Amat Rhang Manyang (part I)

Ilustrasi: www.atjehcyber.net

Tulisan ini dibuat dengan referensi dari berbagai cerita yang saja baca di internet, baik pada website resmi maupun blog pribadi. Selain itu juga mengambil referensi dari cerita masyarakat. Juga ditambah imajinasi pribadi, hehe :) Selamat membaca.

***
Di semenanjung Provinsi Aceh, tinggallah satu keluarga miskin yang sehari-hari bekerja keras untuk membiayai hidup. Dialah Amat Rhang Manyang dan ibunya. Saban pagi, mereka pergi mencari dan memungut sabut kelapa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kulit kelapa yang biasa dibuang, mereka kumpulkan untuk dijadikan tali sabut.  Sesekali mereka juga mencari tiram atau kerang. Dari hasil itulah Amat dan ibunya hidup.
Rumah Amat berdekatan dengan pantai. Ia tinggal di wilayah Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar. Masyarakat di sana umumnya bermata pencaharian sebagai nelayan, pencari kerang, dan pembuat garam.

Ayah Amat sudah meninggal sejak ia masih kecil. Warisan ayahnya hanya satu, rumah kecil berdinding bambu dan beratap rumbia. Bangunan itu boleh jadi menyerupai gubuk. Keluarga tersebut, hidup dalam keadaan miskin dan susah.

Kendati demikian, kasih sayang orang tua Amat tercurah kepadanya, sebab ia anak satu-satunya. Orang tuanya selalu berdoa agar Amat diberi kehidupan yang layak. Setelah semakin besar, Amat diserahkan kepada teungku (guru agama) di meunasah untuk diajari mengaji dan ilmu agama.

Teman-teman mengajinya sering mencemooh Amat karena bajunya yang lusuh. Tak jarang ia pulang seraya menangis. Kendati demikian, ibunya senantiasa mengusap air mata Amat, berusaha tersenyum, dan memeluk Amat. Oleh ibunya, ia diingkatkan agar tidak mencemooh orang lain.

“Biarlah Allah yang membalas mereka,” tutur ibunya.

Amat selalu mendengar dan menuruti petuah sang ibu. Ia juga terkenal sebagai anak yang tekun, rajin, dan pandai. Meski hidup dalam keluarga miskin, Amat tetap sabar. Tapi, ia tidak ingin berlama-lama dalam keadaan itu.

Tahun terus berganti, Amat Rhang Mayang pun semakin dewasa. Namun demikian, kehidupan Amat belum jauh berbeda.

Dekat tempat Amat tinggal, terdapat sebuah pelabuhan besar yang setiap harinya disinggahi kapal-kapal besar. Kapal-kapal yang singgah di pelabuhan itu, tak jarang berasal dari luar negeri. Di pelabuhan itu pula, diturunkan barang-barang yang tidak terdapat di bumi Aceh. Namun, ada juga hasil alam daerah diangkut ke dalam kapal-kapal besar tersebut.

Pada saat itu, Aceh terkenal dengan hasil alam yang berlimpah. Hal itu yang menyebabkan pelabuhan Krueng Raya selalu didatangi kapal dari berbagai negeri. Amat juga terpesona setiap kali melihat nahkoda kapal, karena penampilan seorang nahkoda berwibawa dan terdapat pangkat di bahu kiri dan kanan. Semua nahkoda terkesan gagah dan kuat.

Amat terkesima dengan pemandangan di pelabuhan Krueng Raya. Orang-orang di sana selalu terlihat sibuk. Ada yang mengangkat barang, berdagang, dan tawar-menawar. Ia sangat ingin bekerja di pelabuhan untuk menghidupi ibunya yang semakin tua.

Dalam hening malam, keinginan Amat untuk menjadi seorang nahkoda semakin kuat. Ia berpikir jika menjadi seorang nahkoda bisa mengubah hidupnya menjadi lebih layak dan mengganti rumahnya menjadi lebih bagus. Ia sangat sedih setiap kali melihat wajah ibunya yang masih harus bekerja meski umur sudah tua.

Pada suatu hari, ia memberanikan diri masuk ke dalam hiruk pikuk pelabuhan untuk menemui seorang petugas di pelabuhan Krueng Raya. Petugas tersebut hendak sembahyang di masjid yang tidak jauh dari pelabuhan saat Amat menghampirinya.

“Pak, pak,” panggil Amat. Jaraknya dengan petugas itu hanya beberapa meter dan terus mendekat.

“Ada apa nak?” ujar petugas setelah menoleh ke arah Amat.

“Aa, pak, saya ingin bekerja di kapal.”

Petugas tersebut tertawa ketika mendengar keinginan Amat. “Mana mungkin nak, tentu kamu tidak mampu. Umurmu masih muda nak. Menurut bapak, kamu belum mampu bekerja berat di kapal.”

Amat sedih mendengar jawaban petugas tersebut. Sejak kejadian itu Amat menjadi pendiam. Sang ibu mengetahui perubahan sikap Amat. Tatapan mata Amat dirasa berbeda oleh ibunya.

“Kamu kenapa nak?” tanya ibunya suatu malam.

“Kenapa bagaimana bu?” tanya Amat kembali.

“Ibu melihat tatapan mata kamu akhir-akhir ini kosong dan sering termenung. Ada apa?”

“Tidak apa-apa bu. Amat baik-baik saja.”

“Sabarlah nak. Kalau ada masalah, katakanlah kepada ibu dan mohon doa kepada Allah,” ujar sang ibu.

Saban hari Amat datang ke pelabuhan membawa harapan. Keinginan Amat bekerja di kapal, bagai pungguk merindukan bulan. Kesedihan bertambah kala teman-teman mengejek Amat karena sering ke pelabuhan. Tapi Amat hanya bisa pasrah dan berdoa kepada Allah.

Petugas yang ia temui waktu itu akhirnya mengetahui kehidupan Amat yang tinggal bersama ibunya di sebuah rumah gubuk. Setelah menimbang berbagai hal, petugas pelabuhan itu mencari nahkoda yang mau menerima Amat, namun ia ragu karena umur Amat masih muda. Petugas tersebut merasa kasihan dengan Amat. Kendati ia kagum dengan semangat Amat.

“Nak, mari dulu.” Amat dikejutkan oleh panggilan petugas pelabuhan tersebut beberapa hari kemudian. Amat segera menghampiri petugas dengan setengah berlari.

"Ikut bapak!" tandas petugas.
(bersambung)

Abdul Hadi Firsawan

Post a Comment

Instagram