Hidup dalam Hitungan - 1

Ilustration: he.aliexpress.com

Ketika menulis kisah ini, saya baru saja membersihkan diri dari bau got. Suara bacaan ayat Alquran sayup-sayup terdengar dalam rintik hujan, menjadikan magrib di dalam kamar kumuh ini terasa syahdu.

Di jalan pulang ke rumah tadi, mantap sudah hati ini menulis tentang diklat, tentang awal perkenalan dengan PMI, tentang kesetiaan, kebersamaan, kebebalan, susah, senang, tentang apapun itu. Sudah seminggu saya tunda menulis tentang rasa ini.

Saat ini, mungkin saja peserta Diklatsar 2017 sedang dalam perjalanan pulang dari Pantai Alue Naga di Aceh Besar, atau sedang antri membasuh diri di lokasi diklat, mungkin juga sedang berganti pakaian. Saya tidak terlalu peduli. Badan saya jadi bau got ini juga gara-gara mengangkat mereka dari got, setelah merayap.

Entah bagaimana prosesnya, bau got seperti menyihir semangat peserta diklat, panitia, dan siapapun yang terlibat dalam proses diklat menjadi lebih hidup. Sesama peserta saling menyemangati, panitia menjaga peserta agar tidak ada yang sakit berat, senior memberi arahan, instruktur mengamati peserta, SC, pembina, serta senior mengontrol keberlangsungan halang-rintang serta memberi penjelasan kepada warga yang tidak mengerti proses diklat PMI.

Memang sih, ada peserta yang terluka, masuk lintah atau cacing dalam tubuhnya setelah merayap di got. Tapi percayalah, itu semua menjadi kenangan indah.

Sekitar empat tahun yang lalu, saya mengikuti diklat KSR PMI unit UIN Ar-Raniry (kala itu masih IAIN). Waktu itu, diajak oleh teman seunit. Saat mendengar nama PMI, saya membayangkan sesuatu yang keren. Memakai baju seperti dokter, memeriksa kesehatan orang, menolong orang yang terkena bencana, dan dapat seragam PMI.

Saat pertemuan pertama dengan instruktur, saya berhalangan untuk datang. Dari seorang teman, saya tahu berada di kelompok 3, Kenetralan. Sehari setelahnya saya datang seorang diri ke Markas KSR PMI unit UIN Ar-Raniry untuk tanya tentang diklat dan kebutuhan yang harus saya bawa.

Beberapa orang tampak berdiri di pintu masuk markas. Di sana saya bertemu Salmadi dan Mulyassir, teman sekelompok. Berbagai kebutuhan kami beli siang itu juga.

Mulai Kesal
Pembukaan diklat dilaksanakan, kami para peserta saling bercengkrama dan bercanda. Dari hampir seratus orang yang lulus screening test, hanya 50 orang kurang sedikit yang datang saat pembukaan.

Seorang teman seunit mengabarkan melalui pesawat telepon, kalau dia sudah di kampus dan bersiap mengambil surat dispensasi kuliah saya selama kegiatan diklat. Panitia mengarahkan saya untuk minta izin sama komandan, yang saya belum tau namanya.

"Yang keluar masuk, keluarkan saja. Tidak usah ikut diklat," kata seorang senior berambut gondrong dengan pakaian kaos dan sandal, kepada komandan berjanggut lebat.

Si komandan menanggapi perkataan itu dengan santai, tapi senior gondrong di sebelahnya terus provokasi. Saya mengumpat dalam hati, mengapa si janggut lebat, orang yang punya kedudukan tinggi, takut sama si rambut gondrong yang hanya memakai kaos dan sandal. Tak nampak pun wibawanya. Terakhir saya tahu, rupanya si rambut gondrong itu mantan komandan. Hambali namanya.

Mungkin komandan berjanggut lebat, Munazar, sudah cukup sakit kepala dengan peringatan Wakil Rektor III IAIN Ar-Raniry, Safyan Ibrahim yang mengingatkan pengurus KSR PMI perguruan itu untuk tepat waktu dalam setiap acara.

Makan siang setelah pembukaan disiapkan panitia. Makan malamnya, baru kami masak sendiri. Awalnya beberapa orang enggan masak nasi, karena malas. Tapi setelah malam ini, rasa malas itu berubah.

Usai mendirikan magrib, kami dibariskan rapi dua saf di teras Musala Kompas, masih dalam lingkungan kampus. Beberapa senior memaki kami karena tidak bisa duduk rapi, makanan tidak seragam, dan lainnya. Mereka memang mencari-cari kesalahan kami. Seperti apam!

