Berjam-jam Untuk Satu Momen

Ilustrasi: sylvianickerson.ca
Tinggal dua pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh, Zaini Abdullah dan Nasaruddin serta Abdullah Puteh dan Sayed Mustafa yang belum mengikuti pemeriksaan kesehatan sebagai salah satu syarat maju di Pilkada 2017. 

Sebenarnya selain mereka, masih ada empat calon kepala daerah tingkat kabupaten/kota yang belum ikut tes kesehatan. Mereka berdelapan harus ikut pemeriksaan kesehatan pada Minggu, 25 September 2016. Tapi satu Calon Bupati Abdya tetap tidak bisa ikut pada Minggu dan minta dispensasi waktu hingga Senin. Sementara pada Sabtu, 24 September 2016, 180 calon kepala daerah sudah mengikuti tes kesehatan.

Pada 25 September itu, rekan wartawan, baik tulis, foto, maupun televisi tinggal mengambil foto dan video Zaini Abdullah-Nasaruddin dan Abdullah Puteh-Sayed Mustafa ikut pemeriksaan kesehatan.

Sejak pagi rekan wartawan sudah berada di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin, Banda Aceh. Sebut saja Mulia yang bekerja untuk salah satu televisi nasional swasta, ia sudah menunggu calon gubernur dan wakilnya di rumah sakit sejak pukul 07.30 WIB.

Dani Randi, wartawan tulis untuk media nasional juga sudah standby pukul 08.30 WIB. Ada juga Fadhil, wartawan media lokal yang sampai di lokasi tidak lama setelah Dani. Juga wartawan lainnya.

Pasangan calon Abdullah Puteh-Sayed Mustafa datang cepat. Mereka tiba di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin sekitar pukul 07.30 WIB dan menjalani pemeriksaan kesehatan di gedung baru rumah sakit tersebut. Para wartawan segera abadikan momen. Satu pasangan selesai.

Kini tinggal tunggu pasangan Zaini Abdullah-Nasaruddin datang, ambil gambar atau video, lalu selesaikan berita. Rekan wartawan masih menunggu di gedung baru rumah sakit umum. Barulah sekitar pukul sepuluh lewat Zaini dan pasangannya sampai ke rumah sakit. Mereka tidak menjalani pemeriksaan di gedung baru rumah sakit umum, tapi di gedung lama Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin. Para wartawan yang sedari tadi nunggu di gedung baru rumah sakit segera bergegas ke gedung lama.

Mereka kurang beruntung, pasangan calon sudah keburu masuk ruangan pemeriksaan untuk diambil urin dan tes psikologi. Wartawan pun terpaksa menunggu di depan pintu.

Dua jam berlalu hanya untuk menunggu calon gubernur keluar dari ruangan. Padahal, jika Zaini dan Nasaruddin nampak di pelataran ruangan tes saja, perkara sudah selesai karena wartawan bisa mengambil gambar dari luar dinding kaca. Tapi tidak begitu kenyataannya.

Selagi menunggu, wartawan mewawancarai Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol T Saladin dan Komisioner Bidang Sumber Daya Manusia dan Organisasi KIP Aceh, Fauziah, terkait tes kesehatan. Setelah itu kembali menunggu. Kalau wartawan online langsung menulis berita hasil wawancara tadi.

Matahari sudah tergelincir ke arah barat. Suhu udara yang panas membuat cepat gerah. Apalagi ada yang belum isi perut dari pagi. Pihak keamanan, tim sukses calon, dan wartawan masih ramai di pelataran gedung lama rumah sakit. Masih menunggu.

"Aku dari tadi di sini. Sampai Fadhil berganti Ramadhan, sampek Rahmad Fajri berganti bang Hendra, aku masih di sini," ujar Dani sekitar pukul tiga siang atau satu jam setelah aku tiba. 

