Gara-gara Tikungan

Ilustrasi: http://vi.sualize.us/

Pada suatu masa di SMA Negeri 12 Banda Aceh, aku lupa pelajaran apa saat itu, tapi hari itu aku duduk di kursi sudut kanan belakang dekat jendela kelas. Aku ingat, suasana kelas pagi itu membosankan, jenuh.

Kalau pagi-pagi disuruh belajar, rasa jenuh, lapar, ngantuk, dan malas bisa dipastikan ada. Untuk hilangin rasa itu, aku mendengar musik dari handphone. Masa itu, handphone punyaku bermerek Nokia yang harganya kurang dari Rp. 500 ribu, yang penting bisa untuk telepon, sms, dengan dengar musik. Itu saja sudah cukup.

Smartphone android baru-baru ngetren di Aceh kala itu. Seingat aku, anak kelas belum ada yang pakai android masa itu. Kalau nggak salah, cuma lima orang yang pakai HP merek Blackberry, itu yang paling canggih di kelas II IPS 3.

Pagi itu, teman semeja aku ganti foto profil blackberry massanger (bbm). Teman yang duduk di depan, yang juga sedang memainkan handphone Blackberry-nya melihat foto profil yang baru saja diganti teman semejaku.

"Ngeri kali ah sebeng honda (baca: sepeda motor) ni. Ini ke yang bawa ja?" tanya teman yang duduk di depanku.

"Ia bul, foto aku asli tu. Waktu pigi ke Lhong. Itu teman yang fotoin waktu aku lagi belok," jawab teman yang duduk semeja denganku. Ia bangga dengan foto "belok tipis" itu. Memang kalau dilihat dari foto itu, cara teman semejaku ini menikung hampir sama seperti pembalap di moto GP. Lututnya nyaris kena aspal!

Foto itu diabadikan ditikungan pegunungan Paro, Aceh Besar. Banyak yang bertanya ditikungan mana atau ditikungan ke berapa foto itu diambil. Entahlah, karena yang di foto pun lupa. Ada banyak sekali tikungan di pegunungan Paro.

Tak lama setelah foto itu di upload, banyak anak kelas yang ingin lihat. Salah satunya Firman. Kepalanya angguk-angguk setelah lihat foto sebeng tadi. Ia tersenyum sambil memuji, kemudian duduk, lalu menghayal.

Aku kenal Firman sejak kelas satu MTsN hingga masa itu, kelas II IPS 3. Ia suka dunia otomotif dan balap. Dia juga pernah hampir jatuh ke jurang saat berkendara di pegunungan Paro, Aceh Besar, itu waktu kami masih kelas III MTsN. Perpisahan siswa MTsN diadakan di air terjun Suhom, Lhoong, Aceh Besar. Seluruh siswa pergi menggunakan bus, kalau tidak salah ada tiga bus.
Sedangkan kami, sekitar delapan siswa yang belum tahu akan lulus UN atau tidak karena belum pengumuman, memilih pergi ke air terjun Suhom menggunakan sepeda motor. "Kita harus beda. Naik honda juga lebih seru. Bisa berhenti-berhenti," kata Firman dalam bahasa Aceh.
***
Beberapa bulan setelah foto itu heboh di kelas, aku dan beberapa teman memutuskan pergi refreshing ke air terjun Suhom. Untuk ke sana, kami harus melewati pegunungan Paro. Minggu pagi pada pertengahan tahun kami berangkat.

Baru setengah jam perjalanan, ban sepeda motor aku bocor. Seorang kakek kemudian menambal ban belakang. Usai menambal, ia meminta bayaran dua kali lipat. Alasannya karena ada dua lubang yang ditambal.

Belum lama kami berkendara, ban belakang sepeda motor ku kembali oleng. Seorang teman kemudian mendekat dan memberitahu kalau ban sudah bocor lagi. Aku memutuskan menitip sepeda motor diparkiran Pantai Lhoknga, Aceh Besar.

Kini, kami melanjutkan perjalanan dengan empat unit sepeda motor yang setiapnya dinaiki dua orang, kecuali satu sepeda motor yang hanya dinaiki satu orang.

Memasuki pegunungan Paro, jalan terlihat basah. Rintik-rintik air dari daun pohon sesekali jatuh mengenai baju dan helm. Hujan baru saja reda di kawasan itu. Aku mengingatkan kepada Firman agar mengendarai sepeda motor dengan hati-hati.

Kami berkendara diurutan ketiga. Di urutan kedua, Maulana yang mengendarai, sedangkan paling belakang Ilham yang mengendarai. Seraya berkendara, ia menerka-nerka di mana Marja, teman semejaku melakukan adegan "belok tipis" seperti pembalap moto GP itu.

Kami juga bernostalgia saat ia dan Duta, teman kami waktu MTsN, hampir jatuh ke jurang karena gagal menikung di pegunungan Paro. Dalam udara sejuk khas daratan tinggi, kami melewati tikungan, tanjakan, dan turunan.

Hingga pada sebuah turunan berbentuk huruf S, Maulana hilang kendali dan menarik rem depan dengan tangan kanan. Ban depan tergelincir, sepeda motornya jatuh dan hampir menabrak pagar pembatas jurang.

Karena turunan licin, Firman berusaha menghindar dengan menginjak rem kaki. Tapi laju sepeda motor kami masih saja cepat dan akhirnya menabrak sepeda motor Maulana. Kami berdua langsung berdirikan sepeda motor.

Ilham yang berkendara di belakang kami berteriak sebelum menabrak bagian belakang sepeda motor Firman dan juga menabrak sepeda motor Maulana. Ilham jatuh keras menghantam aspal bersamaan dengan sepeda motornya.

Aku dan Firman tak sanggup menahan tawa. Lucu saja dengan peristiwa tabrakan itu. Karena teman menabrak teman, kemudian terjadi secara beruntun.

Ono memagang lutut. Celana jins birunya robek besar dibagian lutut. Firman memungut bagian belakang sepeda motornya yang patah di tabrak Ilham. Maulana memegang jari tangan kanannya seraya mengeluh sakit. Ilham segera mendirikan kendaraan matic-nya. Penutup baling-baling kendaraanya hancur saat jatuh tadi.

"Tadi ada mobil di depan yang rem mendadak. Aku juga rem. Tapi karena jalan licin bannya terseret," kata Maulana menjawab Firman.

Dalam peristiwa Minggu itu, tidak ada dampak yang begitu parah kami rasakan. Setidaknya, dampak besar belum terjadi pada hari itu. Teman-teman saling membesarkan hati. Kami hanya menganggap itu bagian dari cerita masa depan nanti.

Untunglah, gitar yang dari tadi di pegang oleh I'am tidak rusak. Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke air terjun Suhom. Di sana semua rasa dituang dalam lagu. Ono memainkan gitar, yang lain bernyanyi. Lagu jadul seperti yang dibawakan Ebiet G. Ade dan Iwan Fals beberapa kali kami dendangkan.


Siang sejuk itu, kami habiskan dengan bernyanyi dibawah pondok beratap rumbia, serta di temani teh botol dan mie.

Abd Hadi

Post a Comment

Instagram