Nasi-nasi yang Tumpah

Ilustrasi: http://patternvomit.tumblr.com/post/87137975922
Pergelaran 10.001 Saman sungguh menarik untuk ditonton. Itu acara dengan gengsi internasional. Jumlah penari yang banyak menjadikan pergelaran Saman ini dilirik banyak pihak dan media. Di samping itu, tarian Saman yang berasal dari Gayo ini ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya dunia tak benda oleh UNESCO pada 2011.

Saya sungguh tertarik untuk datang dan menyaksikan langsung. Sejak akhir Juli 2017, saya mencari-cari teman untuk pergi ke Kabupaten Gayo Lues. Saya dan Reza Fahlevi awalnya berencana berangkat bersama dengan sepeda motor milik Reza. Ada juga beberapa teman di komunitas perfilman Trieng yang mungkin akan ikut.

Namun, 5 Agustus Reza memberi kabar batal pergi, terkendala dana. Jadilah ia menyarankan saya pergi dengan Iwan, teman di kampus UIN Ar-Raniry. Iwan begitu bersemangat, juga saya.

Kami bertemu di kantin kampus pada Senin membahas berbagai hal dan persiapan. Toniro yang duduk di meja sebelah memberitahu perjalanan Banda Aceh - Gayo Lues akan memakan waktu sekitar 20 jam.

"Hahaha.. 20 jam?" Iwan melihat saya dan kembali tertawa jenaka hingga kawat giginya nampak. Iwan sungguh tak menyangka perjalanan akan begitu lama. Apalagi akhir-akhir ini Aceh sering diguyur hujan. Ia mengira Banda Aceh - Gayo Lues hanya memakan waktu sekitar delapan jam. Untuk diketahui, Gayo Lues merupakan daerah dataran tinggi dengan suhu udara dingin.

Saya masih cukup santai mengetahui lamanya perjalanan yang akan kami tempuh dengan sepeda motor. Kalau hujan, kan ada mantel. Budget aman. Logistik aman. Rencananya kami berangkat Kamis, 10 Agustus. Akan singgah di Takengon, Aceh Tengah, sebelum kembali gas ke Gayo.

Namun Tuhan menginginkan rencana yang saya dan Iwan bahas di sudut kantin Senin itu tetap menjadi rencana. Sehari sebelum rencana keberangkatan, saya meminta izin Nyakmi. "Kalau pergi berdua dengan sepeda motor, nggak boleh."

Saya juga merasa Nyakmi keberatan beri izin karena kuliah saya belum selesai. Orang-orang mungkin menilai, saya lebih mementingkan motret daripada kuliah.

Saya langsung memberi kabar kepada Iwan bahwa saya tidak bisa berangkat besok. Tidak dikasih izin. Saya menawarkan Iwan untuk mencari teman lain yang mau ke Gayo dengan sepeda motor atau pergi dengan mobil. Iwan lantas suuzon. Saya merasa tidak enak kepadanya.

Sampai Kamis, keberangkatan saya ke Gayo Lues masih belum jelas. Saya menghubungi Zuhri dan Bang Muksal menanyakan lowongan untuk nebeng. Sebelumnya pada 8 Agustus, saya sudah ditawari pergi dengan mobil oleh Zuhri, tapi karena sudah janji sama Iwan, saya menolak tawaran itu.

Akhirnya, karena seorang yang akan berangkat dengan kelompoknya Zuhri batal pergi, jadilah saya ikut dengan mereka. Bang Munjir, Jol Masri, Fahzi, Khalis, Zuhri, dan saya berangkat satu mobil. Dari segi umur, saya yang paling muda diantara mereka.

Jumat Bahagia
Hijratul Ahyar, seorang teman yang akan wisuda dua minggu lagi mengantar saya ke warung kopi Solong Ulee Kareng. Saya dan Ahyar se-ruang sejak pertama masuk kuliah hingga mata kuliah berakhir di semester V. Dia teman yang IPK-nya tidak pernah lebih tinggi dari saya, tapi mampu selesaikan kuliah lebih cepat dari saya.

Jumat sore, saya menghabiskan waktu baca berita dan komik seraya menyeruput teh tarik panas di warung kopi itu. Saya menunggu dijemput oleh Bang Jol yang baru sampai sekitar satu jam kemudian. Bersamanya ada Bang Munjir dan Khalis.

Fahzi datang kemudian diantar temannya. Wajahnya sumringah. Itu jelas, sebab hampir saja dia ditinggal oleh banyak teman pewarta yang dominan ke Gayo Lues. Zuhri lalu tiba dengan kacamata hitam yang kece.

Tim lengkap sudah. Kami berangkat. Tapi.. ngevlog dulu guysss..

Setelah salat Magrib di masjid daerah Aceh Besar, kami jalan lagi dengan Bang Munjir sebagai pengemudi. Fahzi duduk di belakang. Saya, Khalis, dan Zuhri di tengah. Dua lainnya di depan. Mereka berdua bergantian bawa mobil.