"Duduk siaaaaappp grakk!" teriak danton kami, Irwan Mus (saya lupa nama cantiknya apa). "Mengawali makan malam ini, doa dibacakan oleh..." Danton diam sejenak, kemudian menyebut sebuah nama.

"Jangan ada yang ngomong! Tangan cari mulut! Makan yang cepat!" teriak-teriak senior seperti orang kesurupan. Mereka menghitung sampai sepuluh, lalu kami harus berhenti makan.

Kami tidak menghabiskan makan malam, karena waktu habis. Senior kembali teriak-teriak. Mereka bilang kami tidak menghargai petani, suka buang-buang nasi yang bagi orang miskin sulit didapat, dan umpatan lainnya.

Seorang senior dengan wajah dongkol lalu berjalan diantara kami, menenteng ember hitam, memasukkan semua nasi sisa ke dalamnya, mengaduk-aduk nasi pakai tangan, untuk dibagikan kembali ke kami dalam bentuk yang sudah tidak enak dilihat, apalagi di makan.

Hampir semua kami memasang muka masam. Mana mungkin nasi yang sudah diremas, dicapur-aduk dengan mie, sayur, tempe, masih enak di makan. Setelah semua senior membagi rata nasi dalam piring, kami diberi waktu sepuluh detik untuk makan. Dengan perasaan jijik, saya coba makan. Ambil lauk saja, nasi tidak.

Karena masih ada sisa di piring kami, hal serupa diulang kembali. Nasi dikumpulkan di satu tempat, diaduk rata, dibagi lagi. Selanjutnya kami tidak lagi makan nasi. Apapun yang ada di piring, semua kami telan bulat-bulat. Saya beberapa kali tahan nafas saat telan.

Senior yang sok-sok garang itu menceramahi kami beberapa hal tentang kebersamaan. Saat itu saya pertama kali dengar kata, "jangan makan tulang kawan". Maksudnya jangan membiarkan kawan sendiri sengsara, kita harus meringankan beban sesama.

Sebelum masuk materi di ruang, kami dibariskan. Di suruh baris-berbaris, tapi banyak yang salah. "Bengak terus kau!" tandas senior muka tirus bernama Saprijal. Dia ini cukup pongah untuk beberapa kali menggertak saya selama diklat. Apam!

Para panitia dan senior menyebut itu materi lapangan. Di sini, kekuatan mental lebih ditekankan.

Wadan (Wakil Komandan) Harjo, senior perut besar yang cukup saya benci selain Komandan Hambali, selama diklat sering kali menyuruh kami merayap di lantai penuh debu. Saya cukup kesal dan dongkol dengan hukuman ini. Saya punya riwayat sesak nafas. Itu bisa kambuh kalau hidung atau mulut ini terlalu banyak hirup debu dan asap.

Merayap di atas keramik juga tidak menyenangkan, setidaknya bagi saya dengan Danton yang punya tubuh kurus. Siku, tulang pinggang, lutut, dengan mata kaki sering sakit saat membentur keramik.

Hingga jelang tengah malam, kami tidak lagi memperhatikan materi karena mengantuk. Untuk diakui sebagai anggota PMI, kami harus ikut materi 120 jam, Diklatsar tujuh hari tujuh malam, selebihnya latihan mental dan emosional di lapangan.

Di dalam tenda, kami tidak berencana langsung tidur. Panitia beberapa kali memukul dan teriak-teriak di dekat tenda untuk mengingatkan agar tidak ada suara lagi dari dalam tenda. Kami diharuskan cepat-cepat tidur agar tidak sempat menggunjing panitia.

Emosi amat terasa dari setiap sudut tenda kami. Saprijal, peserta dari STAI Tapaktuan mencela panitia, saya juga, Yasir juga, Salmadi juga, yang lainnya juga, bahkan tenda sebelah juga mencela. Tidak ada yang menyangka kami akan diperlakukan seperti ini. Sama sekali tidak seperti yang saya bayangkan di awal, tidak sekeren itu!

"Kalau kita seperti ini terus. Saya tidak tahan. Lebih baik keluar," ujar Saprijal dalam bahasa Aceh. Kami mengiyakan. "Masuk-sama-sama, keluar sama-sama," lanjutnya.

Tidak lama kemudian perut kami lapar. Dalam tenda ada mie, tapi kami enggan buka karena takut bunyi remasan mie didengar panitia. Dari sela tingkapan tenda, kami mengintai panitia. Tidak nampak.