Kalau wartawan untuk media lokal lumayan mudah, karena banyak wartawan dalam satu wilayah. Mereka bisa ganti shift. Namun tidak dengan media nasional yang biasanya hanya punya sedikit wartawan dalam satu daerah. Perkara menunggu dari pagi, Dani tidak sendiri, ada beberapa wartawan senior yang juga seperti ia. Tidak bisa pergi dari rumah sakit jika belum mendapat foto atau video wajah Zaini Abdullah.

Aku yang datang telat juga merasa lelah menunggu terlalu lama. Suntuk. Ngobrol pun malas rasanya. Melawak juga garing. Mungkin efek dari lapar dan haus. Alan, wartawan di salah satu media lokal bahkan sudah sempat tidur sekali di rumahnya. Ia sudah berada di rumah sakit sejak pagi. Siang pulang, makan, dan tidur sebentar. Menjelang sore baru kembali lagi ke rumah sakit.

Beberapa wartawan memilih ngopi di kantin rumah sakit hilangkan suntuk. Ada juga yang dengar lagu, melamun, berbincang, diam sambil jongkok, atau duduk tenang. 

"Yok bang cari air kita," ajakku kepada Dani. Kami lalu minum masing-masing segelas kopi susu.

Sudah beberapa kali ia menutur rasa bosannya menunggu Zaini keluar ruangan. "Aku cuma perlu foto dia aja," katanya. "Kalau dapat satu aja gambar, langsung cabut aku."

Mulia dari Metro TV juga mengutarakan hal yang sama. Dia perlu mengambil stok gambar Zaini sedikit lagi. Ia sudah punya stok gambar Zaini, tapi menurutnya masih kurang. Karenanya, ia harus menunggu Zaini.

Jika saja wartawan mendapat foto dan video Zaini ketika ia masuk ruangan pemeriksaan kesehatan, aku yakin tidak ada wartawan yang menunggu Zaini hingga sore hanya untuk satu momen.

Azan asar berkumandang. 15 menit kemudian kami keluar dari kantin dan kembali menunggu Zaini di depan ruangan tesnya. Zaini belum juga keluar. Tapi ada satu insiden, calon Wali Kota Langsa kelelahan menjalani pemeriksaan kesehatan sehingga terpaksa dilarikan ke UGD rumah sakit itu.

Setelah salat asar, aku kembali menunggu. Bosan. Aku sudah tiga jam menunggu cuma untuk minimal satu foto Zaini. Entah berapa lagu sudah diputar dari recorder, aku tak ingat lagi. Untuk diketahui, Zaini Abdullah merupakan Gubernur Aceh aktif periode 2012-2017 yang ikut mencalonkan diri di Pilkada 2017-2022 dan pasangannya, Nasaruddin ialah bupati aktif di Kabupaten Aceh Tengah.

Pantat dan kaki mulai pegal. Murti, wartawan harian lokal sampai duduk dan berdiri untuk atasi itu. "Kalau capek duduk, berdiri. Capek berdiri duduk lagi," celotehnya.

Murti juga dari pagi tadi menunggu. Untuk berita tulis, sudah ia siapkan dari siang tadi. Tapi Murti masih menunggu Zaini. Mungkin untuk foto juga. Entahlah. Aku tidak bertanya. Tapi faktanya, ia menunggu hingga Zaini selesai jalani tes kesehatan dan keluar ruangan.

"Hadi, sudah delapan jam aku tunggu Zaini," ucap Dani. Aku diam saja. Kalian taulah rasanya menunggu terlalu lama. Itu sungguh menguji komitmen jiwa raga.

Hampir pukul 18.00 WIB, barulah Zaini nampak dari dalam ruangan tes kesehatan. Kami merapat di depan pintu. Zaini keluar, fotografer dan videografer tidak henti-henti mengabadikan momen. "Maju lagi pak, maju lagi. Kena cahaya pak. Maju lagi," seru wartawan.

Zaini bersama Nasaruddin senyum. Ia lantas berjalan ke arah mobil mewah yang sudah standby membawanya pergi. Sedangkan kami, menghela nafas panjang. Betul-betul melelahkan. Menunggu berjam-jam hanya untuk foto satu momen. Aaaahhhh!!

Abdul Hadi Firsawan

Post a Comment

Instagram