan di kedua tangannya.

“Ikutin aja sungai ini, nanti diujung sungai ada. Tapi harus lewat jalan darat. Jangan jalan lewat tepi sungai. Bahaya kalau lagi musim hujan,” jelasnya.

Ok. Perjalanan dilanjutkan. Peluh sudah membasahi badan. Udara sejuk kian terasa kala angin menyentuh tubuh. Jalanan sepi. Sesekali truk berisi kayu lewat. Pemandangan disisi kiri pepohonan dan kanan sungai.

Makin kedalam, jalan makin kecil dan rusak. Bunyi mesin makin sering terdengar. Orang-orang sesekali terlihat disisi jalan. Kami berhenti dan menanyakan keberadaan pantai dimana. Hanya untuk memastikan. Memang betul, orang-orang mengatakan didepan kami ada pantai.

Makin keujung, mobil truk makin sering terlihat. Mobil-mobil itu parkir berjejer. Sekitar delapan mobil. Tidak lama, kami memasuki jalan setapak, tapi masih bisa dilewati sepeda. Pepohonan rindang menutupi kami dari sinar matahari. Kendati ada cahaya menembus celah pohon.

Palang pemberitahuan dua kali kami temui, kalimatnya seperti : “Hati-Hati! Keluar Masuk Alat Berat”, “Dilarang Masuk Hutan!”. Kendati begitu, aku dan Jamal memberanikan diri masuk ke hutan. Beberapa orang berlalu lalang di sekitar jalan masuk hutan. Tak ada yang menegur.

Banyak pria menenteng alat seperti gergaji berkeliaran di hutan ini. Pohon juga banyak yang tumbang. Dibeberapa hektar tanah, puluhan pohon sudah tumbang. Kebanyakan pohon tumbang disisi kiri jalan. Tinggal batangnya saja, tanpa tangkai dan daun.

Hingga kemudian pepohonan tak tampak lagi. Hanya ilalang setinggi pinggang orang dewasa yang nampak. Aku dan Jamal kesulitan menembus ilalang ini dengan sepeda. Kami memutukan jalan kaki dari sini. Suara ombak belum terdengar. Mungkin ditutupi suara mesin yang silih berganti meraung-raung.

Sebatang kayu sepanjang bahu aku ambil dan pegang ditangan kanan. Tidak punya fungsi besar, hanya saja terkesan keren. Jamal ikut mengambil sebatang kayu. Sepuluh menit telah kami berjalan. Deru ombak belum terdengar.

Jalan menanjak dan menurun kami susuri. Pepohonan datang silih berganti. Aku sempat takjub, pohon di hutan ini punya beberapa warna, ada yang daunnya berwarna merah, jingga, ungu, dan hijau tentunya.

Tiga puluh menit sudah lewat. Sayup-sayup suara ombak mulai terdengar. Jalan agak menurun. Memasuki hutan kembali. Aku tidak sabar keluar dari hutan ini dan menyaksikan pemandangan menakjubkan yang diceritakan temanku.

“Mal, sebentar lagi kita sampai. Aku nggak sabar lagi ni. Pasti bagus banget pantainya,” ujarku seraya berjalan. Nafasku sudah terengah-engah. Jamal hanya mengangguk-angguk.

“Iya, iya, pasti bagus ni Di,” jawabnya. Nafasnya juga terengah-engah.

Druuush, Druush, Druuush. Suara ombak makin jelas terdengar. Aku tidak sabar lagi. Kupanjati pohon untuk melihat pantai. Laut sudah didepan mata rupanya. Dari atas pohon, terik matahari memantul dari laut yang berwarna biru muda ini. Pantai ini benar-benar bersih. Pasirnya juga putih, menambah kesan eksotisnya.

Kami terus berjalan hingga pepohonan tidak tumbuh lagi. Pasir mulai menutupi tanah. Matahari langsung menyambut ketika kami keluar dari hutan. Aku tidak habis pikir. Pantai ini benar-benar indah. Tidak banyak pantai di dunia yang pesonanya seperti pantai ini.

Ah, senangnya kami. Saking senangnya, Jamal sampai berteriak kencang. Pantai tanpa nama ini terlalu indah. Apapun yang ada di pantai ini menambah pesonanya. Aku yakin ini ciptaan terindah Tuhan. Tidak ada sampah satupun di sini. Orang pun tak ada. Tidak ada yang mandi ataupun mancing.

Kau tahu kawan. Ingin rasanya aku memberitahu dunia, ada pantai yang tidak kalah indah dengan Hawaii. Tanaman sejenis rumput di sini tumbuh warna-warni layaknya pelangi. Sepanjang garis pantai, ia tumbuh menurun dan rapi. Warna merah dan jingga paling mencolok dibawah terik matahari.

Pantai ini dibatasi oleh tebing bukit disisi kiri. Di sana pula, tumbuh tanaman berwarna merah jambu diatas karang. Air laut berkali-kali menyembur keatas melewati sela-sela tanaman itu. Setiap kali air menyembur ke atas, tampak warna pelangi pada air. Terumbu karang nampak jelas disekitaran tebing ini. Pantai ini benar-benar indah.

Aku melihat batu gunung ukuran tiga meter dekat tebing. Warnanya kuning, ada goresan-goresan putih dan merah diatasnya. Bentuknya besar, aku ingat betul batu ini. Kunaiki batu ini, lalu berdiri gagah diatasnya. Kupandangi sekitar pantai ini. Ah, sangat indah kawan.

Jamal kulihat sudah berada dilaut. Aku segera lari dan menceburkan diri. Lihatlah air laut ini, warnanya biru bersih. Jika menyelam, pasir pantai terlihat jelas. Laut ini sangat bersih. Airnya dingin dan sedikit asin. Aku ingin berlama-lama di pantai ini.

Entah berapa lama sudah aku berada di laut. Aku merasa lapar. Aku dan Jamal kini membuka bekal yang tadi kami bawa. Di bawah pohon cemara, kami menyantap bekal. Angin sepoi-sepoi, deburan ombak, dan suara pohon cemara yang diterpa angin menemani kami.

“Mal, indah betul pantai ini,” ucap ku.

“Iya, nanti kita ajak anak kelas ke sini abis bagi rapor Di. Biar semua tahu, kalau di daerah kita ada pantai yang indah,” ucap Jamal.

“Hehe, pantai ini tempat paling pas untuk ungkapin rasa kau sama Dahlia Mal. Tunggu aja tanggalnya,” celotehku. Dahlia teman sekelasku dan Jamal. Ia menyukainya sejak pertama kali buat tugas kelompok dengan Dahlia.

“Tenang saja kau Di, kalau tempatnya mendukung, pasti lancar,” imbuhnya. “Kapan kita pulang ni? Sepeda kita nggak ada yang jaga tu. Jalan pulang juga jauh,” tanya Jamal.

“Ok. Lima belas menit lagi,” jawabku. Aku ingin menikmati pantai ini sebentar lagi.

Kami merebahkan badan. Memandangi langit biru. Awan putih tampak bergerak dibawa angin. Ranting cemara bergoyang diterpa angin. Kupejamkan mata, membiarkan angin sepoi mengipas tubuhku. Sengaja kubiarkan imajinasi ini melayang bebas.

“Pantai di balik bukit ini, eksotis,” batinku.

Abdul Hadi Firsawan

Post a Comment

Instagram