Cerita Hujan; Takdir

Ilustrasi: https://pixabay.com/p-1922079/?no_redirect
Di satu malam, 21 Maret 2017, sembari menunggu teman datang, saya online berdua dengan Aprizal di Kantin SMEA, Lampineung, Banda Aceh. Kami sudah di sana sejak sore, sedikit cepat satu waktu dari yang dijanjikan. Setelah magrib, akan ada pembahasan agak sakral.

"Mana, Wak? Aku di SMEA ni," saya menulis pesan kepada Zuhri melalui aplikasi WhatsApp tepat usai magrib. Aprizal lalu izin pulang, mandi, lalu balik lagi.

"Ok ok. Aku mandi dulu ya," balas Zuhri 19 menit kemudian. Saat itu hujan turun rintik.

Pukul 20.41 WIB Zuhri bertanya lagi. "Masih hujan di SMEA?"

"Nggak, Wak. Ke sini terus."

"Bentar, Wak. Tunggu reda hujan dulu ya."

40 menit kemudian Zuhri belum juga sampai ke Kantin SMEA. "Mana Wak?"

"Lampu merah," jawabnya dua menit kemudian.

Di SMEA, saya duduk bersama Rayful dan Fuadi. Keduanya senior saya di Sumberpost. Malam itu rencananya kami ingin merampungkan video ulang tahun Sumberpost. Sebelumnya kami sudah ambil beberapa stok gambar.

Saat Zuhri sampai, Aprizal sudah merampungkan video ulang tahun dan memilih sound track menarik di YouTube, seperti anjuran Zuhri.

Entah bagaimana awalnya, Zuhri tiba-tiba menawari saya pergi ke Takengon, wilayah pegunungan yang terletak di daerah tengah Provinsi Aceh. Jaraknya dari Banda Aceh sekitar delapan jam berkendara.

"Ni lagi ada pacuan kuda di Takengon. Ke sana kita?" ajak Zuhri. Saya tentu saja bersemangat mendengar ajakan Zuhri. Takengon itu daerah pegunungan asri, tata kotanya rapi, kebudayaan masyarakat masih terasa. Bagi fotografer maupun video, indah kalau bahasa singkatnya.

Zuhri awalnya diajak Syahril, wartawan Kompas TV Aceh. Lantas dia mengajak saya, dan saya nantinya mengajak Oviandi.

"Kalau iya pergi, Jumat ni kita bergerak."

"OK."

Setelah meminta izin Nyakmi di rumah, akhirnya saya pergi bersama Ovi dengan sepeda motornya dan Zuhri bersama Syahril. Kami berempat bertolak dari Banda Aceh Jumat sore. Langit saat itu mendung.

Entah apa kendala, saya dan Ovi berhenti di sebuah bengkel dekat masjid Seulimum untuk membetulkan sepeda motor Supra. Hampir sejam juga kami di bengkel itu. Bikin jengkel saja, mana mau hujan pula.

Zuhri kemudian menanyakan posisi kami lewat pesan singkat. Mereka sudah di Seulawah dan berteduh dari hujan deras. Saat kami bergerak dari bengkel, hujan mulai rintik.

Hujan turun deras di Kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar. Bersama belasan pengendara lain, kami berteduh di sebuah warung kopi. Pada sebuah papan penunjuk di Samping kanan warkop itu, terpampang tulisan: Harapan Udep.

Seperti tulisan itu saja, di warkop itu kami berteduh, makan, minum, dan itu semua gratis dibayar oleh seorang asal Pidie di hadapan kami. Di samping kanan, pasangan suami istri malah terlihat akur. Pada cuaca dingin, membuat siapapun jadi pingin nikah.

Agak reda, perjalanan dilanjutkan hingga masjid Saree. Kami bermagrib di sana. Tidak jauh dari situ, Zuhri dan Syahril di Horas Saree menunggu kami.

Selanjutnya perjalanan kami tempuh bersama, beriringan dua kendara.

Indah dan Mematikan
Kami berkendala berdasar situasi. Kalau rintik tetap jalan, deras baru berteduh. Begitu terus hingga Bireuen. Tapi menuju Bireuen (normalnya dari Saree 2-3 jam) saja, rasanya berat. Tentu kami harus berteduh jika hujan deras, sebab harus melindungi kamera dan laptop dalam tas.

Sejak Seulawah tadi, jaket sudah basah diterpa hujan. Sungguh dalam perjalanan itu, dingin malam seperti menusuk badan. Saya berkendara seraya menggigil. Ovi tertawa melihat itu. Memang biasanya saya enggan menahan gigil, biar saja badan gemetar.

Jalanan Saree gelap. Tidak banyak kendaraan lewat. Dan kami, terus membelah angin malam. Masjid di Padang Tiji menjadi saksi bisu persinggahan kami malam itu. Kami berteduh di sana untuk tuntaskan hajat sekaligus menunggu reda.