Grup WhatsApp (WA) Pewarta Kutaraja riuh malam itu. Di grup itu, Aprijal mengingatkan saya agar tidak muntah dalam mobil. No comment.

Kami terbagi menjadi tiga tim. Saya dan lima orang lainnya dalam satu mobil tim Semut Merah. Bang Agus, Hendri Abik, Dani, Hafiz, dan lainnya tim Bunglon, dan Aprizal yang pergi bersama orang Leuser Lestari tim Elang. Nama-nama itu lahir spontan di grup WA.

"Tim bunglon masih di pijay.. Ganti ganti," tulis Dani.

Semenit kemudian Bang Agus tulis, "Aku sama tim bunglon udah sampe bernun, siap menjaga dek Afla Nadya di sana."

"Aseeek," tulis Hendri Abik.

"Kami tim elang aman, tim semut api timnya bg Zoel masri?" tanya Aprizal.

Perjalanan kami sebelum mencapai Seulawah aman. Masih bahagia. Fahzi menceritakan betapa sedihnya ia jika ditinggal sendiri di Banda Aceh. Memang, Fahzi baru bergabung sejam sebelum keberangkatan karena seseorang batal ikut dengan kami.

Memasuki jalan pegunungan Seulawah, kami tidak lagi banyak bicara. Saya fokus tidur supaya tidak muntah. Hujan turun membasahi jalan.

Sabtu dinihari, kami tiba di Bireuen untuk ngopi sebelum naik ke Bener Meriah. Di atas meja kayu, minuman ditaruh. Bagi orang yang lidahnya tebal seperti saya, rasa sanger ekspresso di sana sama dengan di Banda Aceh dan tanah Gayo.

Zuhri melakukan swafoto, mengunggahnya di facebook dan menandai saya. Sesuatu yang biasa saja, tapi memberi hal berbeda dinihari itu. Karena foto itu, seorang dedek gemes dari masa lalu tiba-tiba ngechat saya.

Sekitar pukul 02.00 WIB, kami bergerak ke Bener Meriah. Suasana pening kembali menyelimuti saya. Di malam yang dingin itu, dengan jalan berkelok-kelok, entah apa yang Fahzi rasa. Saya lupa apa dia muntah malam itu.

Di satu tikungan maut yang cukup patah, mobil sempat mati tanpa sebab. Bang Munjir panik sebelum berhasil menguasai kembali kemudi mobil. Bang Jol bangun. Dia bilang, kami baru saya diganggu makhluk gaib di situ. Beberapa bulan lalu, satu mobil berpenumpang masuk ke jurang di tikungan tadi.

Subuh, kami sudah di Masjid Raya Takengon. Suhu udaranya sungguh dingin. Saya tak kuasa menahan gigil. Ketika kencing dan menyiram, suhu airnya cukup membuat "si john" dalam kancut menciut.

Bertahan, Kamu Tidak Sendiri
Kami mengambil Kecamatan Desa Bintang, menuju Gayo Lues. Panorama yang ditawarkan begitu epik; pengunungan, Danau Lut Tawar, kabut, dan aktivitas nelayan. Kami terus jalan.

Persinggahan kami di enam tempat. Pertama di sebuah meunasah samping Danau Lut Tawar untuk Zuhri buang hajat.

Kedua, makan pagi di Desa Ise-ise, Kecamatan Pantan Cuaca, Gayo Lues. Waktu kami sampai, nasinya masih panas, lauknya baru saja disajikan, air putihnya yang ditaruh dalam termos masih panas sekali. Dua remaja putri yang bekerja di situ menarik perhatian Fahzi.

Dari Ise-ise ke Blangkeren, Gayo Lues, masih berjarak dua jam. Perjalanan kami lanjutkan. Memasuki pegunungan dengan pohon pinus menjulang di sisi jalan, kami berhenti sebentar untuk ambil foto.

Lebih jauh lagi, hutan semakin lebat, pepohonan semakin rindang, daratan semakin tinggi. Awan-awan sudah setara tingginya dengan kami. Panorama yang sulit abaikan.

"Lis, ambil gambar yang bagus. Bisa jadi stok," ujar Bang Jol. Kaca mobil pun saya turunkan.

Saya dan Khalis mengabadikan beberapa pemandangan. Angin dingin yang masuk ke mobil membuat Fahzi semakin mengencangkan balutan jaketnya.

Sejak naik dari Ise-ise kepalanya sudah digandrungi aroma pening. Kini ia tengah berjuang melawan muntah. Saya lupa, apa di kantong plastik yang disediakannya, sudah terisi oleh muntah. Memang, mobil yang dibawa Bang Munjir terasa sekali guncangannya bagi yang duduk di belakang.

"Berapa lama lagi sampek Blangkejeren?" tanya Fahzi.

"Tiga jam lagi," jawabku sekenanya.

"Omaa euukk!!"

