Bagaimana Rasanya Kehilangan?

Ilustrasi: http://vi.sualize.us/

Beberapa malam setelah kejadian maha dahsyat itu, aku masih bisa tenang, tertawa, setidaknya belum tahu akan kesedihan. Memasuki 2005, barulah aku sadar. Mereka yang rohnya telah meninggalkan jasad tidak bisa kembali lagi. Tidak lagi hidup seperti layaknya kehidupan duniawi.

Mengingat kejadian itu hanya membuatku tersedu-sedan. Kesedihan membuncah. Aku kalah mental, memudahkan rasa sesal dan sedih datang. Membiarkan air mata mengalir. Memuaskan nafsu sesal. Berbulan-bulan mentalku tertekan. Jika petang berlalu, bulan muncul, dan udara mulai dingin, rasa itu datang seperti hantu. Selalu seperti itu pada bulan-bulan awal 2005. Seraya terbaring air mata ini mengalir. Aku berteriak dalam hati, tak ingin orang lain mengetahui.

Aku sampai takut sekali. Bahkan mati lampu pun aku takut. Aku takut besok semua orang meninggal, meninggalkanku, meninggalkan dunia. Dan tidak bisa lagi bersama. Apalagi, jika kenangan pahit yang dominan diingat memori, hanya menyesakkan dada.

***

17 Agustus 2014, masyarakat Indonesia kembali merayakan hari kemerdekaan. Kala itu yang ke 69. Pada hari itu juga, saya berburu foto dengan seorang teman, Umam namanya. Saat menonton lomba panjat pinang di dekat Jembatan Simpang Surabaya, Banda Aceh, saya mendapat foto unik.

Saya memotret pemuda yang sedang panjat pinang. Pemuda itu telanjang dada, hanya menggunakan celana ponggol. Ketika temannya menaiki badan si pemuda telanjang dada dengan berpijak pada celana ponggolnya, belahan pantat pemuda itu nampak. Saya pun mengabadikan momen itu, hanya untuk lucu-lucu saja.

Tapi ketika melihat ulang hasil foto, ternyata di depan pemuda telanjang dada yang nampak belahan pantatnya tadi, berdiri sosok mirip Presiden Indonesia, Joko Widodo. Ia memakai baju hijau, dan tertawa. Saya terkejut, sangat mirip! Tidak berlebihan jika dibilang bagai pinang terbelah dua. Tidak percaya? lihat saja sendiri di sini

17 Agustus 2015, saya kembali bersemangat berburu foto. Siang itu, lepas berkendara sekitaran Banda Aceh, saya menghubungi Razak, teman SMA dulu. Ia sedang di rumah. Lantas saya melajukan kendaraan ke sana, kawasan Beurawe, Banda Aceh.

Suara musik dari pengeras suara sayup-sayup terdengar keluar rumahnya. Saya pikir suara musik didalam terlalu keras, hingga suara saya yang memanggil Razak tidak terdengar. Saya mencoba menghubunginya. Setelah setengah jam baru pintu dibuka.

"Nggak kemana-mana Jak?" tanya saya. Dari mukanya, jelas ia sedang tidur.

"Nggak di, ke mana kita? duduk dulu. Ba'da asar kita keluar." Razak istirahat kembali. Juga saya, merebahkan badan.

***

17 Agustus 2015 sore, saya dan Razak pergi ke lapangan sepak bola Beurawe. Ratusan warga sudah berada di sana. Sebagian dari mereka memegang potongan kardus, ada yang menutupi kepala dari sinar matahari, ada juga yang mengibas wajah.

Enam pemuda dewasa terlihat sedang memanjat pohon pinang yang sudah dilumuri pelumas hitam. Mereka susah payah naik ke atas, saling membantu, jatuh-bangun, berulang-ulang begitu sampai hadiah yang berada di puncak batang pinang habis diambil.

Sebelumnya, sore itu, saya juga menghubungi Irfan Ardiansyah, teman sekelas saya dan Razak di SMA. Namun ia memberitahu saya melalui pesan pendek, jika ada penampilan nanti malam dan tidak bisa ikut menonton panjat pinang.

Irfan aktif dibidang seni. Ia juga yang mengajari saya tarian likok pulo kala SMA dulu. Kulitnya gelap, rupanya manis untuk dilihat, murah senyum, juga cerdas. Di kelas tiga, dia ketua kelas saya dan Razak.

Ketika beranjak dari lapangan sepak bola Beurawe, kami melihat Irfan di depan Sekolah Dasar di Beurawe, ia sedang bersama teman-teman grup narinya. Saya lupa, entah kami ada bertegur sapa sore itu.

***

17 Agustus 2015 malam, telepon genggam bergetar. Tertulis nama Razak dilayar telepon. Dengan malas saya terima panggilan itu, lantas bertanya ada apa. Kalau cuma ajak ngopi, saya tidak ikut. Sedang sakit.