Agak rinai, kami lanjut jalan. Pada beberapa jalan lurus yang entah di daerah mana, kami beradu cepat dengan bus-bus malam. Berusaha tidak didahului mereka, dan akan mendahului jika berjumpa di depan kami. Berkendara di belakang mereka tidaklah menyenangkan sebab ban bus memercikkan banyak air.

Hingga pada satu waktu, ketika kami berusaha mendahului, hujan tiba-tiba deras. Kalian bisa bayangkan sendiri, bagaimana sakitnya melaju dengan cepat sambil diterpa hujan deras. Padahal, jarak dengan tempat singgah makan malam tinggal 2-3 kilometer lagi.

Hujan tandas habis memasuki Bireuen.

Di tengah kedinginan, alam ciptaan Tuhan menyuguhkan panorama menakjubkan. Malam hitam pekat. Bintang-bintang terang tak tertutup awan. Bintang langit itu bahkan terlihat hingga ke bawah, hingga tertutup gunung. Sungguh pelipur dalam penderitaan.

Bireuen malam itu terlihat seperti di North Island, Selandia Baru. Cuma kurang aurora saja. Ovi mengendarai sepeda motor dengan kecepatan sedang. Di kiri, refleksi bintang dan purnama terbentang sepanjang sawah.

Atmosfer malam itu menggoda saya untuk menghayal, melupakan dingin malam yang menusuk badan.

Tepat tengah malam, kami sampai di Bireuen, tepatnya di persimpangan ke arah Bener Meriah. Kami berhenti sejenak di sana. Syahril terlihat menelepon keluarganya di Bireuen. Beberapa kali telepon tak diangkat, kami putuskan lanjut perjalanan ke Takengon, Aceh Tengah.

Sebuah perjalanan yang kami segani, tapi terpaksa kami jalani karena tak ada pilihan lain. Bermalam di penginapan? Menghabiskan banyak waktu dan uang. Menginap di masjid? Itu pilihan terakhir. Tapi bukan masjid di Bireuen.

Saya mengeluarkan selembar sarung dan melilitnya di leher, bersiap-siap menghadapi jahanamnya suhu pegunungan Bener Meriah pada malam buta usai diterpa hujan.

Perjalanan dari Bireuen dilalui dengan lebih banyak diam. Kami sesekali berbicara untuk membunuh suntuk. Perumahan lambat laun jarang. Jalanan pun, makin lama makin menanjak. Suhu terasa makin rendah, pertanda masuk pegunungan.

Deru kendaraan kami menguar di pegunungan Bener Meriah. Sekarang badan bukan hanya menggigil, tapi sudah kebas. Kaki dan tangan paling terasa kebas. Tetiba saya pingin kencing. Kami berhenti di salah satu pesantren. Saat "si john" dalam kancut saya siram, seketika itu pula ia ikut menggigil.

Pemandangan gugus bintang dipadu siluet gunung membuat kami berdecak. Bintang-bintang itu belum berhenti membuat saya kagum.

"Vi, ambil foto milky way yok," ajak saya berhasrat.

"Nggak bang," jawabnya singkat. Selebihnya kami lalui malam dalam diam. Ah, ditambah sedikit sumpah serapah terhadap suhu bangsat ini.

Pukul 03.00 WIB, kami melaju di depan Zuhri dan Syahril. Sejurus kemudian, mereka tidak terlihat lagi. Maka kami putar balik sepeda motor mencari mereka. Ternyata mereka singgah di mushala Desa Blang Rongka, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah untuk beristirahat.

Syahril melentangkan badan di teras masjid. Zuhri memilih rebah di dalam. Ovi cuci muka dan masuk ke dalam masjid. Saya ambil wudhu' dan menuntaskan Isya. Air di tempat wudhu jernih dan meruah. Meski dingin, air itu membuat saya lebih segar.

Malam itu untuk pertama kali dalam hidup, kaki dan tangan ini kebas karena suhu. Malam itu saya bisa mengerti kenapa pendaki gunung atau penjelajah di tempat dingin bisa meninggal ditempat.

Kami berusaha tidur dengan mendekam. Suhu memang sedikit membaik. Tapi pakaian yang sudah basah tetap saja membuat badan tak nyaman.

Sejam kemudian, Syahril membangunkan kami dan mengajak melanjutkan perjalanan. Ovi sudah ogah bawa kendaraan. Kami saling tolak kunci. Mana ada orang yang mau bawa kendaraan dalam suhu jahanam itu.

Pemberhentian berikutnya di rumah makan Simpang Balek, Bener Meriah. Saya makan mie dan Subuh di situ. Lantas perjalanan dilanjutkan ke rumah Bang Acun, salah satu pendiri Sumberpost. Selama di Takengon, kami menginap di sana.

