Maafkan Kami, Hitam

Ilustrasi: http://vi.sualize.us/

Aku tak ingat bagaimana persisnya cerita ini dituturkan. Namun jangan risau, aku tetap tak menghilangkan intisarinya. 

Kisah ini terjadi di desa bagian utara. Kala itu, salah seorang warga desa bagian utara, Abdul, masih duduk di Madrasah Tsanawiyah Negeri. Ia melihat perempuan muda mendatangi desa bagian utara. Sepertinya, perempuan itu tak punya harta dan keluarga.

Awalnya, gadis itu hanya datang untuk makan. Tapi lama-kelamaan, perempuan muda itu menetap di desa bagian utara. Semua kebutuhannya termasuk kasih sayang diberikan warga desa kepada perempuan itu.

Hingga beberapa tahun kemudian, perempuan muda yang Abdul dengar dipanggil dengan sebutan Mami itu hamil. Tak jelas siapa yang lelaki yang menghamilinya sampai ia melahirkan. Seingat Abdul, perempuan itu banyak melahirkan anak dari rahimnya hingga ia tua.

Satu persatu anaknya lahir. Yang berjenis kelamin laki-laki, ketika remaja akan merantau dan tak kembali. Sementara yang perempuan, akan menetap di desa itu hingga tubuhnya renta.

Anak keempat Mami lahir. Tapi sedikit berbeda dengan ketiga anak yang lain. Kali ini, ia melahirkan anak perempuan dengan kulit hitam, meski tak legam. Untuk selanjutnya, anak perempuan itu kudengar dipanggil dengan sebutan Hitam.

Sekitar enam tahun Mami hidup bersama warga desa bagian utara. Tubuhnya terbilang besar, ia mampu mengusir orang beri'tikad buruk yang datang ke desa itu. Mami meninggal saat Abdul duduk dibangku Sekolah Menengah Atas. Abdul salah seorang yang menggali kuburannya. Abdul melihat warga desa sangat berduka.

Entah mengapa, semakin lama warga desa semakin jarang memberi anak-anak Mami makan. Terkadang, mereka hanya diberi satu kali makan dalam sehari, selebihnya cari sendiri. Warga desa makin jengkel karena anak Mami yang masih kecil, suka buang air besar sembarangan.

Nyaris setiap pagi warga desa membersihkan kotoran agar najis itu tak menyebar kemana-mana. Abdul tak tahu berapa anak Mami yang masih menetap di desa itu. Tapi, saat Abdul mengecap pendidikan di perguruan tinggi, Hitam masih tinggal di sana.

Agaknya ia mendapat diskriminasi karena kulitnya yang tak memikat hati. Meski seiring waktu, apresiasi ia dapatkan karena keberaniaannya menangkap pencuri yang masuk ke kerajaan. Instingnya tajam, geraknya cekatan, dan nyalinya lebih besar dari tubuh. Beberapa kali ia adu nyali dan kekuatan dengan lawannya. Kebanyakan lawan lari terbirit-birit. Biasanya ia hanya mengejar hingga pagar saja.

Hitam kemudian melahirkan anak. Abdul yakin, ia sayang kepada anaknya. Tapi sepertinya, kenyataan menguji kasih sayang itu. Warga desa masih saja jarang memberinya makan. Abdul tak tahu, apakah Hitam mampu mencari makanan atau mengenyangkan perutnya. Kian hari, tulangnya semakin nampak.

Kala itu hujan sedang musim. Setiap malam rintik air jatuh membasahi permukaan. Hawa dingin lebih terasa dibanding biasanya. Hitam dan anaknya berlindung di bawah bangunan dari kayu.

Suatu dinihari, langit baru saja berhenti menitikkan air. Musuh Hitam keluar mengintai mangsa. Musuhnya kali ini terbilang berat. Ukuran tubuhnya sama besar dengan Hitam. Dalam pekat malam, musuhnya merayap dalam dingin.

Musuhnya mengintai anak Hitam yang masih kecil. Abdul tidak tahu siapa yang menghamili Hitam, karena kulit anaknya lebih nampak dibanding ibunya. Mata anak Hitam bulat dengan bulu-bulu halus di atasnya. Menggemaskan.

