Hidup Dalam Hitungan - 2

Ilustration: he.aliexpress.com

Olahraga Kamis sore empat tahun lalu terasa berbeda. Sore itu, kami disuruh joging dengan membawa bendera PMI. Para panitia berseragam KSR Unit 02 UIN Ar-Raniry ikut bersama kami, termasuk ambulance dan panitia yang membawa toa. Itu terasa ganjil karena tiga hari Diklatsar sebelumnya, tidak seperti itu.

Kami joging sambil meneriakkan mars PMI dan lagu lainnya. Keluar dari pintu pagar UIN Ar-Raniry, tepatnya di got simpang pertama arah kampus Unsyiah, barisan disuruh berhenti. Satu per satu, mulai Danton diikuti peserta lainnya, masuk ke got.

Saya merasa geli saat dipaksa masuk. Lumpur di got itu terasa kental. Kami diminta merayap di got hingga basah seluruh badan. Sambil menahan nafas, saya mulai merayap. Got penuh lumpur itu terasa licin.

Di satu titik, seorang panitia menaruh batas pada sisi got, sehingga kami harus menenggelamkan kepala ke dalam lumpur agar bisa lewati batas. Kami merayapi dua got dan beristirahat di depan Asrama Putri IAIN Ar-Raniry. Di sana kami periksa kondisi badan, Apa ada yang luka atau masuk lintah.

Kak Nurul (lupa saya nama cantiknya) peserta diklat juga, sudah terisak-isak latah. Dia bilang ke panitia di kakinya ada lintah, tapi panitia tidak menemukan. Karena tidak berhenti latah (mungkin karena jijik main got), panitia terus mengganggu Kak Nurul. Panitia tertawa senang, Kak Nurul menangis. Sedang kami diam saja.

Menuju kolam suci di depan Pasar Rukoh, Banda Aceh, Komandan Mahmudin menanyakan kondisi tubuh saya.

"Ada sesak?" tanyanya dengan suara kecil di samping saya.

"Nggak Dan."

"Kalau sesak nanti bilang ya." Saya balas dengan mengangguk.

"Dia semangat kali Dan, nyanyi keras-keras dari tadi," timpal Rizduan, peserta juga.

Sebenarnya saya agak risih ketika diperhatikan begitu. Kakak saya, yang adik leting Komandan Mahmudin memberitahu tentang riwayat penyakit sesak saya. Sudah dua kali dia menanyakan kondisi saya, pertama di hari kedua. Saya agak kesal saja, karena dianggap lemah.

Mandi di kolam suci (lumpur) mengembalikan ingatan saya ke masa kecil. Sehina-hinanya saya, tidak pernah mandi dalam lumpur, biarpun dulu saya suka mandi di got, dan itu got yang bersih. Kata panitia, waktu tsunami dulu banyak mayat berada di got-got dan kubangan, dan kolam suci hanya simulasi saja.

***
Selama diklat, dalam tidurpun kami harus siaga. Kami harus begitu kalau tidak mau dibuat usil panitia. Beberapa malam sebelumnya, bet nyawa saya diganti dengan teman saat sedang tidur. Panitia yang kurang kerjaan itu, membangunkan kami tengah malam untuk dibariskan. Ada peserta yang tertukar betnya. Alhasil, kami sekalian disuruh jungkir balik dan guling-guling.

Di malam lainnya, sepatu kami diikat atau ditukar dengan sepatu lain. Lagi-lagi panitia kurang kerjaan itu membentak kami karena sepatu yang kami pakai tidak lagi sepasang. Ada yang hanya pakai sebelah, atau kiri beda, kanan beda. Di tengah malam buta, kami masih bergelut dengan tanah, mengotori pakaian dan badan. Hanya demi kenyamanan mulut panitia yang berusaha mereda dongkol.

Kami diajari untuk selalu siaga. Sedang panitia selalu mencari kesalahan peserta. Ada saja salah kami. Untuk ambil buku tulispun, Korlap memberi izin dengan hitungan.