Suara remasan mie ternyata lebih dulu terdengar dari tenda tetangga, yang penghuninya juga lelaki semua. Saprijal menyuruh salah satu diantara kami keluar dan masuk ke tenda sebelah, melihat apa yang terjadi. Tidak ada yang berani. Ia keluar sendiri lewat belakang, masuk ke tenda sebelah, dan bercengkrama beberapa waktu.

Sesekali terdengar cekikikan dari tenda sebelah. Dari Saprijal kami tahu kalau warga tenda tetangga juga dongkol dengan panitia, dan sepakat satu suara. Jika satu pulang, semua pulang. Untuk hal satu ini kami selalu sepakat di mulut.

Karena tidak tahan lagi, satu mie kami buka. Yasir yang berusaha tidur sejak tadi, langsung bangun dan menengadahkan tangan.

Sebelum azan subuh dikumandangkan, Korlap dan beberapa orang membangunkan kami dengan memukul tenda dan teriak-teriak serupa orang kesurupan. Mereka menghitung sampai sepuluh, kami semua harus sudah berbaris.

Semua kami lengkap berbaris. Tapi karena buru-buru, tali sepatu lupa diikat. Turunlah kami sekalian untuk push up. Panitia mengingatkan kami dalam bencana untuk selalu siaga diri, jangan seperti ini, yang tali sepatu pun lupa ikat. "Kalian harus terus siaga. Kesalahan kecil bisa membuat kerusakan besar. Bengak terus kalian!" teriak si muka tirus yang menciutkan nyali ayam untuk kembali berkokok.

***
Entah di hari ke berapa, saya lupa. Eks Komandan, Sabar dan beberapa teman senior lainnya mengawal kami di kegiatan pagi. Peserta yang bertugas sebagai piket sudah menyiapkan makanan. Dari depan tenda, kami berbaris menunggu aba-aba makan.

Komandan Sabar memberi intruksi kepada kami untuk jalan jongkok dari tempat kami berdiri ke tempat makan yang jaraknya beberapa langkah. Setelah jongkok rapi di beberapa langkah depan nasi, komandan memberi intruksi.

"Tangan kanan angkat semua." Kami mengangkat tanpa ragu.

"Tepuk-tepuk di tanah," perintahnya yang membuat kami ragu-ragu. Setelah memastikan semua tangan kanan peserta kena tanah, komandan menyuruh kami duduk rapi. Melalui intruksi Danton dan baca doa, kami makan.

"Bagaimana caranya kita makan, tangan sudah kotor. Gak di kasih cuci pulak," bisik saya ke Saprijal. "Makan terus, cacing saja hidup di tanah. Dalam tanah juga ada vitamin."

Saya makan tanpa ragu. Benar-benar motivasi yang manjur. Panitia belum selesai menghitung, nasi di piring saya sudah habis.

Selama diklat, saya dan Saprijal cukup dekat. Waktu malam renungan, kami bergenggam tangan karena berdiri bersebelahan. Jika dilihat dari segi umur, Saprijal ini abang leting saya. Badannya tegap, berbentuk, dan setinggi saya.

Ya ampun, tengah malam itu ia meronta-ronta kuat. Saya genggam tangan dia erat-erat. Tapi kuat sekali dia. Saya juga pingin nangis ketika dengar seseorang yang disuruh panitia menyampaikan siraman rohani ke kami. Kami mendengar siraman rohani itu dalam keadaan mata tertutup. Menghayati sekali. Dan Si Apam suruhan panitia itu pun cukup piawai menyentuh hati peserta dengan memberi tamsil orang tua kami meninggal dunia.

"Mak... Mak... Saya pulang sekarang. Mak... Mak... Huuu.. Huuu.." tangis Saprijal dalam bahasa Aceh. Tangan dia erat sekali genggam tangan saya. Rasanya pingin saya lepas saja. Tapi panitia, Kak Beb dengan Kak Suprijal terus-terusan ingatkan kami agar tidak melepas genggaman tangan teman sebelah.

Saya yang juga ikut menangis, jadi bingung dan perasaan bercampur-aduk, antara rasa haru dari siraman rohani dengan sakit digenggam Saprijal. Panitia akhirnya mengevakuasi Saprijal yang sudah tak karuan. Kemudian saya menggenggam tangan peserta wanita, yang tangannya terasa lembut. Ahhhh, subuh yang penuh rasa.

Baca juga: Hidup dalam Hitungan - 2

Abdul Hadi Firsawan

Post a Comment

Instagram