“Di, Irfan sudah nggak ada lagi. Kami lagi di rumahnya, ke sini dulu.” Saya masih bingung. Apa maksudnya? Saya bertanya kembali kepada teman diseberang telepon. Suaranya datar, terasa dikecilkan.

“Irfan meninggal. Tadi dia kecelakaan, ke sini aja dulu. Aku di rumah dia. Ni lagi hubungi anak kelas yang lain,” jelas Razak.

Saya masih tidak percaya. Tadi sore saya masih melihatnya sehat, tidak terbesit rasa di sanubari jika Irfan akan meninggalkan kami selamanya.

Malam itu saya meminta izin sama keluarga untuk pergi sebentar. Di Beurawe, rumah Irfan sudah dipadati warga. Sebelum menjumpai Razak, saya bertanya kepada seorang warga mengenai Irfan. Ia mengiyakan Irfan meninggal.

Suasana rumah duka riuh rendah. Tua-muda, laki-perempuan, berada di sana. Juga sudah ada Razak di antara warga, dia bersama Zulfikar, Datok, Hubbul, Helmi, Salim, dan beberapa teman SMA lainnya. Mereka berdiri dan jongkok di depan rumah Irfan.

Razak bercerita, magrib tadi, saat kami melihat Irfan di depan Sekolah Dasar di Beurawe, dia sedang bersiap dengan grup seninya untuk tampil di Jantho, Aceh Besar. Karena mereka tampil ba'da insya, mereka harus segera bergegas ke Jantho menggunakan sepeda motor.

Kendaraan yang ditumpangi Irfan melaju dari Banda Aceh menuju Jantho dengan cepat. Ia pergi bersama Taufik. Setiba dikawasan Indrapuri, mereka ingin menyelip mobil. Tiba-tiba sebuah mobil juga melaju kencang dari arah berlawanan. Tak pelak, kecelakaan pun terjadi.

Sepeda motor yang Irfan dan Taufik tumpangi ringsek. Dari informasi yang Razak dengar, jaket yang Irfan kenakan sobek dibanyak tempat. Mereka juga terlempar jauh dari kendaraannya. Polisi lalu lintas kawasan Indrapuri lantas segera melakukan tindakan.

Irfan dikabarkan meninggal saat hendak dibawa ke rumah kesehatan terdekat. Sedangkan Taufik koma. Kabar duka meninggalnya Irfan Ardiansyah tersebar cepat. Secepat aku pergi ke rumah Irfan, sementara jenazahnya belum tiba di rumah duka.

Tangis seketika pecah ketika jenazah Irfan diturunkan dari ambulance. Di dalam rumah duka, berbagai bacaan doa terdengar. Pemuda gampong gerak cepat, teratak dan tenda segera didirikan. Kursi platik juga didatangkan.

Kami antri untuk melihat jenazah Irfan. Aku juga masuk ke dalam rumah. Tapi diantara kami tak ada yang berani membuka kain yang menutupi wajah Irfan. Kami hanya menatap tubuhnya yang terbujur kaku.

Doa-doa terus dibacakan. Menjelang tengah malam, kami bergerak ke Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin, Banda Aceh (RSUZA). Di sana Taufik dirawat. Dia trauma, terus menanyakan Irfan di mana. Ayahnya berpesan kepada kami untuk tidak memberitahu jika Irfan sudah tiada.

Tak terasa malam sudah larut. Tak terasa kami begitu singkat bersama Irfan. Memori tentangnya terngiang dalam ingatan, satu sama lain saling menceritakan pengalaman bersamanya. Terakhir kali kami, siswa IPS 3 berkumpul bersama, pada Ramadhan tahun silam, Irfan yang menginisiasi. Dia yang mengumpulkan kami. Irfan, semoga engkau tenang di alam sana.

***

Beberapa kali saya meliput anak penderita kanker. Rata-rata dari mereka meninggal. Tak banyak kesempatan saya bisa menemani orang tua penderita kanker hingga mereka pulang kampung mengantar jenazah anaknya.

Tersebutlah Jekki Basri, 4 tahun, penderita tumor ganas jenis myeloma. Ia berasal dari keluarga kurang mampu, ayahnya, Meman bekerja sebagai petani, ibunya, Mariah sebagai ibu rumah tangga. Keluarga ini berasal dari Lae Cikala, Suro Makmur, Aceh Singkil.

Karena uang tidak memadai, saat pertama kali Jekki dirujuk ke RSUZA pada 9 Desember 2015, selama lima malam keluarga ini tidur di pondok yang ada di RSUZA. Uang mereka tidak cukup untuk menyewa kamar di penginapan. [lihat berita]

Pada Kamis, 28 Januari 2016 sore, Jekki meninggal. Gubernur Aceh, yang waktu itu datang ke RSUZA menjenguk Jekki dibicarakan oleh beberapa warga, karena baru menjenguk ketika meninggal. Menurut seorang staff Humas Gubernur Aceh, kepada teman saya ia mengatakan, bahwa Gubernur Aceh sebenarnya ingin menjenguk pada Kamis siang, tapi karena jadwal yang padat, ditunda hingga sore.

