Malam di Musim Hujan

Ilustrasi: http://vi.sualize.us/

Kata guruku semasa Sekolah Dasar, pada bulan yang berakhiran "ber", itu menandakan musim hujan. Langit menjadi mendung. Awan berwarna abu-hitam. Kilat sesekali muncul, disambut petir, lalu air turun dari langit.

Kata guruku, air hujan tidak baik untuk kesehatan. Menyebabkan demam, pilek, dan sakit kepala. Orang tuaku juga melarangku mandi hujan. Tapi aku senang ketika hujan deras. Melepas baju berlari riang bersama teman. Kami merasa bebas. Menantang angin dan hujan. Menahan ratusan, mungkin puluhan, atau ribuan air yang menghujam badan. Terasa sakit. Tapi kami tahan demi kesenangan. Aduhai..

Kata nelayan, lihatlah langit malam jika hendak mengetahui cuaca esok. Jika bulan dan bintang terlihat terang. Bersenanglah, besok cerah. Jika bulan tak benderang, bintang tak nampak. Kuat dugaan akan hujan.

Angin malam di musim hujan terasa lebih dingin. Jika ukurannya pria kurus sepertiku, angin malam terasa seperti menusuk kulit. Aku sendiri benci cuaca yang kelewat dingin.

Kata kakekku, hujan itu rahmat. Jangan diumpat, nikmati dan syukuri saja. Bagi petani hujan memang rahmat, namun bukan berarti bala bagi nelayan. Hujan itu rahmat bagi setiap insan. Kecuali hujan badai, itu memang bala.

Oh hujan! Airmu bisa menyamarkan air mata. Rintikmu bisa menciptakan romantisan. Gemuruhmu bisa membawa nostalgia. Membuat rindu kembali datang. Mau dipadu dengan apapun, kamu bisa menciptakan keindahan. Aku juga suka hujan, karena menghilangkan polusi di jalan.

Tapi sulit untuk membuatmu berhenti menumpahkan air ke bumi. Ada saat aku tidak suka hujan. Tapi aku tidak bisa berbuat banyak. Air-air itu tetap jatuh. Membasahi semua yang ia sentuh. 

Hujan, kau punya kesamaan dengan orang-orang disekitarku. Kalian sama-sama sulit untuk berhenti menumpahkan air-air. Mengumbar apapun yang kalian ketahui tentangku. Meski itu privasi. Menghakimiku dengan pendapat kalian. Meski itu tak pasti benar adanya. Apapun yang ku lakukan, dengan siapapun itu, acap kali menjadi bahan perbincangan. Aku heran, kenapa hidupku begitu penting bagi kalian? Ah, entahlah. Aku sudah muak! Tulisan pun belum sepenuhnya yang mewakili rasa itu.

Beberapa kali aku dongkol ketika gosip kalian melintas dipikiranku sebelum tidur! Ingin ku maki kalian dengan kata kasar. Ingin ku bungkam mulut kalian hingga tak berani bicarakan aku. Kalian seperti bencana. Selalu saja merusak.

Kendati demikian, seperti pepatah kata, hujan itu rahmat. Begitu juga omongan kalian yang terkadang juga memberi pencerahan. Ketika satu orang membawa bahan diskusi tentangku, dan yang lainnya hanya mendengar, termasuk aku, aku tidak percaya perkataannya. Tapi semakin lama, orang-orang disekitarku membicarakan yang hal sama. Persis satu topik. Aku mulai percaya. Hingga aku melihatnya sendiri.

Wanita bajingan! Umpatku dalam hati. Mereka benar serupa sejatinya kebenaran. Dia milik semua pria. Aku sadar, selama ini dia hanya suka pada warna kulit ku saja. Aku beberapa kali melihat dia bersama pria yang berkulit dan berbadan hampir sama denganku. Ah, memang bajingan. Aku pernah merasa takut kehilangan pujian yang ia ucapkan kepadaku. Tapi sekarang, kau bisa melihat sendiri dari sikapku.

Aku takut berkata jujur, itu bisa membuatmu terluka, sakit. Beberapa hari sebelum aku memposting tulisan Amat Rhang Manyang, aku tulis cerita ini. Tujuannya sederhana, supaya aku tidak lupa. Toh blog ini dibuat sebagai dokumen dari potongan kisah hidupku.

Jika kau masih ingat malam itu, saat rintik jatuh membasahi kita. Di bawah langit gelap, tanpa bintang, dan minim cahaya bulan, aku tertipu dengan status facebook-mu. Sakit rasanya, ketika kau jujur. Tapi ingin kukatakan, aku juga berbohong padamu malam itu. Aku hanya takut kehilangan rasa darimu. Aku minta maaf.

Abd Hadi

Post a Comment

Instagram