Tragedi Awal September, Sumberpost Ditutup

Ilustasi: https://twitter.com/bragvintage

Tepat pukul 00.01 WIB di tanggal pertama September 2016 kami tidak bisa lagi masuk Sumberpost. Beberapa jam setelah Rabu berganti Kamis, Husna yang pertama kali memberitahu kami peristiwa itu. Anggota panik bukan main. Aku sendiri terkejut, kok nggak bisa masuk lagi, padahal beberapa bulan lalu kami baru membayar pajak hidup satu tahun kedepan.

Dihari itu juga, aku segera menghubungi Pemimpin Keamanan Sumberpost yang juga Pengelola Ruang dan Stabilitas Sumberpost. Ia juga punya kerjaan mendesain. Jadi baik buruknya tampilan fisik kami bergantung padanya, Rizqi Shafriyaldi.

Sudahlah tiga hari lewat kami tidak bisa masuk ke Sumberpost. Malamnya ia baru memberi kabar kepadaku, sekaligus solusi kurang matang. Di Sumberpost, kami berbagi informasi, ilmu, dan kreasi. Ini bala bagi kami karena Sumberpost itu wadah. Jika wadah tak ada bagaimana kreasi mau disalurkan?

Telisik punya telisik, sebelumnya masuk pemberitahuan kepada Sumberpost mengenai pajak keberlangsungan yang harus kami tuntaskan, juga untuk satu tahun kedepan. Sialnya, pajak hidup dan pajak keberlangsungan berbeda, juga sama-sama penting. Mana pula nominalnya besar untuk ukuran kas kami.

Pemberitahuan itu diterima pendahulu kami. Dan ia tidak memberitahu mengenai pajak itu satu kata pun kepadaku, yang dipercaya sebagai ketua ini. Ia juga gusar ketika tahu Sumberpost ditutup. Ia pikir aku sudah tahu mengenai pemberitahuan itu, tapi kami tidak meributkan lagi. Fokus mencari solusi.

Kami kemudian mencari-cari nomor kontak pemegang kunci Sumberpost. Memang tak lama kemudian kutemukan, tapi pesan yang ku kirim tidak pun ia balas. Anggota semakin bertanya-tanya. “Kenapa Sumberpost tidak bisa dibuka lagi?”

Itu sebenarnya berkaitan dengan hal mistis. Tragedi masa lalu yang membuat darah bercak dimana-mana. Akan kuceritakan kepada kalian tragedi mistis yang pernah terjadi di Sumberpost. Yang membuat kami punya tempat keramat, hari pantangan, ritual, dan peringatan tersendiri. Begini ceritanya.

Sepuluh tahun silam, menjelang dua hari peringatan Bandung Lautan Api, sembilan sesepuh Sumberpost duduk melingkar ditemani air-air dalam cangkir kecil. Mereka menghabiskan air itu dengan menyeruput bibir gelas. Sedikit demi sedikit dihabiskan. Itu syaratnya, jika tidak, mereka tidak akan merasakan khasiat minuman yang diramu khusus dari negeri paling ujung nusantara, Negeri Rencong.

Di hari yang tidak sakral itu, mereka berniat mengguncang jantung kiri rakyat Negeri Rencong. Mereka berhasil. Mereka kemudian mendapatkan bantuan logistik bertempur, fasilitas pemuas hasrat imajinasi. Semuanya mereka dapatkan dalam jumlah banyak. Maka, ditetapkanlah hari keberhasilan itu sebagai hari bersejarah yang diperingati setiap tahun.

Setiap kaum intelektual iri melihat sembilan orang itu. Bagaimana tidak, mereka kaya harta yang mungkin tidak habis diwariskan dua turunan. Karenanya, masuklah kaum intelektual berhati iri itu ke Sumberpost. Mereka menguras harta dengan cepat. Secepat air diteguk, secepat itulah mereka habiskan harta. Dalam waktu kurang dari satu dekade, harta itu habis. Kering. Tidak terasa memang. Karena dahaga keinginan tidak akan pernah puas. Ketika harta itu habis, maka ricuhlah mereka. Kaum intelektual pengiri saling fitnah. Mereka tidak mau mempertanggungjawabkan harta yang mereka habiskan.

Sementara sesepuh pun tidak punya cara mengatasi masalah itu. Mereka tidak punya catatan kemana harta, logistik, dan peralatan perang mereka dilarikan. Mereka tidak punya pegangan untuk menyalahkan orang. Bagaimana dengan menuduh? Jika tanpa bukti, itu sama saja dengan menurunkan kualitas intelektual sesepuh.

Seperti Bandung Lautan Api, tragedi berdarah massal tak terelak lagi. Setiap insan dalam tubuh lembaga itu saling menerkam tak takut mati. Beringas seperti makhluk lupa diri. Hanya ada satu diujung itu, diujung kepalan, pisau, parang, kayu, sarung, besi, helm, hanya ada.. maaf keliru, hanya tinggal.. harga diri.

Hari itu mereka sirna etika. Hampir saja nasib lembaga itu sama seperti mereka, hampir sirna dimuka bumi. Anehnya, beberapa anak muda yang iba melihat kejadian itu datang mengambil alih, tanpa salam dan hormat mereka ambil alih organisasi dengan alasan supaya lembaga itu tak mati.

Hari itu ditetapkan sebagai vacuum of power. Di hari itu pula, yang akhirnya dijadikan beberapa hari, Sumberpost tidak boleh dimasuki atau dilihat siapapun. Alasannya untuk memperingati tragedi masa lampau yang itu tadi.

Selama peringatan hari itu pula, jika ada yang melanggar, maka harus menjalani ritual. Dalam cerita yang saya dengar dari pendahulu Sumberpost, ritual itu berbunyi, “beraktivitaslah sebelum matahari terbit dan jangan berada di jalan saat matahari terbenam.”

***
Bulan ini memang sial bagi kami. Beberapa anggota malah masuk ke Sumberpost di hari keramat ini. Makanya kami tidak bisa lagi masuk Sumberpost untuk beberapa saat dan harus menjalani ritual aneh itu.

Tapi, tahukah Engkau apa hubungannya September sama tragedi mistis Sumberpost? Aku akan memberitahumu dalam tulisan ini. Tapi sungguh, tolong jangan ceritakan apapun mengenai tulisan ini kepada siapapun. Apalagi yang jasmani dan rohaninya belum cukup matang mendengarkan cerita ini. Bahaya.

Pada dasarnya, memang tidak ada hubungannya antara September dengan tragedi mistis Sumberpost. Karena sesungguhnya, cerita ini tidak dapat ditemukan dalam kitab dan risalah manapun. Cerita ini terbentuk oleh imajinasi penulis sendiri. Tidak ada hubungan dengan dunia nyata. Dan kepada pembaca, jawaban cerita ini jelas. Ini adalah kisah fiksi. Jika terjadi kesamaan nama, tempat, dan tanggal, itu bagian dari unsur tidaksengajaan.

Dont’t be seriously, let’s laugh :)


Note:
-  Tidak bisa masuk Sumberpost maksudnya tidak bisa mengakses website sumberpost, karena domain kadaluarsa akibat telat bayar untuk perpanjang.
          -  Pemegang kunci Sumberpost maksudnya penyedia hosting web Sumberpost.
          -  Paragraf tujuh kebawah semuanya bualan.

Abdul Hadi Firsawan

Post a Comment

Instagram