Cerita Hujan; Panik

Ilustrasi: pinterest.com
Ketika bangun subuh tadi, suara hujan terdengar deras dari kamar. Aku sudah menduganya karena dari semalam rinai hujan terus menemaniku dan empat teman saat ngopi di Keude Kupi Aceh, Kota Banda Aceh.

Usai salat subuh, aku kembali merebahkan badan di kasur. Suhu udara dingin yang merasuk tubuh membawaku mengingat berbagai hal. Aku kembali ingat ketika Zuhri meminjam sepeda motorku dan tidak mengembalikannya lagi. Waktu itu aku sampai memaki dalam hati karena setelah puluhan kali kutelpon, tidak diangkat. Ternyata ia tidur.

Supaya tidak lupa lagi, hari ini, aku menuliskan cerita itu. Begini ceritanya..

Suatu malam di akhir Oktober 2015, saat aku sedang menghabiskan beberapa jam bersama adek itu, Zuhri datang meminjam sepeda motor. Ku beri saja karena ia bilang tidak lama dan aku juga masih lama pulang. Selama Ar-Raniry Creative Fair digelar pada 25 Oktober sampai 1 November 2015, aku memang sering bertemu adek itu. Ia panitia kegiatan.

Malam itu gerimis membasahi arena Ar-Raniry Creative Fair sejak magrib hingga dini hari. Menjelang tengah malam, aku belum melihat Zuhri dan meneleponnya. Tidak diangkat. Aku lalu melanjutkan obrolan bersama teman di stan KSR-PMI Unit UIN Ar-Raniry.

Mereka berniat tidak tidur malam itu. Kue kering, kopi, dan teh ditambah Wifi gratis punya kampus sudah memadai aktivitas malam mereka. Tapi sekitar pukul 00.00 WIB dinihari, gangguan nyamuk membuat mereka menggelar tandu dan tidur.

Aku kembali menelepon Zuhri. Tak diangkat juga. Ku cari dia ke semua ruang di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa UIN Ar-Raniry. Semua orang yang belum tidur juga ku tanya keberadaan Zuhri. Aku berjalan dalam hujan ke stan-stan mencari Zuhri. Tak ada. Balik lagi ke Gedung PKM. Tak ada. Beberapa teman lalu ikut mencari. Beberapa lainnya malah menakuti.

Ku cari dia ke parkiran juga tak ada. Sudah puluhan kali telponku tak diangkat. Aku mulai panik, berpikir negatif tentangnya. Juga memaki dalam hati. Mereka menyarankan aku tidur di PKM atau di stan. Kalau ada tempat yang layak, aku sebenarnya mau. Tapi kalau bisa, aku lebih pilih pulang ke rumah.

Di stan KSR-PMI, tidak ada lagi tandu. Sementara lantai stan mereka sudah digenangi air setinggi tumit. Tidur di stan Sumberpost tidak mungkin, tidak bisa tidur terlentang di sana, karena cuma ada satu kursi dengan lantai basah. Ditambah nyamuk lagi. Aduh! Sangat tidak mungkin Gan.

Di PKM juga aku tidak mau. Tapi jika memang tidak bisa pulang, aku memilih di ruang Sema yang ruangannya bau asap rokok atau sekret Sumberpost yang banyak nyamuk. Masalahnya, aku malam itu pakai kaos lengan pendek, belum siap menghadapi segala gangguan menjengkelkan saat tidur.

Tapi untunglah, seorang teman tiba-tiba datang membawa kabar gembira. Ia menemukan Zuhri tidur di stan Radio Assalam. Stan itu tepat disamping stan Sumberpost. Aku memang tidak memeriksa ke Radio Assalam karena stan itu sudah ditutup.

Aku masuk lalu membangunkan Zuhri. “Bang, honda (sebutan sepeda motor bagi kebanyakan orang di Aceh) aku mana?”

“Oh iya, ini kuncinya. Aku lupa tadi,” kata Zuhri agak terkejut. Ia kemudian memberi tahu sepeda motor diparkir dibelakang stan. Itu sekitar pukul 02.00 WIB.

Abdul Hadi Firsawan

Post a Comment

Instagram