Abdul tak ingat, apakah warga desa memberinya makanan hari itu. Tapi aku tahu, tidak ada lagi makanan malam itu, dan berjaga di malam hari, akan membuat lapar. Kendati demikian, Hitam sudah siaga meski dengan perut kosong.

Tinggal menunggu waktu hingga musuhnya menemukan anak Hitam. Bulu tubuh Hitam berdiri, itu alami terjadi saat ia menemukan musuh. Lawannya diam sembari memasang kuda-kuda. Dua makhluk hidup ini kemudian berlaga dengan gerakan rusuh. Sayup-sayup Abdul mendengar suara itu dari kamar. Namun karena tidak mengetahui apa yang terjadi, Abdul meneruskan usaha untuk tidur.

Esoknya, Abdul masih melihat anak Hitam. Tapi Abdul terkejut melihat bola mata sebelah kiri Hitam keluar. Ia bercerita, itu ulah lawannya semalam. Bajingan itu ingin memakan bola mata Hitam! Abdul lantas geram mendengar kisahnya. Kendati tidak melakukan tindakan apapun. Karena musuhnya itu hanya keluar ketika malam.

Karena merasa kasihan melihat kondisi fisik Hitam, warga desa kembali rutin memberinya makan. Siapapun yang datang ke desa bagian utara akan terkejut melihat mata Hitam. Ada juga yang merasa ngeri. Entah bagaimana, rasa sayang warga desa kepada Hitam sepenuhnya hilang kemudian. Entah berapa lama ia tak diberi makan oleh warga desa. Hitam bukannya tak mampu bekerja, hanya saja, kondisi fisiknya tak memungkinkan ia bekerja.

Musim hujan belum berlalu. Musuhnya tidak lagi berani bertandang ke desa bagian utara selama perempuan itu masih ada. Di suatu malam yang kelewat dingin, ia menyerah dengan kasih sayang. Ia tak bisa tidur malam itu. Perutnya terlampau kosong. Tulang bagian belakang tubuhnya jelas terlihat. Hawa dingin terasa bagai jarum yang menghujam tubuh. Sangat sakit.

Keesokan harinya, tetangga Abdul sangat terkejut melihat anak Hitam sudah tanpa kepala. Tubuhnya terbaring kaku di lantai. Hitam terlihat sedang menggingit bagian perut anaknya. Batin Abdul syok melihat itu. Tak kusangka Hitam menyerah pada kasih sayang. Ia tak sanggup lagi menahan lapar.

Abdul kemudian mengambil cangkul dan mengebumikan anak itu bersama tetangga. Entah berapa banyak Abdul melihat kejadian serupa. Abdul tahu bagaimana rasanya kelaparan. Bagaimana perihnya perut saat tak ada yang bisa dimakan. Abdul tahu, Abdul merasakan, tapi Abdul kurang peka untuk bertindak memberikan apa yang ia butuhkan.

Penyesalan sejatinya datang terlambat. Emosinya kerap membuncah setiap Abdul melihat ada yang kelaparan. Apalagi, Abdul menuntut ilmu di kampus Islam. Ia diajarkan untuk peduli sesama, tapi keengganan dan malas bertindak kerap menjadi alasan.

Abdul tahu ada anak Hitam yang berhasil bertahan hingga ia dewasa. Tapi entah berapa, Abdul tak ingat pastinya. Hitam sadar, ia tak lagi dapatkan apa yang dulu ia rasakan di desa bagian utara. Entah kemana ia pergi meninggalkan beberapa anaknya di desa itu, tapi sesekali ia pulang ke sana.

Ada banyak makhluk hidup yang merasakan kelaparan. Tapi setidaknya, keluarga, tetangga, dan kerabat jangan sampai merasakan hal serupa. Sekalipun itu binatang peliharaan.

Maafkan kami Hitam, telah membiarkanmu kelaparan. Batin Abdul.

Abd Hadi

Post a Comment

Instagram