Perempuan, Zuhri, dan Aprijal

Foto: Dok. Sumberpost

Kalian tahu apa salah satu instrumen perusak persahabatan pria? Perempuan.

Ya, manusia jenis kelamin satu ini punya potensi signifikan untuk menghancurkan hubungan persahabatan pria. Cara kerjanya simpel saja, dia masuk, memikat, dan mencuri. Untuk perihal mencuri, tolong diartikan secara luas karena perempuan sangat lihai dalam hal ini.

Atau kejadiannya begini, si pria jatuh hati pada waktu dan tempat yang salah kepada perempuan sehingga persahabatan jadi rumit. Itu kalau kalian bagian dari orang yang berprinsip perempuan tak pernah salah.

Yah, ini hanya penilaian prematur. Tapi mari kita berhipotesa. Saya akan menceritakan suatu kisah yang rumit gegara kehadiran perempuan. Ini cerita yang subjektif karena hanya memakai sudut pandang penulis. Segala klarifikasi, komentar, dan saran boleh ditulis di halaman blog Anda masing-masing.

Ketika saya seutuhnya sadar menjadi bagian dari Sumberpost, Aprijal sesungguhnya telah punya pacar. Perempuan itu mahasiswi Akademisi Keperawatan di Banda Aceh. Suatu ketika kami masih bersekret di rumah kumuh, saya pernah mendengar hubungan yang dijalin Aprijal dengan wanita itu sudah sekitar tiga-empat tahun. Lama juga dan tiada bentrokan berarti.

Disaat bersamaan, Zuhri juga punya pacar. Mereka sudah memikat cinta sejak SMA di Abdya. Berbeda dengan Aprijal, Zuhri dan perempuan itu sering bentrok. Kalian bisa mengartikan kata bentrok di sini dengan seluas-luasnya. Ini bukan hyperbola, tanya saja perihal itu sama bang Rayful, bang Dofa, bang Bibi, bang Fuadi, atau kak Desi. Mereka atasan yang menghuni rumah kumuh bersama kami.

Untuk menghindari kebencian perempuannya Zuhri kepada saya, ingin saya tegaskan langsung di paragraf ini, hubungan mereka bertahan hingga sekarang. Kini Zuhri yang sudah setahun tamat kuliah sedang mengumpulkan mahar untuk meminang perempuannya.

Saking seringnya mereka bentrok, kami sampai membuat rumus 5 menit untuk Zuhri. Itu gurauan yang hanya bisa ditanggapi dengan senyum olehnya. Sungguh, dia tak tahu harus balas apa jika rumus itu dipakai untuk mengulok. Kami sering menghabiskan waktu di sekret dari sore hingga malam. Aprijal begitu senang mengulok Zuhri. Beberapa kali waktu, mulai dari magrib hingga saya selesai salat, dia masih tertawa dan menjadikan rumus 5 menit sebagai bahan tertawaan.

Untuk kalian tahu, Aprijal berbadan tinggi besar. Dan dia mungkin gengsi kalah dari Zuhri -yang badannya seukuran saya- dalam hal apapun. Ini persoalan wibawa.

Tapi waktu menjawab semuanya dengan baik. Bagaimana dinamika itu berlangsung, akan saya ceritakan di sini. Oiya, sebagai penegasan saja, saya, Zuhri dan Aprijal kenal dekat. Begitu dekat sampai kadang tidurpun tak berjarak. Sebenarnya ada beberapa teman lagi, tapi saya belum ingin menceritakan tentang mereka. Zuhri, Aprijal, dan perempuan lebih menarik untuk diceritakan sebagai pengantar tidur malam ini.

Menjelang pindahnya sekret Sumberpost dari rumah kumuh ke ruang yang lebih bersih pada medio 2015, hubungan Aprijal dan si mahasiswi Akademi Keperawatan retak. Mereka sempat berselfie ria di bibir pantai Lampuuk sebelum benar-benar putus. Kencan mereka di Lampuuk itu sebenarnya upaya pelestarian hubungan. Palehnya, Aprijal senang bukan main menerima takdir itu.

Maka dari itu, saya, Zuhri, dan Aprijal menjalani hari-hari normal. Hingga suatu hari ketika kami menjadi pengurus inti di Sumberpost, seorang perempuan dari Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di UIN Ar-Raniry datang memikat hati Aprijal. Saya tidak tahu bagaimana perempuan itu bisa datang. Tanda-tanda kehadirannya sama sekali tidak saya rasakan.

