Sanger Dingin Pun Tak Nikmat Lagi

Ilustrasi: kplgraphics.wordpress.com

Akhir April 2016, matahari saban hari memancarkan teriknya. Apalagi ketika siang, hawa panas langsung terasa ketika keluar kantor. Diakhir bulan keempat tahun ini pula, listik di Kantor Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Aceh mati berkali-kali. Biasanya ketika listrik mati, lantas hidup kembali dengan listrik cadangan. 

Suatu Selasa diakhir April, saya ingin menghabiskan waktu istirahat siang dengan bersantai di Stock Kupi, melepas dahaga dengan sanger (kopi+susu kental) dingin. Menurut Wikipedia, sanger hanya terdapat di Aceh. Cita rasa sanger juga berbeda dengan kopi susu biasa. Bagi penikmat kopi, jelas terasa bedanya.

Saya tak meragukan kualitas kopi di Stock Kupi. Mereka menyuguhkan arabica, tidak ada robusta. Beda jenis kopi, beda pula rasanya. Sanger dengan campuran arabica-susu sangat nikmat terasa. Apalagi dalam cuaca panas, sanger dingin sungguhlah nikmat.

Pukul 12 lewat sedikit saya melaju ke Jalan Tentara Pelajar, Banda Aceh. Stock Kupi berada di persimpangan jalan. Suasana agak berdebu, gersang. Usai parkir sepeda motor, saya duduk dekat televisi. "Sanger dingin satu bang," kata saya kepada pelayan yang mendekat.

"Waduh, nggak ada es bang. Ini baru saja hidup lampu. Kami lagi ambil es, tapi lama bang. Sampai satu jam."

"Yaudah bang, sanger biasa satu." Gara-gara listrik mati, es pun tak ada lagi.

Tidak lama cangkir bundar berisi sanger disuguhkan. Biasanya, di gelas sanger panas ada banyak buih, tapi ini sedikit. Saya rada menyeruput, ternyata encer, arabica sangat terasa, tapi susu tidak.

Aahhh, sungguh mengecewakan! Biasanya sanger di Stock Kupi terasa nikmat. Berdasar pengalaman beberapa malam menghabiskan waktu di warung kopi itu bersama teman, menyenangkan. Sangernya kental.

Entah mengapa siang itu mereka pelit sekali menaruh susu. Saya rasa ini tidak ada hubungannya dengan listrik mati. Tetapi jika dibayangkan tetap saja mengerikan. Saat ini, listrik di Aceh kerap mampus. Jika terus seperti ini, minuman dingin pun tak nikmat lagi.

Karena untuk minum minuman dingin, sedikitnya ini diantara caranya, mendiamkan sanger panas atau hangat hingga dingin, kemudian minum. Tapi itu tidaklah nikmat. Beda dingin air yang didiamkan hingga dingin sendiri dengan dingin air yang dicampur es.

Tak lama saya habiskan itu sanger. Tidak saya nikmati lagi, apalagi badan mulai berpeluh. Cuaca diluar masih saja terik. Azan zuhur terdengar dari masjid disekitar warung kopi. Saya pun beranjak.

Abdul Hadi Firsawan

Post a Comment

Instagram