Amat Rhang Manyang (part IV)

Ilustrasi: www.atjehcyber.net


Tulisan ini dibuat dengan referensi dari berbagai cerita yang saja baca di internet, baik pada website resmi maupun blog pribadi. Selain itu juga mengambil referensi dari cerita masyarakat. Juga ditambah imajinasi pribadi, hehe :) Selamat membaca.

***
Saudagar kaya merelakan Amat yang memilih untuk berdagang. Meski begitu, saudagar kaya merasa kehilangan Amat. Amat merupakan seorang pekerja yang memiliki semangat tinggi.

Amat akhirnya bisa fokus berdagang kain di toko barunya. Kabar mengenai Amat sudah menjadi pedagang dengan cepat menyebar di kota. Ia membuat teman-teman buruhnya terkejut, begitu juga dengan pemilik warung kopi yang pernah mempekerjakannya. Mereka terkejut dengan pencapaian Amat.

Pengalamannya menjadi pelayan di toko kain milik saudagar kaya membuat ia tidak sulit ketika menjalankan usaha barunya ini. Ia sangat yakin, semua masalah pasti ditemukan jalan keluarnya jika dilalui dengan ketekunan dan keyakinan.

Kelihaian Amat dalam berdagang tidak bisa diragukan. Dalam waktu yang singkat, Toko kain punya Amat sudah sangat maju. Dagangannya laris, keuntungan yang didapat pun besar. Amat segera memperluas jaringan usahanya.

Ia kemudian membeli sebuah kapal besar sebagai alat transportasi yang akan digunakan untuk menjual dan membeli barang di wilayah lain. Ia memulai perjalanannya ke berbagai pulau untuk berdagang. Hingga tibalah ia disalah satu pulau tempat seorang perempuan yang akan menjadi istrinya tinggal.

Amat jatuh hati dengan seorang gadis keturunan bangsawan. Amat terkesima dengan gadis itu karena peringainya yang baik serta wajahnya cantik. Amat pun melamar gadis pujaan hatinya.

Tujuh hari tujuh malam diadakan pesta rakyat untuk meriahkan perkawinan Amat dan istrinya. Semua rakyat, dari berbagai lapisan ikut berpesta dan mengucapkan selamat kepada keduanya. Setelah Amat dan istrinya selesai merayakan serangkaian upacara adat, Amat mengajak istrinya untuk ikut bersamanya berdagang ke pulau-pulau.

Hingga suatu hari, sang istri mengutarakan keinginannya untuk bertemu dengan keluarga Amat. Amat setuju. Mereka lalu mengatur waktu untuk segera bisa pulang ke kampung halaman Amat dan bertemu dengan ibunya.

Amat segera menyiapkan kebutuhan yang diperlukan saat hendak berangkat. Segala persiapan sudah lengkap. Kapal pun bergerak meninggalkan dermaga tempat Amat tinggal. Selama perjalanan, Amat merasa gugup. Bertahun-tahun lamanya ia tak berjumpa dengan orang yang sudah melahirkannya.

Setelah beberapa hari berlayar, tampak sebuah daratan dari kejauhan. Ia pun segera memberitahu istrinya kalau mereka sudah dekat. Kapal segera mendekat ke daratan, jangkar dijatuhkan agar kapal tidak bergerak.

Amat kembali menginjakkan kaki di pelabuhan Krueng Raya, tempat ia berasal dulu. Amat melihat-lihat sekitar, ia ragu apakah orang-orang di desa masih mengingatnya.

"Amat!" teriak seseorang dari kejauhan. Amat melihat-lihat sekitar mencari asal panggilan tersebut.

"Kamu sudah pulang, Mat. Aku kawan mu waktu kecil dulu," ujarnya sambil menjulurkan tangan untuk bersalaman.

Amat tersenyum. Ia senang karena teman lamanya masih ingat wajahnya. Teman Amat tersebut kemudian bercerita mengenai keadaan ibu Amat yang sudah merindukan sosoknya.

Berita kepulangan Amat dengan cepat menyebar ke desa-desa. Dari mulut ke mulut, Amat ramai dibicarakan, karena telah menjadi seorang saudagar kaya. Kabar kepulangan Amat lalu sampai kepada ibunya. Sangat senang ia ketika mendengar kabar Amat sudah pulang. Sang ibu pun bergegas menuju pelabuhan.