Saya mengantar jenazah Jekki hingga ia dinaikkan ke dalam ambulance. Ikut beberapa wartawan dan Ketua C-Four kala itu. Meman dan Mariah terisak. Saya bisa merasakan, perjuangan mereka berat. Untuk ke Banda Aceh saja, mereka harus berutang uang.

Sebelum menaiki ambulance, Pak Meman merangkul kami semua. Ia mengucapkan terima kasih. Mukanya sembab, suaranya bergetar.

Hati saya kembali merasa ngeri ketika mendengar seorang mahasiswi UIN Ar-Raniry meninggal dunia setelah sekitar dua minggu terbaring di rumah sakit akibat kecelakaan. Mungkin saja selama itu ia koma. Yang membuat saya ngeri, hatinya bocor akibat kecelakaan itu, sehingga butuh banyak tranfusi darah.

Namanya Wildanul Hasanah. Mahasiswi UIN Ar-Raniry yang sedang menjalani Kuliah Pengabdian Masyarakat berbasis program Participatory Action Research di Gampong Seuneubok, Kecamatan Seulimum, Kabupaten Aceh Besar. [lihat berita]

Kecelakaan terjadi pada Senin pagi, 25 April 2016, dikawasan Indrapuri, Aceh Besar. Pagi itu ia melaju dari Gampong Seuneubok menuju Banda Aceh seorang diri. Dari cerita yang saya peroleh, kondisi Wilda usai kecelakaan cukup parah. Ngeri rasanya membayangkan hal serupa terjadi kepada saya.

Beberapa waktu usai Wilda kecelakaan, saya menerima beberapa broadcast di blackberry messenger mengenai ia yang membutuhkan tranfusi darah. Kala itu saya cuek saja, karena tidak kenal siapa. Ketika ia meninggal barulah saya mencari kabar. Sungguh keji.

Pada awal Maret lalu saya juga meliput korban tenggelam di Pantai Ulee Lheue, Banda Aceh. Korban masih berumur tujuh tahun, Muhammad Kausar namanya. Seorang perempuan, saudara kandung Kausar, yang menunggu tim SAR mencari jasad anak itu duduk lemas di tanah pinggir pantai. Ia tergugu, tak ada lagi tenaga. Azan maghrib berkumandang, perempuan itu dipapah warga untuk pulang tanpa jasad Kausar. [lihat berita]

Banyak sudah saya mendengar tentang kematian, juga meliput korban meninggal dunia. Mungkin saja terasa sakit ketika roh meninggalkan jasad. Entahlah, saya belum merasakan. Tapi yang jelas, orang yang ditinggalkan akan merasa sedih hati.

Saya pernah bertanya kepada seorang teman, "Di rumah sakit umum provinsi kita, setiap hari ada orang meninggal. Apa ada merasa bersalah dokter di sana?"

"Nggaklah, mana ada hati lagi orang tu, udah biasa," jawab teman saya sekenanya.

Entahlah. Sesungguhnya makhluk hidup pasti mati. Tapi yang saya takutkan, dengan terlalu banyak mendengar, melihat, membayangkan, dan mencari tahu tentang orang meninggal membuat saya mati rasa.

Aktivitas dominan saya saat ini meliput, untuk itu mendengar, melihat, membayangkan, dan mencari tahu bagian dari pekerjaan. Bagaimana dengan kamu, apa yang kamu rasa ketika mendengar orang meninggal? Mungkin reaksi berbeda-beda tergantung kedekatan fisik dan emosional.

Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Ryamizard Ryacudu saat berkunjung ke Aceh pernah mengatakan, saat ini terjadi proxy war, yaitu perang dengan menggunakan pihak ketiga. Ia mencontohan, dulu orang republik ini saat mendengar berita kematian langsung gentar, was-was, dan memperketat pengawasan terhadap anak.

Hingga suatu ketika, sebuah media dibayar untuk terus memberitakan kriminal, baik pembunuhan, penyiksaan, penculikan, dan mutilasi. Akibatnya, kriminal menjadi familiar di masyarakat. Orang tak takut lagi ketika mendengar pembunuhan dan mutilasi. orang tak lagi was-was, menganggap itu hal biasa.

Strategi yang sama juga dilakukan untuk membuat rakyat familiar dengan pemerkosaan. Media terus memberitakan pemerkosaan, hingga kata itu terdengar biasa, bukan lagi ancaman.

Itulah yang saya takutkan, ketika kita kehilangan rasa.

Abd Hadi

Post a Comment

Instagram