Di sebuah bukit yang memperlihatkan landscape pegunungan dan desa kecil, kami berhenti. Fahzi melancarkan kerongkongannya dari muntah. Begitu juga Bang Jol.

"Aku tidak pernah begini. Padahal udah beberapa kali jalan di gunung. Hari ini entah kenapa mual," keluhnya dalam bahasa Aceh. Ia juga mencoba muntah, tapi sepertinya tidak keluar.

Khalis, Zuhri, saya, dan Bang Munjir masih segar-bugar.

Rinai hujan menyertai perjalanan kami selanjutnya. Di kedai daerah Pantan Cuaca, kami berhenti membeli beberapa permen. Saya juga minta plastik untuk keperluan Fahzi.

Sekitar 15 menit perjalanan, Fahzi benar-benar muntah. Mengeluarkan bau sambal lado yang disantapnya di rumah makan Ise-ise tadi. Aroma muntah menyebar cepat ke seluruh ruang mobil.

"Muntah.. ke tepi.." ujar Bang Jol. Dia benar-benar muntah kali ini.

Bang Munjir lantas menepi. Bang Jol buka pintu dan menumpahkan semua nasi dalam perutnya persis semeter samping lampu mobil. Warnanya kuning dengan butiran nasi di dalamnya. Zuhri turun. Mencoba mengendalikan diri dari muntah. Fahzi juga turun. Mereka berdua jongkok berdampingan menghadap rerumputan.

Kedua orang ini sulit mengeluarkan muntah dalam perutnya. Saya menduga mereka kurang pengalaman dalam hal ini.

Khalis yang tiba-tiba berdiri samping saya mengendalikan diri agar tidak ikut muntah. Seyogyanya dia tidak mual, hanya saja, "Kata orang jaman, walaupun kita nggak mual, jangan lihat orang muntah. Kalau nggak kita ikut muntah juga nanti," terang Khalis.

Bang Munjir ketawa melihat tiga diantara kami mual. "Foto lu, momen bersejarah ni, hahaha.."

***

Usai meliput tari Saman 10.001 di Stadion 1000 Bukit, Gayo Lues, pada Minggu, 13 Agustus 2017, kami langsung mengirim berita ke media masing-masing. Setelah menonton motoGP di Blangkejeren, kami pun pulang ke Banda Aceh. Itu hampir pukul 20.00 WIB.

Lihat juga: Euforia Saman Gayo

"Sudah lagi.." ujar Fahzi mengingat petaka jalan pulang. Pegunungan benar-benar menjadi musuhnya.

Zuhri bermaksud meringankan beban Fahzi dengan menukar posisi duduk. Zuhri pindah ke belakang dan Fahzi ke tengah. Belakangan, Zuhri ikut merasakan penderitaan Fahzi yang duluan duduk di belakang.

"Ooe goyang kali di belakang. Aku juga bisa muntah kalau gini," kata Zuhri tidak lama setelah merasakan sensasi duduk di bangku belakang di jalan pegunungan.

Tim bunglon yang duluan pulang memberi gambaran pegunungan Gayo Lues malam itu. "Tim haw-haw (semut merah) kapan balek? Hati-hati di kawasan Ise-ise jarak pandang tadi dibawah 10 meter," tulis Bang Agus di grup WA.

Kami memasuki jalan pegunungan.

"Astagfirullah.." ucap Fahzi. Entah apa yang ia rasakan.

Khalis memutar lagu-lagu di handphonenya. Alunan musik Ride dari Twenty One Pilots sungguh terdengar nikmat malam itu. Seingat saya, Fahzi ikut mendendang beberapa bagian lagu itu.

Hujan turun deras. Posisi duduk sekarang (dari kiri ke kanan): Fahzi, saya, dan Bang Jol. Saya tidak bisa menemukan posisi yang pas untuk tidur. Mobil ini terlalu luas. Ketika jalanan belok, badan saya juga ikut terhempas. Setelah beberapa lama, saya masih belum menemukan posisi tidur yang pas. Tak sanggup pikir lagi, saya mual.

"Bang, mau muntah ni," kata Saya.

"Muntah, muntah.. ke pinggir." Bang Jol bantu saya menepikan mobil.

"Buka pintu, buka pintu." Fahzi memiringkan badan supaya saya lebih leluasa keluar mobil.

Huueekkk!! Nasi-nasi di Blangkejeren tadi tumpah banyak. Saya mencoba lagi hingga muntah sampai tiga kali. Hujan masih saja deras.

"Ambil air bentar," pinta saya. Saya menghabiskan sekitar enam gelas air untuk membersihkan tenggorokan.

"Aku juga mau muntah ni," susul Zuhri.

Fahzi yang kami jagokan untuk muntah kali ini tidak memenuhi harapan kami. Dia hanya pusing sepanjang perjalanan pulang. Garcias pegunungan Gayo Lues!!!

Abdul Hadi Firsawan

Post a Comment

Instagram