Amat Rhang Manyang, anaknya yang dulu meminta izin untuk merantau sudah pulang. Ia sangat ingin bertemu Amat. Dengan tertatih-tatih, sang ibu beranjak ke pelabuhan. Di pelabuhan, sudah banyak orang berdatangan ingin melihat Amat.

Saat sang ibu sampai, Amat masih di pelabuhan Krueng Raya. Tiba-tiba, teman Amat yang tadi menyapanya mendatangi Amat dengan menggandeng seorang perempuan tua. Amat menatap perempuan itu dengan teliti, rambutnya beruban, kulit keriput, pakaian lusuh, dan badannya bungkuk.

"Amat, ini ibumu," ujar teman Amat memperkenalkan.

"Amat anakku!" panggil sang ibu.

Amat menyadari kalau perempuan ini ibunya. Batin Amat berkata bahwa itu ibunya. Amat menoleh ke arah kapal. Dilihat istrinya sedang turun dan akan menuju ke tempat ia berada.

"Tidak! Ini bukan ibuku!" tandas Amat dengan nada tinggi. Ia malu kepada istrinya yang cantik kalau mengakui bahwa perempuan lusuh itu ibunya.

"Amat, ini ibu nak. Ibu sangat senang engkau telah kembali," ujar ibu Amat seraya mengulurkan tangannya.

"Tidak! Ibuku cantik, tidak begini rupanya. Kau bukan ibu," sanggah Amat. Ia bersikeras menolak kenyataan kalau perempuan itu ibunya. Ia malu kepada istri dan anak buah kapalnya. Ia takut dicemooh karena berasal dari keluarga miskin.

"Amat anakku, ibulah yang sudah melahirkanmu, ibu yang membesarkanmu. Mari kita pulang nak," ajak ibunya tidak menyerah.

"Barang kali benar pengakuan orang tua ini bang," kata istri Amat.

"Memang benar, inilah ibumu Mat. Keadaannya sudah sangat berubah. Sudah bertahun-tahun engkau tinggalkan. Ingatlah Amat," teman Amat menambahkan.

"Tidak. Ini bukan ibuku. Dia hanya perempuan yang mengaku sebagai ibuku dan tidak tahu malu. Pergi dari sini," pungkas Amat.

"Anakku, kamulah anakku. Amat Rhang Manyang," tutur sang ibu seraya mendekati Amat.

"Tidak. Jangan dekati aku," kata Amat. Ia kemudian menolak dengan keras badan ibunya yang berusaha memegangnya. Ibu Amat terpelanting dengan keras.

Amat kemudian memegang tangan istrinya dan memanggil semua awaknya agar segera naik ke kapal, berlayar meninggalkan pelabuhan. Sang ibu kemudian berusaha bangun dan duduk bersimpuh, ia mengangkat tangan serta muka ke langit. Ia berdoa.

“Ya Tuhanku, aku yakin jika ia adalah anakku. Aku tak menyangka ia tidak mau mengakuiku sebagai ibunya. Kekayaan sudah menutup hatinya. Ya Tuhanku, berilah anakku balasan dengan kekuasaan-Mu.”

Selesai berdoa, tiba-tiba langit menjadi mendung, angin bertiup kencang layaknya badai, hujan deras pun turun disertai kilat dan petir. Semua orang di pelabuhan jadi panik. Orang-orang berlarian mencari tempat berlindung.

Kapal Amat terombang-ambing di lautan. Ombak mengamuk. Saat itu pula, suara teriakan sayup-sayup terdengar dari kapal.

"Ibu, ibu! Maafkan Amat ibu..." terdengar teriakan Amat dari kapal. Teriakan Amat beberapa kali terdengar oleh ibunya. Ia mengesali perbuatannya yang sudah durhaka dan tidak mengakui ibunya sendiri. Saat teriakan itu hilang, keadaan tenang kembali, hujan telah reda, ombak menjadi tenang, badai tidak ada lagi.

Tidak jauh dari pelabuhan Krueng Raya, Aceh Besar, tampak sebuah batu besar menyerupai kapal. Amat Rhang Manyang beserta kapal dan isinya telah menjadi batu.

Abdul Hadi Firsawan

Post a Comment

Instagram