Tetiba, Aprijal dan dia sudah dekat saja. Itu perempuan yang manis. Badannya mungkin selebar bentangan kertas A3 dengan tinggi hampir sama dengan saya. Hubungan mereka dibangun pertahap, mulai dari sms-an, ketemuan, antar-jemput, hingga pacaran.

Permasalahan dimulai dari sini. Entah karena perempuan itu manis, Aprijal tiba-tiba saja jadi pria manja. Mereka sering berduaan di sekretariat, dan bermanjaan dengan macam raga. Contoh, perempuan itu bersandar disudut dinding, Aprijal menatapnya dari sandaran dinding lainnya. Perempuan itu tersipu, menundukkan wajah, dan Aprijal datang pura-pura membetulkan jilbab yang sudah rapi. Dan asunya lagi, dia lakuin itu didepan saya.

Oh tuhan, saya betul-betul tidak tahu harus bersikap seperti apa. Pasangan itu bermesraan tepat di depan saya dalam ruangan 2x2. Saya hanya pura-pura bodoh dengan menatap laptop dan mengutuk perbuatan mengiris hati itu. Kesal, tapi tidak tahu harus bagaimana.

Contoh lainnya, perempuan itu sedang tidur di lantai, dan... kalian bayangkan saja sendiri.

Satu hal yang saya salut pada Aprijal. Dia tahu timing yang tepat untuk bertindak, membuat wajah perempuan itu merah tersipu. Pada akhirnya, Aprijal menang karena dapat membuat perempuan ini ke sekret meski tak diundang.

Kemesraan Aprijal dan perempuan dari Jurusan PBI itu justru membuat Zuhri geli-geli basah. Dia kena tegur oleh anggota Dewan Mahasiswa universitas dan segan menegur Aprijal karena teman dekat. Sebagai pimpinan umum berwibawa, Zuhri meminta Aprijal untuk tidak bermesraan di sekret. Alasannya tidak enak dilihat orang, apalagi kami mahasiswa di kampus Islam.

Aprijal menyanggupi permintaan Zuhri. Tapi aksi membenarkan jilbab yang sudah rapi itu masih dilakukan. Itu kode kemesraan yang juga tidak dibenarkan dilakukan di dalam sekret.

"Jal, jangan lagi berduaan di sekret dengan cewek. Aku udah beberapa kali kena tegur. Gak enak sama UKM lain," ujar Zuhri suatu siang. Sebelum itu dia menggerutu kepada saya. Saya yang kerap dirugikan dari aksi mesra mereka langsung memanaskan Zuhri.

"Enggak hai. Kami cuma duduk-duduk aja di sini. Orang tu aja baper," Aprijal berkilah.

Lama-kelamaan, permusuhan Zuhri dan Aprijal semakin jelas. Saya mendukung Zuhri, tapi juga masih ngomong dengan Aprijal karena tidak tahu cara abaikan orang lain. Mereka berdua sendiri sudah jarang ngomong, bahkan saat kami duduk bertiga di sekret.

Suatu hari, Zuhri mengajak saya bersekongkol. "Di, kalau Aprijal dengan cewek tu berdua di sekret. Kita keluar. Biar berdua orang tu di sini. Nanti ada yang tegur orang tu."

Saya setuju dan mulai pergi saat mereka tiba di siang hari ke sekret. Aprijal menyadari kejanggalan tingkal laku kami. Jadilah kami membentuk kelompok sendiri. Suatu hari, saya minta Aprijal mengambil tas saya dalam sekret dan memberinya lewat jendela. Aprijal hampir melempar tas saya. Saya tersentak.

"Jangan kasar kalilah bang. Cuma kasih pun," pacar Aprijal membela saya. Saya tersenyum.

"Nggak ada ee, cuma bercanda," Aprijal juga senyum. Tentu saja senyum kami kontradiksi.

Saat kami sedang bergurau ria di pelataran gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa UIN Ar-Raniry, Aprijal keluar dari sekret dan hendak pulang. Kami menyapa seadanya, dan ketika dia baru menjauh, Ghasyia Navis mengungkapkan empatinya pada Aprijal."Seperti gajah dipisah dari kawanan," ujarnya mengumpamakan.

Saya yang mendengar perumpamaan itu langsung mencatat di handphone karena mengira itu kalimat yang bagus untuk menggambarkan kisah Aprijal. Saya mencatat itu pada 27 Januari 2016.

Setelah itu, hubungan kami dan Aprijal berangsur membaik. Sebaliknya, terjadi sesuatu pada Aprijal dan pasangannya.

Masih pada awal tahun 2016, Sumberpost akan membuat Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD) pada masa Zuhri sebagai pimum. Zuhri pernah galau hingga titik terendah pada masa ini.

