Beban Ketua Kita

Foto: https://pxhere.com/id/photo/71722
Suasana hati terasa cukup berat usai rapat bersama para relawan di Markas KSR PMI unit 02 UIN Ar-Raniry. Saya akan mengikuti Youth Volunteer Summit yang digelar KSR unit Unsyiah di Sabang selama seminggu. Padahal, Sumberpost sedang perekrutan anggota baru.

Itu masa-masa kritis karena dua agenda Sumberpost dijalankan bersamaan; rekrutmen dan lomba. Dengan jumlah anggota aktif yang kurang dari sepuluh, kami menjalankan dua kegiatan itu dengan dua ketua, Aprizal sebagai ketua panitia perekrutan dan Zuhri untuk panitia lomba, yaitu lomba blog, foto, dan Surat untuk Rektor.

Ketika saya pergi mengikuti kegiatan Youth Volunteer Summit pada 7 November 2014, anggota Sumberpost sedang melindungi diri dari matahari di bawah tenda ukuran 2x2 meter, seraya menunggu orang-orang mendaftar. Kepergian saya tentu saja diiringi “dera negatif”.

Setelah menikmati panorama Sabang yang cukup memukau bersama peserta dari berbagai universitas di Indonesia, saya kembali. Suasana masih sama. Pagi buka tenda perekrutan dan duduk di sana jika kosong jadwal kuliah.

Di suatu siang yang cukup terik, anggota aktif Sumberpost berkumpul di bawah tenda. Saat itu kampus lengang.

"Di, duduk di sini. Jangan kemana-mana." Saya yang baru parkir sepeda motor langsung kena penegasan oleh Dofa. Di sana sudah ada Zuhri, Aprizal, Maya, dan Rizqi, kami anggota baru waktu itu. Sedangkan pengurus saat itu ada Rayful, Dofa, dan Bibi. Fuadi sampai belakangan.

Terik matahari agaknya membakar semangat mereka siang itu. Angin seperti enggan bertiup, menjadikan suhu makin panas saja.

"Jadi seperti apa, coba ceritakan. Siapa dulu ni? Zuhri aja dulu," kata Rayful memulai mediasi.

"Aku terus terang marah dengan Aprizal. Sakit hati. Capek bang. Ini harusnya kerja sama-sama. Tapi aku kayak kerja sendiri."

"Apa kerja sendiri? Jelasin yang betul." Aprizal langsung panas.

"Hampir setiap pagi aku buka tenda ini. Tunggu anak baru daftar. Aprizal yang harusnya begitu karena dia ketua (perekrutan)! Aku ngurusin lomba lagi. Waktu itu yang ambil spanduk pemberitahuan open recruitment juga aku. Yang sering ada di posko juga aku. Sampai kuliah aku tinggalin!"

"Aku juga ada buka tenda pagi-pagi, duduk sendiri. Aku udah pergi sekali ke tempat cetak spanduk, tapi di bilang belum siap. Siang-siang dalam terik aku pergi. Jangan bilang aku nggak kerja! Anak yang daftar lomba juga sering aku yang kasih penjelasan. Waktu kita sebarin brosur lomba aku juga ikut. Sebenarnya itu bukan tugas aku, cuma karena aku kasihan makanya ku bantu!"

"Kamu Jal jangan besar kali suara!!" lantak Zuhri dalam bahasa Aceh.

"Jangan pikir kamu aja yang ada kerja! Aku dalam panas kerja. Bukan seperti kamu, takut hitam. Soal kuliah, itu pande-pande kita atur jadwal."

Sepertinya suasana makin panas saja. Kami semua diam mendengar emosi-emosi yang tumpah dari Zuhri dan Aprijal.

"Huuuufftt.. udah-udah, jangan bertekak lagi. Nanti bisa berantam kalian. Yang laen apa ada masalah selama ini. Bilang terus di sini," ujar Rayful.

"Buat kegiatan sama-sama pun bisa berantam. Macam pantat!" cela Bibi.

"Bibi jangan perkeruh suasana. Mereka lagi belajar. Kita dengar dulu semua," tutur Dofa dengan lagak seperti pemimpin. Rayful yang duduk bersila di sampingnya angguk-angguk.

"Kalau aku merasa nggak ada masalah apa-apa. Selama ini kayak santai aja. Tapi aku gak tau ya, apa ada orang yang kurang senang ma aku. Kalau aku merasa gak ada masalah ma siapapun," terang Maya serius.

Kemudian giliran Rizqi yang ditanya. Dia menjawab dengan agak lamban. Intinya tidak punya masalah apapun dengan siapapun. Menurut saya Maya dan Rizqi punya masalah dalam organisasi. Mereka masih kurang aktif! Walau saya juga begitu.