"Hitungan sepuluh harus sudah sampai sini lagi," teriak Korlap menyuruh saya berlari. Tidak sampai ke tempat dalam hitungan sepuluh, saya pernah jalan jongkok dan push-up.

Tegang Bos!
Peserta laki memang selalu punya cara untuk langgar aturan. Kalau ketahuan, ya semua peserta jadi korban. Bukan lagi rahasia kalau peserta yang kena jadwal piket, akan makan nasi duluan. Karena ketahuan panitia sejak hari pertama, dibuat peraturan bahwa peserta tidak boleh ada yang saling mendahului soal makan.

Tapi, soal rokok yang peserta isap sejak hari pertama, baru benar-benar ketahuan di hari terakhir. Awalnya memang ada panitia yang marah-marah tak karuan karena menemukan puntung rokok dari dekat tenda. Tapi setelah diperiksa, tidak ditemukan siapa pemiliknya.

Di hari terakhir diklat, orang piket merokok. Kabarnya rokok itu diberi oleh Komandan Hambali. Marahlah semua panitia karena jatah diklat belum habis, peserta sudah melanggar aturan.

Kami disuruh berbaris. Dibentak dan disebut "bengak" atau dalam bahasa bakunya, bodoh. Apa daya melawan bagi peserta seperti kami. Hanya bisa dengar dan memaki dalam hati. Seorang peserta, abang leting saya, dipanggil panitia untuk mengakui perbuatannya.

"Kau merokok ya!?" bentak Korlap.

"Siap. Nggak Kak!"

"Tipu terus kau! Saya nemu ini di belakang tenda kamu! Jujur kamu, dari mana kamu dapat rokok ini!"

"....."

"Kau jawab! Bisu kau ya?"

"Siap. Nggak kak!"

"Jujur, dari mana rokok ini?" ujar Korlap menahan emosi.

Seorang senior, kemudian mengambil alih peserta. Ia memberi sedikit penjelasan sambil mengancam. Entah bagaimana ceritanya, seorang peserta mengaku rokok itu diberi panitia.

Komandan Hambali kemudian datang, mengaku memberi rokok ke peserta dan memberi alasan. "Diklat sudah habis."

Seorang senior lainnya tidak terima dengan perkataan itu. Menurutnya peserta belum boleh selesai diklat karena tujuh prinsip saja masih tidak lancar. Korlap langsung merespon, agaknya kuping Korlap panas saat disebut peserta tidak bisa tujuh prinsip.

"Siapa bilang tidak bisa. Coba tes!" teriak Korlap membuat suasana yang sudah tegang, makin panas dan kacau.

Si senior yang tidak terima dibentak, kembali membentak Korlap kami dengan mengatakan peserta tidak bisa tujuh prinsip. Dalam hati, saya ingin teriak sambil baca tujuh prinsip. Tapi mental masih belum cukup, walaupun hati saya kesal dibilang tidak lancar tujuh prinsip. Jujur saja, kami sejak hari pertama ditekankan bisa tujuh prinsip. Hingga hari terakhir, itu sudah diluar kepala.

Komandan Hambali ikut membela kami. Ia berjanji jika masih ada peserta yang tidak bisa tujuh prinsip, ia bersedia menerima ganjaran. Lupa saya apa ganjarannya.

Karena sudah sama-sama tegang, kedua belah pihak, Korlap dan Komandan Hambali hampir terlibat baku hantam dengan senior satu itu. Untung panitia cepat memegang ketiganya. Kami semua melihat itu dengan wajah polos, diam ditempat, tidak bergerak sedikitpun. Kami sebenarnya tidak tahu mau buat apa, jadi nonton saja.

Komandan Iqbal DJ kemudian mengambil alih keadaan. Dia bilang, kedua belah pihak yang bertikai berembuk di dalam Musala Kompas. Tidak lama, suara bedebam-bedebum terdengar dari arah musala, disertai makian dan dentuman kaca.