Zuhri boleh saja melarang Aprijal bermesraan di sekret. Tapi Zuhri sendiri kewalahan menghadapi pilihan rumit. Ada masa dia harus memilih: perempuan atau organisasi. Perempuan yang akan ulang tahun atau persiapan Sumberpost untuk PJTD.

Untuk kalian tahu, kami membuat empat rapat mempersiapkan PJTD. Dan kalian harus tahu, dua minggu sebelum tanggal main, persiapan masih minim. Saya sudah tak tenang. Maka saya mengajak Aprijal dan Zuhri untuk duduk rapat di sekret. Di rapat sebelumnya Zuhri memberi sinyal untuk menunda acara. Saya keras menolak karena sebelumnya kami sudah menunda sekali. Mau dibawa kemana wibawa pengurus jika urus PJTD saja tak becus.

Sebelum rapat ketiga itu, saya sudah print surat undangan dan izin pemakaian tempat untuk disebar ke instansi dan UKM lain. Ada tiga instansi -selain Persma- diluar UIN Ar-Raniry yang kami undang.

"Kita gak bisa tunda lagi ni. Aku kalau kita tunda yang kedua ini, gak mau urus lagi PJTD. Karena malu sama anak baru," ujar saya mengedepankan ego dan gengsi.

"Kita gak punya waktu untuk siapin acara. Kita tunda sebulan, biar aku yang kerja. Kalian bantu pas acara aja," Zuhri tak mau kalah.

Saya dan Aprijal menyanksikan ucapan Zuhri. Tiada yang terealisasi jika kami tidak melakukan bersama. Zuhri kemudian menyebutkan persiapan yang belum kami siapkan untuk PJTD. Sebetulnya, memang belum ada yang disiapkan. Sementara anggota baru Sumberpost sedang bersiap ikut PJTD. Kami bahkan memanaskan mereka untuk tidak masuk kuliah dan ikut PJTD.

"Gak susah sebenarnya. Kita buat simpel aja," kata Aprijal yang diikuti penjelasan.

Setelah berdebat setengah jam, Zuhri tetap tak mau PJTD digelar. Sedangkan ia harus segera pergi bersama pacarnya ke rumah sakit, katanya saudara pacarnya sakit. Dia meninggalkan kami dengan permasalahan yang belum tuntas.

"Yaudah, terserah kalian aja. Aku ikutin aja." kata itu akhirnya keluar dari mulut Zuhri sebelum pergi. Saya dan Aprijal senyum tanda kemenangan. Kami memang sudah sepakat hanya butuh persetujuan Zuhri, karena dalam rencana, kami tidak butuh dia untuk mempersiapkan acara.

"Tapi wak, tolong antar undangan ini bentar," pinta saya sebelum dia pergi.

"Gak bisa wak. Aku mau antar cewek aku ke rumah sakit," ujar Zuhri dengan muka masam.

"Rumah sakit mana? Kan bisa singgah bentar ke kantor AJI dengan PWI."

"Gak sempatlah. Gak mungkin aku bawa cewek aku ke sana."

Aprijal juga mendesak Zuhri antar surat. Dengan nada marah, kesal, dan cepat, dia menyambar dua surat di tangan saya. "Yaudah. Sini ku bawa semua. Mana lagi?" tanyanya dengan bahasa Aceh.

"Dua aja. Jangan marahlah, kan cuma singgah sebentar."

Zuhri tiada menjawab dan pergi dengan amarah. Perempuan yang dia cinta telah menunggu dijemputan.

Saya merasa tidak enak pada Zuhri meski tidak merasa bersalah. Kami menganggap sikap Zuhri waktu itu kekanakan.

Aprijal kemudian pergi mengambil helmnya di sekret rumah kumuh. Saya tinggal sendiri di sekret PKM. Tidak lama, Aprijal kembali dengan wajah berseri.

"Di, ke tahu apa?"

"Kenapa?" saya ikut berseri.

"Zuhri lagi jalan ma ceweknya. Aku ketemu ma dia di sekret. Ku piker kenapa ada ceweknya. Rupanya ceweknya ulang tahun hari ini."

Aaassssuuuuuuu... Saya pikir drama marahan tadi tidak perlu jika dia mau pacaran. Ya pergi saja, kan cuma sehari.

"Bakbudik.. tok karena cewek," saya tidak tahu jawab apa lagi.

"Dia udah gak enak sama ke (baca= kamu). Dia bilang, 'jangan bilang-bilang Hadi ya, cewek aku ulang tahun hari ni'."

Kalimat terakhir itu sangat.. Ahh.. Asu.

Abdul Hadi Firsawan

Post a Comment

Instagram