Amat Rhang Manyang (part II)

Ilustrasi: www.atjehcyber.net


Tulisan ini dibuat dengan referensi dari berbagai cerita yang saja baca di internet, baik pada website resmi maupun blog pribadi. Selain itu juga mengambil referensi dari cerita masyarakat. Juga ditambah imajinasi pribadi, hehe :) Selamat membaca.

***
Amat mengekor di belakang petugas memasuki daerah pelabuhan. Amat berjalan dengan kaku, takut diusir orang yang menganggapnya pengemis, karena pakaiannya lusuh. Petugas itu kemudian menghampiri seseorang dan memperkenalkan Amat kepada seorang nahkoda. Mereka kemudian bercakap-cakap.

“Inilah anak yang kumaksudkan kemarin," kata petugas tersebut kepada temannya.

"Nama kamu siapa?" tanya nahkoda tersebut setelah memperhatikan Amat.

"Amat. Amat Rhang Manyang, tuan," jawab Amat.

"Kamu masih muda. Bekerja di kapal itu berat. Apakah kamu sanggup?"

"Sanggup tuan, saya tidak akan mengeluh."

"Kenapa kamu ingin bekerja di sini?"

"Saya ingin membantu ibu saya. Kehidupan kami sekarang susah. Saya tidak ingin ibu susah seperti sekarang," tutur Amat. Nahkoda yang sedari tadi memperhatikan Amat, percaya.

"Kalau maksudmu benar-benar hendak membantu ibumu aku bersedia menerimamu bekerja di kapal," kata nakhoda.

Amat sangat senang ketika mendengar kata-kata tersebut. Ia berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada nahkoda dan petugas pelabuhan yang membantunya.

Raut muka Amat kembali cerah. Berita itu dengan cepat menyebar ke seluruh kampung. Amat segera pulang dan memberitahukan ibunya kalau ia akan bekerja di kapal. Sang ibu terkejut mendengar Amat akan berlayar dalam waktu dekat ini.

“Kenapa selama ini kamu tidak bilang,” tanya ibunya setelah mendengar Amat.

“Amat baru saja diterima jadi awak kapal bu.”

“Amat, jangan kamu tinggalkan ibumu sendirian. Siapa yang akan merawat ibu nanti kalau kau pergi,” ujar ibunya berusaha membujuk agar Amat mengurungkan niatnya.

Mendengar ucapan ibunya, Amat hanya terdiam sambil memeluk sang ibu. Air mata mengucur dari pipi ibu dan anak ini. Amat sangat mencintai ibunya. Dalam tangisan, Amat membujuk ibunya agar mengizinkannya untuk bepergian sebentar dan berjanji tidak akan pergi terlalu lama.

Akhirnya, dengan berat hari sang ibu merelakan anak semata wayangnya pergi merantau. Kendati sang ibu mengizinkan Amat merantau, kekhawatiran akan Amat selalu menjadi beban pikiran.

Sehari sebelum berangkat, Amat mempersiapkan bekal. Beberapa potong pakaian ia bawa bersama beras, garam, dan barang lainnya. Setelah memeluk dan mencium tangan ibunya, Amat naik ke kapal. Ia berdiri dibagian kapal yang paling dekat dengan pesisir agar bisa melihat ibunya.

Kapal bergerak perlahan-lahan. Semakin lama, semakin menjauh dari pelabuhan. Amat mengangkat tangan dan melambai ke arah pesisir, di sana ada ibunya, teman mengaji, guru, dan orang kampung tempat Amat tinggal. 

Sifat Amat yang ramah membuat ia cepat dikenal oleh awak kapal. Ia juga banyak bertanya dan belajar dari awak kapal. Saat kapal berlabuh, Amat ikut turun ke darat sambil menurunkan barang dari kapal. Setelah itu ia menaikkan barang dan kebutuhan lain ke kapal.

Kendati Amat sibuk dengan rutinitas di kapal, ia juga merasa sedih tiap kali mengingat ibunya. Awak kapal yang mengetahui kesedihan Amat biasanya menghibur Amat dengan menceritakan kisah-kisah yang pernah mereka lalui di atas kapal, misalnya saat menghadapi angin kencang dan badai.

Beberapa pelabuhan sudah disinggahi Amat. Mereka singgah untuk berdagang dan memasok makanan, dari satu pulau, ke pulau yang lain.

Suatu hari, setelah berlayar agak lama, daratan mulai terlihat. Kapal melaju ke arah daratan itu. Setelah sampai, jangkar pun diturunkan. Amat agak terkejut ketika nahkoda memberi pengumuman kepada awak kapal.

"Kita akan lama tinggal di sini. Jadi kalian bisa turun dan berkeliling disekitar sini serta melihat keadaan di pelabuhan besar ini," ujar nahkoda.

Pelabuhan ini sangat padat dan sesak. Orang-orang berlalu lalang, begitu juga bendi dan lembu pembawa barang yang dituntun. Di sana, Bendi menjadi alat angkut utama. Amat terheran-heran melihat banyak wajah yang belum pernah ia lihat sebelumnya, wajah dari eropa, india, dan asia bercampur aduk di dermaga besar ini.

Berhari-hari Amat lalui di pelabuhan tersebut, hingga uangnya habis. Amat kemudian berpikir untuk mencari pekerjaan agar bisa terus makan. Namun tidak mudah mencari pekerjaan di perantauan. Warung ke warung ia datangi tak ada satupun yang menerima Amat sebagai pekerja.

Kantong Amat semakin menipis, pekerjaan pun belum ia dapatkan. Hingga uangnya habis, Amat belum memperoleh pekerjaan. Ia sudah tidak tahu harus meminta pekerjaan kepada siapa lagi. Karena perut sudah minta di isi, Amat nekat mendatangi sebuah warung dan memesan makanan. Pikir Amat, habis makan ia akan mengatakan yang sebenarnya. Ia juga sudah siap dimarahi si empunya warung.

Selesai makan, ia pun memberanikan diri menghadap pemilik warung.

"Emmm, tuan, saya tidak punya uang untuk membayar makanan tadi. Bolehkah saya bekerja disini sebagai gantinya? Saya bersedia mengerjakan apa saja," ungkapnya kepada pemilik warung.

Mendengar ucapan Amat, pemilik warung langsung marah. Kening si pemilik warung berkerut, dan urat di wajahnya terlihat jelas. Ia berkali-kali membentak Amat. Meski pada akhirnya ia juga menjadikan Amat sebagai pekerjanya.
(bersambung)

Abdul Hadi Firsawan

Post a Comment

Instagram