"Kalian lihat itu? Panitia dan senior jadi berantam tok gara-gara satu orang diantara kalian isap rokok. Kalian tau, bagaimana sulitnya buat diklat ini. Kalian sudah kami didik dengan segenap hati, tapi masih saja makan hati," kata Komandan Mahmuddin dengan mata berkaca seperti hampir nangis, tapi suaranya berat, menahan emosi. Sepertinya dia benar-benar marah sama kami.

Panitia kembali ke tempat kami berbaris dengan sebuah keputusan. Satu dari kami disuruh kedepan bacakan surat keputusan rapat mendadak itu. Komandan Hambali berdiri tepat didepan kami. Kepalanya tertunduk menunggu dibacakan surat. Selangkah dibelakangnya Komandan Munazar (lebih akrab disapa Komandan Ridho) berdiri.

Seorang panitia kemudian membawa ember berisi berbagai makanan sisa yang sudah bau ke samping Komandan Munazar. Peserta disuruh siap-siap bacakan surat. Komandan Munazar bersiap-siap dengan ember bau itu.

Beberapa saat setelah surat dibacakan, ember berisi air bau itu ditumpahkan ke kepala Komandan Hambali. Ternyata Komandan Hambali sedang ulang tahun. Semua retorika tadi itu dirancang oleh pacarnya, Kak Beb. Benar-benar menegangkan.

Ternyata Mereka Baik
Ada hal menarik terjadi diakhir diklat. Saat makan siang, sebelum kami menutup acara di laut, Danton kami menyuruh seorang peserta membacakan doa sebelum makan.

"Mengawali makan siang kita hari ini, doa dibacakan oleh... Kondom," sebut Danton usai diam sejenak.

Kalimat itu cukup membuat kami tertawa terus sepanjang makan siang. Benar-benar nama yang sensitif bagi perempuan. Kak Aya (yang punya nama cantik Kondom), terakhir menjadi Bendahara Umum KSR PMI Unit 02 UIN Ar-Raniry tiga tahun kemudian.

Di hari-hari selanjutnya setelah diklat, kami diwajibkan ke sekret sebagai rumah kedua kami. Ada banyak hal yang terjadi. Saya (entah gimana prosesnya) bisa dekat dengan Komandan Hambali, juga dengan Wadan Harjo. Kedua orang ini pada dasarnya baik-baik, perhatian, dan benar-benar mengayomi. Hanya waktu diklat saja menjadi sedikit mengesalkan.

Pada dasarnya, kakak-kakak ini memang baik semua.

***
Di hari kedua diklat 2017 minggu lalu, peserta berlarian untuk berbaris. Suara Andre yang menjadi korlap menggema diantara sepi pagi di UIN Ar-Raniry. Selain korlap, beberapa senior lainnya juga bersuara keras menyuruh peserta berbaris.

Tiba saat makan, dalam hitungan sepuluh, nasi didepan peserta harus habis. Mereka tidak makan dengan lahap, seperti kami empat tahun lalu. Masih ada nasi sisa. Seorang panitia kemudian mengambil ember, menyatukan semua nasi sisa ke dalamnya, mengaduk rata berserta lauk, lalu bagi lagi.

"Hidup dalam hitungan memang cuma waktu diklat," kata Saprijal (nama cantiknya Donor. Diklat sekalian saya) yang juga Ketua Divisi Donor Darah KSR PMI Unit 02 UIN Ar-Raniry periode 2016-2017 pagi itu.

Saya menyaksikan dan mengenang kami empat tahun lalu. Tapi setelah berpartisipasi di berbagai aksi kemanusiaan, baru terasa kemampuan makan cepat itu memang dibutuhkan.

Baca juga: Hidup dalam Hitungan - 1

Abdul Hadi Firsawan

Post a Comment

Instagram