"Hadi ada masalah apa. Bilang terus sekarang jangan diam-diam aja." Dofa menghardik dengan intonasi yang cukup sinis. Saya menjawab tidak seraya menggeleng. Memang tidak ada apa-apa, saya membatin.

"Jadi gini.." Fuadi Mardhatillah mengambil alih. Dia ini Pemimpin Umum Sumberpost masa itu.

"Kalian berdua sebenarnya sama-sama kerja. Tapi sama-sama nggak tau dan nggak lihat. Kayak tadi Zuhri bilang, pagi-pagi buka tenda abis tu jaga sendirian. Siang baru ada anggota lain datang. Gitu juga Aprizal, kadang dia yang buka tenda pagi, Zuhri lagi nggak ada jadi dia nggak lihat kalau Aprizal juga kadang buka tenda pagi-pagi. Waktu Aprizal ambil spanduk Zuhri nggak lihat. Waktu Zuhri kerja, Aprizal yang nggak lihat. Jadi sama-sama ada kerja tapi sama-sama merasa bekerja sendiri. Waktu kalian udah capek badan dengan pikiran, jadilah kayak gini. Emosi. Bertengkar. Saling menyalahkan."

"Sebenarnya nggak ada yang salah dari kalian. Kalian cuma perlu istirahat aja. Ini masalahnya sama kayak si Desi dulu. Waktu kalian PJTD tu, dia kuat kali kerja sampek waktu istirahat pun kadang dia kerja. Efeknya apa, waktu udah capek emosinya jadi labil. Jadi merasa cuma dia seorang yang kerja. Nah, ini bagusnya kita ngomong terbuka, jadi tahu masalahnya di mana. Ini juga jadi masukan untuk kita semua. Sekarang kita harus lebih bagus lagi dalam komunikasi."

Rayful kembali angguk-angguk kepala, beberapa saat kemudian meminta Zuhri dan Aprizal bersalaman, saling memaafkan. Mereka tersipu.

"Ini semua sudah selesai kan? Aku izin dulu ya. Ketemu orang bentar." Ah, kalimat sok sibuk Bung Dofa barusan sungguh merusak suasana haru. Biarkan dia pergi.

Alfatihah, untuk Kita
Tidak butuh waktu lama untuk Zuhri kembali sakit kepala. Tugas Aprizal menguap begitu saja ketika perekrutan selesai. Sedangkan Zuhri masih harus memikirkan Malam Puncak Sumberpost pada 29 November 2014 mendatang. Malam Minggu itu akan diumumkan pemenang lomba blog, foto, dan Surat untuk Rektor. Selain itu anggota baru yang lulus dan akan mengikuti proses magang juga diumumkan malam itu.

Di Kantin Jamiah, Zuhri masih terlihat galau dengan kopi hitamnya. Pagi itu saya menemaninya sebentar karena akan masuk kuliah. Jelang siang, Zuhri bertemu Awi, abang letingnya di kampus. Entah diskusi macam apa yang dibicarakan, yang jelas menghasilkan ide menarik.

Malam Puncak Sumberpost rencananya akan berlangsung serangkai dengan nonton bersama film dokumenter berjudul Jalan Pedang. Film itu dibuat oleh Dandhy Dwi Laksono, bercerita tentang konflik di Aceh antara Gerakan Aceh Merdeka dengan tentara RI hingga kesepakatan damai di Finlandia pada 2005.

"Bang Awi bisa usahakan ruang teater di Fakultas Adab. Kita kerja sama juga dengan HMJ SKI. Ada penampilan musikalisasi puisi juga. Gimana kira-kira?" gagasan itu dilempar Zuhri dalam rapat di sekret Sumberpost.

"Boleh, bisa tu. Aku setuju aja, yang penting kalian set-lah waktunya, jangan sampek telat kali selesai acaranya," kata Fuadi.

"Aaa, jadi rangkaiannya udah kubuat ni. Pertama sambutan pimpinan umum, rektor, abis tu pengumuman lomba. Di sela pengumuman lomba itu ada dua penampilan, musikalisasi puisi dari HMJ SKI, dengan dari kita bang. Abis bagi hadiah juara, kita umumkan anak-anak yang lulus magang. Abis tu baru kita nonton film Jalan Pedang."

Fix, nggak ada bantahan.

Hari-hari berlalu tanpa beban. Hingga sehari sebelum hari H, ternyata spanduk belum siap. Rayful, sebagai Pemimpin Redaksi yang baik, ikut membantu Zuhri meminta Bibi agar segera selesaikan spanduk. Bibi mengiyakan dengan tenang. Zuhri tersenyum gusar.