Matahari perlahan merekah dibalik pegunungan. Kabut nampak menutupi gunung dan kota. Kami berhenti untuk berfoto ria. Tapi saya tidak, ingin cepat-cepat sampai rumah Bang Acun dan istirahat.

Zuhri beberapa kali menipu kami, entah berapa kali dia bilang, "Rumah Bang Acun nggak jauh lagi, hampir sampai," ujarnya tanpa merincikan jarak tempuh menuju rumah dimaksud. Kami manut saja dan berharap cepat sampai.

“Sep pungo awak droe (Cukup gila kalian)” begitulah kira-kira Bang Acun menggambarkan perjalanan kami malam tadi.

Bang Acun menyambut kami dengan hangat dan sudah mempersiapkan satu kamar kosong sebagai peristirahatan. Yang terjadi kemudian ialah tidur hingga siang. Lalu pergi ambil gambar pacu kuda.

Melihat pacuan kuda membuat kami bersemangat. Ini pacuan kuda pertama yang saya saksikan. Syahril dan Zuhri ambil video untuk media mereka masing-masing. Saya memotret menggunakan lensa tele. Hasilnya biasa saja karena foto yang saya hasilkan agak monoton dan kurang mengeksplorasi angle.

Ketika melihat foto Ovi, ingin rasanya menutup laptop sudahi kurasi. Foto saya kalah jauh. Ada satu foto menarik yang dia ambil pakai teknik panning. Dia lalu menjelaskan perihal teknik foto panning kepada saya.

Besoknya, Minggu, saya praktikkan itu seharian dan abai dengan sudut pandang lain. Itu pertama kali saya praktek foto panning. Ternyata cukup membuat pening juga.

Hari itu, Muksalmina Blc juga memberi tips motret pacuan kuda melalui pesan WhatsApp. Sebuah pesan bernilai tentang shutter speed, timing, pola, pemanfaatan cahaya, dan lainnya. Tapi saya baru melihat pesan menjelang pacuan kuda berakhir.

Minggu pagi, kami bergerak pulang menuju Banda Aceh. Oh iya, kami juga makan bakso di Takengon. Terasa jahe dalam kuahnya, mungkin untuk menghangatkan badan. Saya lupa nama tempatnya, tapi itu bakso yang recommended. Harganya juga standar.

Perjalanan pulang terasa mengasyikkan. Kami singgah di Seladang Coffee yang punya tagline, Ngopi di Kebun Kopi.

Perjalanan pulang menjadi lebih panjang karena kami bawa santai. Kami melewati pegunungan Bener Meriah-Aceh Utara yang memanjakan mata dengan pesona alam dan hutannya. Dibeberapa bagian, pohon memang terang-terangan ditebang dipinggir jalan.  Ah, mengusik sejuknya alam saja.

Takdir
Sesungguhnya perjalanan pulang kami juga basah-basahan seperti pergi. Haaaahhhh.. saya harus menghela nafas mengingat yang satu ini.

Petaka itu dimulai sore menjelang malam. Sepertinya berawal dari Bireuen. Tetiba hujan deras. Selow lagi. Kami bermagrib disalah satu masjid setelah menembus rinai hujan. Basah lagi.

Dari situ, hujan tak pernah berhenti lama. Terus jatuh membasahi pakaian kami. Membuat kami berteduh, menatap sepi lalu lalang kendaraan, sembari menunggu pirang (reda). Hujan tak pernah benar-benar reda. Kami tak peduli lagi. Bagaimanapun, harus sampai ke rumah malam ini.

Buruknya lagi, ban sepeda motor Ovi bocor di Banda Aceh. Dia juga sudah enggan antar saya pulang karena berlawanan arah. Setelah memastikan ban itu bisa ditambal, saya pulang dengan motornya Zuhri.

***
Malam hari sebelum tiba di Banda Aceh, Syahril dan Zuhri sempat pucat saat Ovi membawa kami ke dalam hutan Tuhan. Dia mengambil jalur cepat ke Unigha lewat hutan untuk mengantar flash temannya. Awalnya kami masuk perumahan dengan jalan rumit. Ternyata tembus ke hutan dengan sungai kecil dipinggir. Perumahan sudah tidak ada. Hutan semua dengan jalanan tanah keras selebar satu mobil besar.

Makin ke dalam makin gelap. Dua orang di belakang sudah beberapa kali mengejar kami dan bertanya kemana Ovi membawa. Saya geleng kepala karena tak tahu. Ovi hanya menjawab singkat sambil terus balap. Di jalan itu, bahkan lembu pun tak ada.


Mereka takut, si Ovi kemasukan setan dan membawa kami ke rimba hutan untuk dimakannya.

Abdul Hadi Firsawan

Post a Comment

Instagram