Amat Rhang Manyang (part III)

Ilustrasi: www.atjehcyber.net


Tulisan ini dibuat dengan referensi dari berbagai cerita yang saja baca di internet, baik pada website resmi maupun blog pribadi. Selain itu juga mengambil referensi dari cerita masyarakat. Juga ditambah imajinasi pribadi, hehe :) Selamat membaca.

***
Sejak kejadian itu, Amat bekerja kepada si pemilik warung dengan upah seadanya. Sikap Amat yang jujur dan tekun membuatnya dikenal sebagai orang yang baik.
Suatu hari, di rumah pemilik warung datang seorang tamu. Setelah lama bercerita, topik pembicaraan sampai kepada Amat. Sebenarnya, si pemilik warung tidak memerlukan Amat karena pekerjanya sudah mencukupi, namun karena kasihan dengan Amat, ia tetap mempekerjakan Amat di warungnya.

Ketika hendak pamit, tamu tersebut bertanya kepada si pemilik warung. Apabila benar Amat tidak dibutuhkan di warung, tamu tersebut ingin mempekerjakan Amat sebagai tukang kebunnya. Si pemilik warung setuju. Tidak lama setelah itu, Amat pun bekerja di rumah tamu tadi sebagai tukang kebun.

Saat pertama kali melihat rumah tuan barunya itu, Amat sangat takjub. Rumah mewah itu mempunyai pekarangan yang luas, bersih, dan tertata. Jauh berbeda dengan rumahnya di daerah pesisir yang kecil dan kumuh. Lingkungan barunya ini sangat berbeda dengan kehidupan Amat.

Bekerja menjadi tukang kebun baru pertama ia lakoni. Namun karena Amat seorang anak yang cerdas dan cepat dalam memahami, ia bisa cepat menyesuaikan diri dengan pekerjaan barunya. Tuan rumah pun senang dengan sikap Amat.

Bulan terus berganti sampai setahun sudah Amat bekerja di rumah mewah itu. Amat bekerja kepada seorang saudagar kaya yang mempunyai usaha disetiap sudut kota. Suatu hari, Amat disuruh menjadi pelayan di toko kain punya saudagar kaya itu.

Penampilan Amat pun berubah menjadi bersih, gagah, dan rapi. Perilaku Amat yang sopan, ramah, dan jujur membuat ia terus dipercaya oleh tuannya menjadi pelayan di toko kain tersebut.

Hingga suatu hari, Amat disuruh memimpin pekerja buruh di perkebunan tuannya. Pekerjaan menjadi pelayan di toko kain pun terpaksa ia tinggalkan. Memimpin pekerja buruh membutuhkan kesungguhan dan ketekunan yang tinggi, oleh sebab itu Amat dirasa cocok untuk pekerjaan ini.

Sebagai pemimpin pekerja buruh, upah yang diterima Amat lumayan besar untuk ukuran kantongnya.

Ia selalu menabung uang yang diperoleh dari upah bekerja. Amat selalu ingat akan janjinya kepada sang ibu, yaitu membuat ibunya bahagia dan bisa hidup dengan layak.

Waktu terus berjalan, hari demi hari Amat lalui dengan pekerjaannya sebagai pemimpin pekerja buruh di perkebunan milik tuannya. Berbulan-bulan pula ia menabung upah yang diberikan. Ia terkejut ketika melihat tabungannya sudah banyak.

Amat kemudian berpikir untuk mengelola usaha sendiri. Ia kemudian membeli sebuah tempat berukuran kecil di dekat kota sebagai tempatnya berdagang. Di tempat baru itu, ia menjual kebutuhan sehari-hari seperti minyak, garam, gula, dan bumbu-bumbu masak.

Karena Amat orang yang ramah dan pandai menarik hati pembeli, dagangannya laris. Kedua pekerjaan ini menjadi rutinitas Amat sehari-hari. Namun, ia tidak bisa berdagang dengan waktu yang lama karena pekerjaannya di perkebunan juga harus diselesaikan.

Sementara itu di kampung, ibu Amat sangat khawatir akan keadaan buah hatinya. Sang ibu selalu gundah saat nama Amat Rhang Manyang muncul dalam pikirannya. Dalam kegelapan malam, terkadang sang ibu tidak sadar bahwa seraya tidur ia telah memanggil nama Amat.

Pada setiap orang di desa, ia bertanya apakah ada yang pernah berjumpa atau mendengar kabar mengenai Amat, anaknya. Ia juga menanyakan kabar anaknya kepada orang yang bekerja di pelabuhan, namun hasilnya tetap nihil. Bertahun-tahun sudah Amat meniggalkan ibu dan desanya di Aceh Besar.

Hati sang ibu resah setiap kali mengingat Amat. Ia hanya bisa pasrah kepada Tuhan dan tetap berdoa agar anaknya diberi keselamatan, kesehatan, dan kemudahan dalam perantauannya. Sang ibu semakin renta, kondisi hidupnya juga semakin parah. Setiap hari, ia hanya sanggup berusaha mencari nasi untuk mengganjal perut saja.

Wajah sang ibu mulai keriput dimakan umur. Rasa rindu belum juga ada obatnya. Berdoa ialah satu-satunya yang bisa ibu Amat lakukan, selain bertanya kepada orang-orang desa. Perasaan yang sama juga dirasakan Amat. Ia sangat merindukan ibunya. Setiap kali mengingat sang ibu, ia berjanji dalam hati untuk segera pulang ke rumah.

Amat menunda kepulangannya ke kampung halaman meski uangnya sudah mencukupi untuk membawa dirinya pulang. Ia tidak ingin pulang dengan tangan kosong. Ia ingin ketika pulang bisa membuat ibunya bahagia.

Amat sangat bersyukur kepada Allah karena sejauh ini ia dimudahkan dalam mencari rezeki. Ia sadar itu tak luput dari doa ibunya sendiri. Hubungan batin kerinduan antara ibu dan anak sangat mereka rasakan.

"Sabarlah ibu, tunggu Amat pulang," batin Amat setiap mengingat ibunya. Ia sudah cukup dewasa sekarang, baik dari segi umur maupun ilmu. Pengalaman memberinya banyak pelajaran.

Suatu hari, Amat membulatkan tekad untuk menjalankan usaha sendiri dan tidak ingin terikat dengan pekerjaan apapun. Setelah membeli sebuah toko di kota, Amat mendatangi saudagar kaya dan mengutarakan maksud kedatangannya.

"Tuan, saya sudah membeli sebuah toko di kota. Saya ingin menjalankan usaha sendiri, tuan," ungkapnya kepada saudagar kaya.

"Bagaimana bisa, sejak kapan kamu membeli toko?" tanya tuannya keheranan.

"Saya menabung setiap upah yang tuan berikan. Saat ini sudah banyak. Saya membeli sebuah toko kemarin," kata Amat.
(bersambung)

Abdul Hadi Firsawan

Post a Comment

Instagram