Sabtu siang, kami cek semua peralatan di ruang itu. Sudah cukup mantap. Spanduk bisa dipasang sorenya. Persiapan sudah matang bener.

Usai Magrib, kami semua datang ke ruang teater Fakultas Adab dan Humaniora. Sebelum acara dimulai, kami minum kopi segelas. Rayful, Dofa, dan Zuhri terlihat mondar-mandir. Karena penasaran, saya mendatangi mereka yang sedang berkumpul di suatu sudut ruangan.

"Apa juga Zuhri bilang udah siap semua?" tanya Rayful.

"Abang dengar sendiri tadi yang mereka bilang kan? Orang itu bilang semua beres, panitia acara formal untuk pembukaan dari HMJ SKI, acara non formal baru dari kita," tutur Zuhri.

"Jadi kenapa bisa kayak gini. Minta tanggung jawablah sama orang tu," tukas Dofa. "Sekarang ni kita gak ada orang yang bisa ngaji bagus. Gak mungkin lagi kita suruh orang. Udah mendadak kali ni."

Aku lantas menjauhi mereka, takut tertular beban pikiran. Sementara itu, satu per satu peserta acara memenuhi kursi ruangan.

Pukul delapan lewat sedikit, acara dimulai. MC mengawali kegiatan dengan membaca basmalah. Lalu meminta Dofa Muhammad Aliza mengaji untuk keberkahan acara. Aku yang duduk di kursi paling belakang, melihat Rayful tersenyum melihat Dofa.

Dofa maju tanpa membawa Alquran. Hebat. Memang alumni pesantren modern ini tidak diragukan lagi masalah agama. Setelah mengucapkan salam, Dofa mengaji.

Bismillahirrahmanirrahim... Alhamdulillahirabbil 'alamiin...

Ya ampuun, ternyata yang dibaca Bung Dofa surat Alfatihah. Di sayap kiri ruang, Bibi yang awalnya kecicikan, sudah tidak bisa menahan tawa lagi. Dia berlari kecil keluar ruang sambil tertawa. Hal yang sama dilakukan Rayful.

Dofa tidak gentar. Irama bacaannya tetap terjaga, hingga ia menyelesaikan bacaan, mengucap salam, dan berjalan keluar ruangan dengan bersahaja. Di luar ruangan, suasana pecah dengan kegilaan yang baru saja Bung Dofa lakukan. Tidak ada yang menyangka. Seumur-umur saya hidup dan ikut berbagai acara, tidak ada yang mengaji Alfatihah dalam sebuah acara, ayat apapun itu minimal bacaannya berirama. Sungguh keberanian yang berkah.

Tapi alhamdulillah sekali, acara berlangsung aman hingga selesai. Bahkan Rektor pun menonton film dokumenter hingga selesai.

***
Seperti tahun sebelumnya, anggota baru yang akan magang, lebih dulu mengikuti Diskusi Santai untuk lebih dalam mengenal Sumberpost. Acara ini hanya diperuntukkan bagi anggota yang lulus tes kemarin.

Maka, dalam kepengatan aroma siomay yang memenuhi sekret, diputuskan saya menjadi ketua panitia untuk acara Diskusi Santai. Zuhri langsung menambah noda bau asam ruangan itu. "Nyan, makan tuh. Rasain sendiri jadi ketua panitia. Gimana peningnya. Aku nggak mau bantu," tandas Zuhri jenaka.

"Tenang Di, nggak usah takut. Kita selesain sama-sama nanti," kata Rayful. Saya tahu kata-kata itu basi. Hanya agar saya tetap mau menerima keputusan tadi.

***
Berbagai pengalaman baik-buruk Zuhri-Aprizal lalui bersama dalam kegiatan organisasi dan jurnalistik. Sudah lama mereka bisa saling bekerja sama. Satu kesamaan mereka, yang tak hilang meski sedang saling bermusuhan; menganggap semua yang bersisik itu ikan, padahal ular juga bersisik.

Note:
Tulisan ini sebagai pengganti kehadiran saya diacara wisuda Zuhri dan Aprizal. Yaah.. tahulah kalian sebab saya berhalangan hadir. Seandainya acara wisuda dibuat sore...
Btw.. Aprizal saat ini menjadi kontributor Inews TV Aceh, dia jadi Kepala Litbang Sumberpost 2016-2017. Zuhri koordinator liputan mediaaceh.co, juga videografer lepas untuk media nasional dan internasional, pernah jabat Pimpinan Umum Sumberpost 2015-2016.

Abdul Hadi Firsawan

Post a Comment

Instagram